Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Apalagi rencana Sean,


__ADS_3

Maka hari besoknya Dokter Raffi datang bersama Rasya ke rumah besar itu lagi.


Sampailah mereka di rumah itu lalu keduanya turun dari mobil dan di sambut oleh Bibi.


''Eh Den ini temannya Non Fani ya?'' bibi memastikan


''Iya benar bi, apa Tante Rina ada di rumah ?'' tanya balik Rasya pada bibi


''Oh ada Den, mari masuk biar bibi panggilkan dulu ya.'' ujar bibi menyilahkan Rasya dan satu Pria lagi yang baru bibi lihat suruh menunggu sementara bibi pun melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah untuk memanggil Mama Rina.


''Nyonya permisi, itu di luar ada temannya Non Fani yang kemarin dan sama satu pria lagi.'' ucap bibi memberitahu dengan jelas.


''Di mana bi?'' tanya Mama Rina beranjak dari sisi ranjang Fani


''Ada di depan saya suruh menunggu.''


''Oh baik bi, terima kasih ya.''


''Sama-sama Nyonya.'' bibi pun berlalu ke halaman depan lagi.


Mama Rina berjalan menuju depan dan di sana sudah ada Rasya bersama satu pria lagi yang sepertinya lebih tua dari Rasya begitu perkiraan Mama Rina, mungkin juga itu saudaranya yang bergelar seorang dokter tebak Mama Rina.


''Nak Rasya.'' panggilnya segera

__ADS_1


Rasya menoleh dan langsung berdiri sambil tersenyum ''Tan ini Rasya datang bersama kakak Rasya.'' beritahukan nya


''Oh iya terimakasih sudah mau datang.'' Mama Rina dan Dokter Raffi bersalaman


''Sama-sama Nyonya memang ini sudah kewajiban saya.'' sahut dokter Raffi ramah seperti Rasya


''Boleh saya bertanya dulu bagaimana awal kejadian maaf sebelumnya bila saya menanyakan hal ini.'' lanjut dokter Raffi lagi.


Sebelum menjawab Mama Rina membuang nafas panjang menetralkan rasa hancur di hatinya lagi.


Dokter Raffi tahu dengan reaksi nyonya ini sepertinya agak sulit untuk mengutarakan yang akan di ucapkan.


dokter Raffi pun beralih duduk menjadi di dekatnya Mama Rina, mengusap pundak untuk menenangkan. ''Tenang Nyonya, Anda bisa bicara pelan-pelan saja. Saya tidak akan memaksa bila Anda tidak mampu mengatakan nya.'' begitu lembut tapi tegas dokter Raffi berbicara


Akhirnya setelah penuh tenaga dan kekuatan Mama Rina mengatakan semuanya dan puncaknya saat di nyatakan Fani hamil , Fani semakin drop dan mentalnya rusak sehingga Fani mengidap gangguan kejiwaan.


''Boleh saya melihat sekarang?'' ijin dokter Raffi pada Mama Rina


Mama Rina pun segera mengangguk membolehkan ''Silahkan Dok.'' ujar Mama Rina


Semua pun berjalan masuk ke kamar Fani dengan Mama Rina berada di depan.


Mama Rina membuka pintu kamar sang putri saat di lihat Fani tengah memainkan tangannya sendiri sambil tertawa dan ngobrol seorang diri.

__ADS_1


''Iya iya, itu di sana. Jangan hahaaa, tidak!.hahaaa jangan ... '' itu yang keluar dari mulut wanita yang tak berdosa ini.


Rasya tak mampu melihat lebih lanjut kondisi sang sahabat Rasya memilih menunggu di luar bukan dia jijik atau bagaimana tidak, tapi Rasya sudah tidak sanggup menahan sesak di dada begitu melihat Fani yang sekarang seperti ini.


Padahal bulan kemarin mereka masih sama-sama masih bisa mengobrol dan bercanda bersama, tapi lihat hari ini bahkan Fani tak mengenalinya. Sungguh itu membuat Rasya sangat sakit hati dan berjanji akan menyembuhkan Fani lagi seperti sebelumnya.


Dokter Raffi mendekati Fani.


''Permisi Nona, saya bisa bicara dengan Anda.'' ucap dokter Raffi begitu lembut kepada Fani seakan seperti takut menyakiti.


Fani langsung terlonjak kaget matanya semakin lebar terbuka sambil menatap pada dokter Raffi. ''Tidak... Pergi.... jangan mendekat, lepaskan!'' lagi Fani se histeris itu lagi


''Ok, tenanglah Nona saya bukan orang jahat.'' kata dokter Raffi lagi


Tapi yang di telinga Fani itu seperti 'Saya akan membuat mu puas, dan saya akan membuat mu tersiksa, hahaha!' begitu bayangan di telinga Fani


Fani menggeleng badannya bergetar dia ketakutan.


Dokter Raffi pun harus mengatakan satu hal dengan sangat terpaksa dan berat hati di haruskan Fani secepatnya di bawa ke rumah sakit jiwa, karena ini bukan penyakit yang mudah. Harus di tangani dengan beberapa metode kesehatan dan tes lainnya.


''Tidak, saya tidak mau Fani di bawa Ke rumah sakit seperti itu. Anak ku tidak gila..''


Dokter Raffi takut ini semua berimbas pada Mama Rina juga yang takutnya mengalami gangguan yang sama.

__ADS_1


Terpaksa keduanya di berikan obat bius penenang tentu dengan dosis yang berbeda.


Sementara itu di dalam jeruji besi, Sean meminta pada polisi untuk meminjamkan nya telpon, karena Sean ingin menghubungi sang Mami. Entah untuk apa?


__ADS_2