
''Mam-Mih ... Tidak, Mi. Ke-kenapa Mami harus meninggalkan Se, secepat ini Mi ... '' jeritan seorang anak muda di hadapan jasad sang Mami yang sudah terbujur kaku tak ada nyawa itu.
Ya, hari Ke tujuh di mana Mami Sarah telah meninggal ini baru di ketahui oleh warga, karena rumahnya yang sedikit jauh dari tempat penduduk sehingga sedikit lama mereka menemukan bangkai tubuh Sarah.
Saat itu warga merasa aneh karena ketika melewati rumah Mami Sarah ini pintunya selalu dalam keadaan terbuka.
Lalu setelah satu Minggu pintu nampak terbuka lebar dan mulai tercium aroma tak sedap dalam rumah besar itu.
Karena penasaran akhirnya ada warga yang melaporkan pada RT setempat lalu barulah semua tahu bahwa Mami Sarah si kaya raya sudah meninggal dalam keadaan mengenaskan banyak biru-biru di sekujur tubuhnya.
Juga saat di temukan warga dalam kondisi tanpa busana juga bau busuk itu sangat menyengat sehingga asumsi warga mengatakan kalau jasad Mami Sarah ini sudah lama meninggal nya.
Kini waktunya untuk di makamkan. Sean selaku anak kandung Sarah pun turut hadir dalam hari terakhir nya sang Ibunda di dunia.
''Mi ... Ayo bangun, jangan ninggalin Sean sendiri Mi.'' tangis Sean yang meraung pun begitu terdengar memilukan warga sekitar yang menyaksikan.
__ADS_1
''Sean, sudahlah ikhlaskan Mami kamu, agar dia tenang.'' ucap Papi yang juga hadir untuk terakhir kalinya.
''Pi, ini semua gara-gara Papi. Andaikan Papi gak jebloskan aku ke dalam penjara, Mami gak mungkin ninggalin aku dengan Seperti ini.'' Sean balas marah dan menyalahkan Papi Yoga.
''Kamu masih belum sadar juga ya Sean rupanya, apa hidup mu di dalam penjara tidak bisa merubah sikapnya mu hah? Kau lihat lah ibumu ini '' menunjuk Sarah.
''Akibat perbuatan nya yang suka mengancam Fani sehingga kau melakukan hal hina pada Fani, lalu ibumu pun juga merasakan yang di alami Fani. Lihat inilah karma nya yang menghancurkan hidup seorang gadis yang tak bersalah.'' Papi Yoga coba menyadarkan Sean dengan mengatakan perbuatan Sarah.
Sean tak mengerti dengan semua ini Sean menatap bingung. ''Apa maksudmu Pi ?'' tanya Sean ingin tahu lebih lanjut.
Sarah selalu mengancam Fani untuk menghindar dan juga menjauhi Sean anaknya. Karena Sarah tidak mau Sean jadi dekat dengan Fani, dan juga tidak mau Fani merampas harta serta hatinya Sean.
Sarah selalu mengancam Fani dengan berbagai alasan, hingga akhirnya Fani pun mulai menjauhi Sean bahkan menolak perasaan Sean itu dikarenakan ancaman Sarah.
''Begitu Sean, kau harus sadar kalau Fani itu tak sengaja menghindari mu. Sebenarnya bukan karena dia tak menyukai mu hanya Fani takut pada Mami mu Sarah, Fani selalu di teror dan diancam maka dia memutuskan menjauhi mu. Tapi sayang kamu bukannya merebut hati Fani dengan kasih sayang tapi kamu malah menghancurkan hidupnya, dengan melakukan hal gila bersama teman-teman mu. Dan lihat Sean.'' menunjuk pada Sarah.
__ADS_1
''Ini adalah karma untuknya yang mengganggu hidup Fani sehingga Fani depresi dan juga di lecehkan oleh mu, dia sudah mendapat karma nya dengan di lecehkan juga oleh enam preman itu. ''
'Sean, apa kau masih mau memendam dendam untuk Fani yang tak bersalah ? Atau kau mau seperti ibu mu ini mendapatkan karma di dunia Sean ?''
Sean pun diam dia mencerna semua perkataan dan penjelasan Papi Yoga yang panjang lebar itu.
Dengan menatap kondisi sang Mami.
'Jadi, selama ini Mami lah penyebabnya dia yang sudah mengancam Fani dan memintanya untuk menjauhi ku. Mi ... kenapa kau tega sekali pada anak mu ini, kau telah membuat ku menjadi seorang penjahat.' dalam hati Sean berbicara.
''Sean, lupakan semua yang terjadi. Kembali lah menjadi seorang pria yang baik, tidak ada kata terlambat bila kau mau berubah menjadi lebih baik lagi.'' nasehat Papi Yoga untuk Sean.
Namun Sean pikirannya sudah rusak dia pun merenung seorang diri sampai Sean kini menangis tiba-tiba dan akan tertawa secara tiba-tiba juga,
''Hahahaaaa aku gila, aku gila aku sudah gila..''
__ADS_1
''Hikss, tidak aku tidak gila. Aku waras hikss.''