Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Chapter 41


__ADS_3

''Ci. Kamu pulang duluan saja, aku harus menemui seseorang tadi.'' ucap Fani kepada Cici.


''Mau aku temenin gak?'' Cici menawarkan


Fani pun menggeleng ''Gak usah biar aku sendiri saja'' jawabnya.


''Ya baiklah, tapi kamu hati-hati ya!''


''Ya Ci, kamu juga!''


''Ok, aku pergi ya!'' Cici berpamitan.


''hmm.''


setelah kepergian Cici kini Fani pun mencari wanita yang bernama Sarah tadi yang kemungkinan itu adalah Mami nya Sean.


Karena siapa lagi jika bukan dia.


Fani berjalan mencari dan akhirnya Fani Sepertinya sudah melihat di sana depan mobil mewah ada seorang wanita berpakaian elegan walaupun umurnya tak muda lagi. Tapi penampilannya melebihi Fani yang masih seorang pelajar.


''Permisi Nyonya Anda memanggilku?'' sapa Fani dengan suara lembut bagaimana pun perlakuan wanita ini tapi di depan umum Fani tak mau membuat keributan.


Wanita yang masih cantik di umurnya Sekarang itu pun menoleh pada Fani sambil membuka kaca mata yang bertengger di atas hidungnya yang runcing..


''Ya saya memanggil mu.'' jawabnya seperti biasa dengan suara yang arogan.


''Maaf nyonya ada apa sampai datang ke kampus saya?'' tanya Fani

__ADS_1


''Langsung saja pada intinya. Saya tegaskan saya tidak suka dengan kedekatan kamu dengan anak saya. Jadi dengan kelapangan hati kamu jauhilah Sean.. Karena bagi saya kau membawa pengaruh buruk untuknya!'' Mami Sarah meminta Fani menjauhi Sean dengan perkataan yang lagi-lagi menusuk dan tuduhan yang sangat menyakiti hati Fani.


Fani membuang nafas panjang juga Fani sekuat tenaga menahan Air mata yang ingin keluar Fani tak mau terlihat lemah di hadapan wanita arogan ini.


''Baiklah Nyonya saya mengerti maksud Anda. Tapi di sini saya juga tegaskan saya tidak pernah menggoda ataupun membuat Kak Sean berbuat buruk pada Anda ibunya. Saya tidak seperti itu--''


''Ya ya, sudah cukup pokoknya intinya saya ingin kau pergi dari kehidupan anak saya. Kau harusnya sadar kau itu tidak selevel dengan putra saya yang seorang pewaris. Jauhi Sean itu saja bisa kan?''


Fani langsung mengangguk mantap.. ''Nyonya tenang saja. Saya akan pergi dari anak Nyonya saat ini juga. Tapi bila saya sudah pergi jauh jangan lagi datang dan menuduh saya seperti tadi. Saya merasa Anda keterlaluan. Dan bila perlu beritahu pada anak Anda juga jangan mendekati saya lagi. Walau kami sekarang saudara tiri..'' Fani tak kalah tegasnya kini ia berbicara. Lalu setelah itu Fani melengos pergi dari hadapan Mami Sarah.


Sambil berjalan air mata yang sedari tadi ia tahan itu pun jatuh juga membasahi pipi nya.


''Hikss hiks.. kenapa harus aku yang di salahkan dan di tuduhkan..''


''Aku, a-aku tak seperti itu ''


''Aku tak pernah melakukan hal hina seperti itu ''


''Walaupun aku sadar aku ini orang tak punya tapi, aku tidak mungkin melakukan hal sehina ini.''


''Hiksss, kenapa wanita itu sangat tega. Padahal dirinya juga seorang wanita sama sepertiku hikkss'' Fani mencurahkan isi hatinya dengan menangis .


Fani sudah sampai di motornya ia lebih dulu membuang nafas panjang untuk menghalau rasa sesak di dada.


Fani mengambil minum dan ia meneguknya Fani butuh ketenangan sekarang ini..


Tiba-tiba ia teringat dengan Rasya teman nya. Fani pun mengirimkan pesan singkat yang dimana dia mengatakan ingin bertemu di suatu tempat yang dulunya sering mereka kunjungi saat masih sekolah.

__ADS_1


Setelah Rasya membalas dan mengiyakan ajakan Fani. Maka Fani pun langsung menjalankan motornya menuju tempat tadi dia sebutkan..


Kini di sinilah Fani sudah sampai lebih dulu menunggu kedatangan Rasya..


Di jalan Rasya sudah menebak sepertinya Fani sedang ada masalah karena dulu pun seperti ini Fani akan mencurahkan masalahnya di tempat itu..


Seseorang menepuk pundak Fani.


Fani terjingkat kaget tapi setelah di lihat bibirnya langsung melengkung sempurna.


Fani segera beranjak.


mereka pun saling berhadapan..


''Ada apa hm?'' tanya orang itu memegang kedua pundak Fani dengan suara lembut


Fani menggeleng ''Tidak ada apa-apa kok Sya'' jawabnya


''jangan berbohong aku tahu kamu Fan, katakan ada apa? kau tak bisa membohongiku.'' tanya Rasya kembali


''Sungguh Aya gak ada apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengan mu dan mengenang masa-masa kita di tempat ini seperti dulu.'' kata Fani lagi dengan menampilkan wajah yang meyakinkan Rasya.


Rasya tak mau membahas lagi atau bertanya lebih lanjut lagi pada Fani, karena kalau sudah waktunya Fani pun akan bercerita padanya. Rasya membawa tangan Fani dan meminta Fani untuk duduk.


''Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, tapi bila kau belum siap menjelaskan sekarang tak apa. Tapi bila kau tak sanggup lagi menyelesaikan masalahmu maka beritahu aku jangan kau pendam sendiri.'' ucap Rasya mengusap kepala Fani..


Fani hanya membalas dengan senyuman. Dan mati-matian Fani harus menahan air mata yang kembali ingin jatuh.

__ADS_1


__ADS_2