
Kini Sean Putra Irawan, pria yang menginjak usia 25 tahun ini pun sudah bisa bernafas dengan lega bahkan sedikit ada ketenangan dalam dirinya. Saat ia meminta maaf secara langsung kepada Fani, korban yang ia sakiti hingga membekas.
Bulan karena ingin terbebas dari kesalahannya, namun Sean sudah mantap ingin melanjutkan hidupnya bersama wanita yang ia yakini itu adalah jodohnya yang sesungguhnya.
Dan untuk karena itu, Sean sangat ingin beban dalam dirinya sedikit berkurang. Walaupun ia sadar dosa nya ini sangat terlalu banyak, tapi tidak ada salahnya bukan bila dia berniat berubah dan ingin menjadi orang yang baik untuk kedepannya.
Sean pun pulang, dengan perasaan juga hati yang lega pastinya dan senang kini tinggal lah dia mengutarakan isi hatinya pada Mila, si perawat sederhana itu.
Apakah pria itu sudah mantap benar-benar melabuhkan hatinya pada Mila ? Jawabannya benar, Sean sangat-sangat yakin akan perasaannya.
Kenapa tidak ? Mila adalah wanita yang baik, penyayang, juga begitu sabar menghadapi sikap Sean selama ini. Bahkan dulu ada kejadian dimana Sean hampir saja kalap dan memanfaatkan Mila, tapi wanita itu tetap kembali bekerja pada Sean, itu sudah menjabarkan kalau Mila wanita tangguh dan itu yang menjadi perhatian nya Sean pada Mila.
Ting
Bunyi ponsel Sean rupanya itu dari anak buahnya yang berhasil membawa Mila Kembali.
[Bos, ini kami sudah di Jakarta, kita bawa langsung nona ke tempat Bos ?] tanya anak buahnya
[Iya lah Lo bawa langsung dia ke rumah, memang harus kemana lagi hah ?] balas Sean sangat kesal dengan pertanyaan ajudannya ini
[Oh ok Bos, kami kira Bos ingin mengajak ke suatu tempat gitu, misalnya ke tempat spesial.] goda anak buah
'Oh iya ada benarnya juga dia, tapi ada besok ini kan, aku gak mau Mila ku sakit karena habis perjalanan jauh.' batin Sean ada membenarkan perkataan ajudannya ini
[Sudah sekarang cepat bawa dia pulang, calon Istriku jangan sampai kelelahan karena kalian terlalu lama membawanya pulang.] balas Sean
[Iya iya baiklah Bos, tidak akan lecet sedikitpun.] balas anak buah
'Sialan Lo bilang lecet, awas aja kalau berani.' batin Sean lagi dengan senyum-senyum membayangkan wajah Mila mungkin benar kelelahan, bahkan belum ada satu hari di rumahnya kini sudah harus bepergian lagi, Sean jadi terkekeh sendiri.
''Eoi, Lo ngapain hm senyum-senyum sendiri Lo, sehat kan?'' tanya Doni mengagetkan Sean dan kini Pria itu mendelik pada Doni
Mereka berempat berada di satu mobil yang sama karena tadi pergi juga memang memakai satu mobil.
''Apaan sih Lo, ya gue sehat lah pertanyaan sialan apa itu?'' balas Sean
__ADS_1
''Ah tapi kalau Lo sehat, kenapa Lo tadi senyum-senyum sendiri kaya OBG.'' kekeh Doni
''Apa itu OBG jangan so singkat.'' ucap Sean
''Serius Lo mau tahu nih?'' tanya Doni sementara yang lain pada mendengarkan saja
''Hm apa?'' ucap Sean
''Orang Baru Gila, hahaaa.'' jelas Doni sambil ngakak
''Apa sialan Lo.'' pekik Sean baru ngeh mungkin iya itu singkatannya OBG
''Ah mungkin si Sean, bukan gila beneran.'' sahut Yuda
''Lalu gila apa Yud?'' timpal Ryan
''Kayaknya dia gila karena cinta deh Bro.'' ejek Yuda pada Sean
''Oh ya, beneran Se?'' tanya Ryan menata Sean kini semuanya memintanya jawaban pria itu
Tapi Sean justru menampilkan wajah datar dan mengangkat bahu, seolah dia enggan mengatakan jawabannya. ''Biar waktu yang menjawab.'' ucap Sean
''Biar kalian semakin penasaran, hahaa.'' kini Sean yang tertawa lepas melihat wajah teman-temannya yang sudah serius menunggu jawaban.
