
Tengah malam, Fani terbangun dari tidurnya saat ia mendengar suara bising dari luar kamar ini. Fani pun menajamkan telinganya dia pasti tak salah dengar, karena suara tertawa juga bicara itu sangat jelas terdengar.
Fani sedikit bisa bernafas lega karena rupanya Sean tak mengikat kaki nya lagi.
Fani pun memilih berjalan dengan tertatih ke kamar mandi, ia ingin membersihkan tubuhnya yang tercium aroma parfum Sean begitu menempel di tubuhnya.
Di dalam kamar mandi, sambil menggosok setiap inci tubuhnya ingin menghilangkan bekas kemerahan yang Sean lakukan di tubuhnya Fani memikirkan cara, dia harus secepatnya Keluar dari tempat ini, dan sebisa mungkin dia harus pergi sejauh mungkin dari kota ini.
''Aku harus bisa keluar dari tempat terkutuk ini, Aku akan membawa Mama pergi dari kota kejam ini. Dari orang-orang yang tak punya perasaan itu.'' ucap Fani sudah bulat dengan keputusannya.
Cepat-cepat Fani membersihkan tubuhnya, lalu dirinya pun langsung memakai baju milik Sean karena di sini tak ada baju perempuan ataupun bajunya.
Setelah selesai memakai bajunya Fani duduk di pinggir ranjang ia memikirkan cara agar bisa keluar.
Fani melihat pada jendela balkon. Ia lihat ke bawah cukup ngeri juga, karena ini apartemen sangat tinggi.
Mungkin bila Fani terjun ke bawah semua akan selesai, tapi bayangan sang Mama membuat Fani mengurungkan niatnya, sudahlah ia berbuat dosa dengan perbuatan Pria itu. Lalu dia bunuh diri akan menambah dosa nya.
Tidak, Fani tak bisa menanggung dosa lebih banyak.
Suara orang-orang di luar sana semakin terdengar saja, bahkan kini Fani mendengar dengan jelas sepertinya di luar itu ada seorang wanita juga .
Sedikit penasaran, Fani pun berjalan dan ia membuka pintu secara pelan
Mata Fani langsung membola ia tak menyangka, Empat Pria itu. Yang selalu di banggakan oleh para gadis-gadis, sekarang tengah berbuat dan melakukan sesuatu yang membuat Fani tak percaya.
''Ha! Ya Tuhan mereka '' ucap Fani pelan sambil menutup mulutnya tak percaya.
''Ci, kamu jangan lagi membanggakan mereka itu, mereka orang yang tidak benar.'' Fani berbicara sendiri dan seakan Cici ada bersamanya.
Empat pria itu tengah meminum anggur merah dari botol langsung dan juga ada beberapa wanita yang menemani empat Pria tadi, yang sebelumnya Fani kira teman Sean bukan seorang yang seperti itu..
''Bagaimana ini, aku harus kabur lewat mana?'' Fani bingung tapi dia tak ingin berlama-lama berada di neraka ini.
''Se, cewek itu masih di sini?'' suara seseorang terdengar oleh Fani dan menanyakan nya mungkin. Fani terus mendengarkan dari dalam kamar.
''Ya dia masih di sini.'' jawab Sean
''Kenapa Lo masih sekap tuh anak Se, biarkan dia pulang.'' itu suara Doni
''Terserah gue , ngapain Lo ikut repot sampai nyuruh buat pulangin dia.''
''Bukan begitu Se, kasihan dia tuh cewek baik-baik Se, bukan kaya wanita di hadapan kita.'' sahut Yuda
''Ihhh, bang. Emang kita cewek yang bagaimana, kita ini cewek yang baik-baik juga kok'' Si wanita penghibur bisa-bisanya ikut nimbrung
''Iya benar si Abang mah, suka memojokkan kita hahaaa'' tambah wanita panggilan satu lagi.
''Menurut gue semua sama saja, hanya ingin uang dan uang.'' entah mengapa Sean berpikir seperti itu.
''Lo gak berbuat sesuatu yang kotor kan Se?'' tanya Ryan
''Menurut Lo ? gue Ngapain sekap dia.'' kekeh Sean
__ADS_1
''Astaga Se, kenapa Lo jadi gini. Sebelumnya Lo gak pernah maksa cewek selain tuh cewek yang goda Lo duluan,.'' Yuda merasa heran.
''Karena gue gak suka di tolak, apalagi oleh wanita miskin itu.''
Fani kembali merasa sakit saat Sean menyebutnya wanita miskin. Bukan apa-apa karena sebelumnya Sean tidak menyebutnya Seperti itu tapi sekarang sudah berkali-kali pria ini mengatainya anak kampung.
Ya, memang itu benar adanya. Hanya saja Fani sedikit tak berharap bisa mendengar dari mulut Sean.
''Kenapa kau se marah itu padaku'' berbicara pelan.
Semakin malam, Semakin mereka mabuk dengan sangat parah.
Fani sedikit punya ide, dan ia berdoa semoga dengan ini dia bisa keluar dari tempat ini.