**
Tidddd
Suara klakson mobil terdengar dari arah depan, kemudian tak lama bel pun berbunyi.
''Bi, tolong buka in pintu ya.'' suruh Sean pada Bibi yang kini akan selalu membersihkan rumah Sean atau apartemen pria itu
''Oh baik Den.'' bibi pun berjalan dan membuat pintu
Yang pertama Bibi lihat adalah Mila dan para anak buah Sean, sekitar lima orang.
__ADS_1
''Ayo silahkan masuk, Den Sean sudah menunggu kayaknya.'' ucap Bibi
'Menunggu, nungguin siapa? Ah mungkin mau bahas hutang ya.' batin Mila tubuhnya mendadak lemas karena ia sadar dirinya jadi banyak hutang pada Sean.
''Oya bi makasih.'' Mila pun masuk dan ia sadar kini yang berada di ambang Pintu rupanya hanya ada dia dan pria pria kekar tadi sudah tidak ada di belakangnya.
'Sungguh mengerikan.' batin Mila
''Tuan .'' sapa Mila dan kini ia berdiri tak jauh dari Sean yang lagi berada di dapur rupanya Sean tengah duduk memainkan ponselnya dan tak sadar Mila sudah disana.
''Eh Mil, sudah datang rupanya kamu.'' balas Sean
Tapi ini seperti mengejutkan untuk Mila, Mila sampai tercengang nada suara Sean berubah menjadi lembut.
''Mil, bagaimana tadi di rumah mu? Gak ada masalah kan, ibumu baik-baik saja? Dan kamu pasti capek ya bulak-balik kaya gitu.'' kata Sean lagi bahkan kini pria kasar , arogan, egois ini jadi banyak bicara.
''I-iya tuan.'' balas Mila masih terkejut dengan perubahan Sean
''Karena kamu pasti Capek kan, jadi nih tadi aku buatkan minuman untuk mu,'' Sean berjalan dengan pelan-pelan mendekati freezer.
''Awas hati-hati Tuan.'' ucap Mila ketika Sean berjalan
''Its Ok Mil.'' kata Sean tersenyum yang menunjukkan ia bisa
Kemudian Sean mengambil minuman yang katanya itu dia yang buatkan untuk Mila.
''Nih Mil, ayo di minum ini aku yang buatkan untuk mu, karena aku tahu kamu pasti sangat capek.'' ucap Sean tulus memberikan minum
Mila jadi curiga, ''Ini asli minuman Tuan? Em ... bukan di campurkan sesuatu?'' Mila memelankan kata terakhirnya ia takut Sean tersinggung lalu marah
''Ya bukan dong Mil, ini asli jus buah..Aku gak ada campuran racun, apalagi obat perangsang gak ada Mila.'' balas Sean menjelaskan dan ia ngerti maksudnya Mila
''E-eh maaf tuan.'' Mila menunduk malu atau takut pada Sean
''Ayo minum dong, hargai aku Mil. Udah buatkan untuk kamu loh.''
__ADS_1
''Iya Tuan, makasih.'' Mila pun meminumnya juga karena memang dia sedang kehausan lalu setelah minum memang tidak ada reaksi apa-apa. Yang artinya Sean jujur.
Mila merasakan pria itu atau majikannya ini mendadak jadi sangat perhatian. Sehingga membuat hati Mila tersentuh dan sedikit deg-degan.