Sampai akhirnya, semua terasa sunyi dan Fani pikir mungkin mereka sudah terkapar maka Fani pun dengan sangat pelan membuka pintu kamar ini. Ia lebih dulu menengokan kepalanya keluar,
Senyum Fani pun terbit dan ia sedikit lega karena mereka semua sudah dalam keadaan mabuk dan terkapar.
Sambil berjalan mengendap-endap Fani harus bisa pergi dan harus melewati badan orang-orang ini.
Jantung Fani sudah berdegup kencang, dia sangat takut ketahuan akan kabur.
''Ya Tuhan tolong lah aku!'' doa Fani.
Namun sayang karena kecerobohan nya, saat tak hati-hati akibat melihat ke belakang, Fani justru menginjak kaki seseorang.
''Euhhhh, siapa itu?'' suara seseorang yang Fani tak harapkan justru terbangun.
Sean langsung bangun dan membuka mata dengan sangat lebar, saat ia Sepertinya melihat seorang wanita sedang berdiri menatapnya juga.
''Kau.'' teriak Sean begitu sadar itu Fani
Tak membuang waktu, Fani pun langsung berlari dengan sangat cepat. Jantungnya sudah semakin tak beraturan berdegup begitu kencang.
''Aku harus bisa pergi.'' Fani semakin berlari
''Hei kau, jangan coba-coba kabur kamu Fani, gue gak akan biarkan Lo pergi. '' sambil Sempoyongan Sean mengejar Fani
Dengan tangan gemetaran Fani membuka kunci pintu ''Sial, ayolah. Bisa dong ayo.'' Fani tak bisa memasukkan kunci
Sesekali ia melihat kebelakang Sean sudah mau mendekat. ''Please, ayo dong ke buka dong!'' Fani mulai ketakutan
''Heh wanita sialan jangan lari..''
Sesaat pintu sudah mau terbuka, sayang Sean menangkap tubuh Fani, dan kembali menutup pintu itu dengan kasar.
''Ahhh!'' Fani kaget dan takut
''Mau lari kemana kau wanita sialan?'' mencengkeram bahu Fani
''Lepaskan, biarkan aku pergi.'' teriak Fani memberontak
''Jangan harap gue bisa lepasin Lo dengan mudah Fani, Lo itu harus gue hukum''
__ADS_1
''Gak, kamu tidak punya hak menyekap kundi sini seperti ini.'' balas Fani
''Hahaaa, masa bodoh dengan hak yang kau sebutkan. Selagi itu benar menurut Sean, why not !''
''Kau memang gila.''
''Berani sekali kau mengatai ku, wanita seperti mu ini memang harus di hukum. Agar kau memintaa ampun dan bersimpuh di kaki ku.'' Sean menyeret paksa tubuh Fani ke dalam kamar lagi.
''Tidak , jangan.. Aku tidak mau, aku ingin pulang '' teriak Fani menahan tubuhnya agar tak bisa di seret oleh Sean namun sayang tenaganya tak bisa sebanding dengan tenaga Sean.
Fani di dalam kamar, tak mau pasrah lagi berkali-kali Fani berontak, menggigit Sean bahkan menendang ************ Sean. Namun Sean tak membiarkan Fani pergi dan tak terkalahkan..
Karena kesal juga merassa kembali sakit hati atas penolakan Fani, Sean kalap ia mempunyai rencana yang ingin lebih menghancurkan wanita itu.
Sean kembali merantai kaki Fani. Lalu dirinya keluar kamar dan mengunci pintu.
Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka Sean masuk. Namun rupanya tak sendiri, Sean datang bersama Tiga temannya.
Fani menatap mereka semua dengan penuh tanya, apalagi yang akan dilakukan Pria tak waras itu.
''Cepat, layani gue '' ucapnya tepat di depan wajah Fani
''Lepaskan, tolong aku mau pergi dari sini.'' bukannya menjawab tapi Fani berteriak dan meminta memohon pada Tiga pria itu berharap ada yang mau menolongnya.
''Kurang ajar, jadi Lo nolak gue lagi hah?''
''Lepaskan aku, ku mohon...''
Tak punya pilihan lain, Sean pun menatap tiga temannya lalu memberikan perintah.
''Doni..... Ryan... Yuda....
Cepat kalian bertiga pakai wanita ini, habisi dia tanpa sisa! Dan nikmati sesuka kalian.!'' begitu Sean memerintahkan paada tiga temannya.
Fani menggeleng ''Tidak,!''
''Jangan...''
''Jangan, ku mohon jangan!'' menatap memohon
Sampai akhirnya tubuh Fani di gilir oleh Tiga pria itu Sean melihat dengan tersenyum puas.
''Jangan.....!''
''Tolong......!''
''Lepaskan aku...!''
''Tidak....!''
''Hikssss, Apa salahku Kak ?''
''Salah mu, karena kau menolak ku Fani. Kau salah karena selalu menolak ku.!'' tatapannya sangat menusuk.
__ADS_1