
Sean bergegas pergi ke rumah Mami Sarah, Sean akan meminta jawaban pada Mami nya itu yang Sean duga adalah dalang dari semua yang terjadi kepada Fani..
Mobil meluncur pergi dengan kecepatan tinggi tak perduli dengan orang-orang yang memarahinya karena ia menyelip kendaraan sana sini..
Hingga akhirnya Sean sampai juga di kediaman sang Mami yang tak kalah mewahnya dengan kediaman Papi yang di tinggali Sean.
Bruukkk
Sean tak sabar ia menendang pintu depan kasar hingga terbuka lebar.
''Mi.... Dimana kau'' teriak Sean
''Mi, kemari''
''Mi.. jangan pura-pura tidak tahu.'' Sean terus berteriak bagai kesetanan.
''Mam-i'' Sean melemahkan suaranya saat Mami nya sudah datang dari arah belakang rumah.
''Se, ada apa ? kenapa kamu berteriak bagai orang gila?'' tanya sang Mami
''Mam, jelaskan apa semua ini? kenapa Mami meneror Fani ?'' Sean langsung bertanya dengan nada tinggi.
Mami Sarah awalnya tak mengerti maksud anaknya ini, ''Apa maksudmu ?'' ulang Mami Sarah
''Jangan ngeles Mam. Sean tahu tadi Mami nakut-nakutin Fani kan, di minimarket ?'' tuduh Sean
''Se, jaga mulutmu itu! berani sekali kau seperti ini menuduh Mami hah? hanya karena wanita miskin itu? kau, tega Sampai membentak berteriak sama Mami ? Dengar Se, Mami tidak mengerti yang kau maksud.. Mami tidak pernah menemui perempuan kampung itu. Dan ya, Mami tidak percaya Se, kau marah membentang Mami hanya demi si anak kampung itu hah?''
''Mam kau jangan berbohong bukankah yang tak suka padanya itu adalah Mami ?'' kekeh Sean
Plakkkk
__ADS_1
Tak terima Mami Sarah langsung menampar pipi Sean.
Ini adalah pertama kalinya Mami Sarah seperti ini, menampar anak kesayangannya.
''Kurang ajar sekali kau! menuduh Ibumu sendiri, dan ini semua karena wanita miskin yang sudah merusak otak mu! Pantas Mami tak pernah menyukai kau dekat dengan dia, karena ini lah hasilnya.'' teriak Mami Sarah kini sudah benar-benar tidak bisa menerima tuduhan Sean.
Sean mematung di tempatnya Sean terkejut Mami nya bisa menampar pipi nya yang bahkan selama ini ia selalu di manja tapi kini..
Tamparan Sean dapatkan di pipi kanan.
''Se, jangan sekali-kali kau menuduh Mami kaya tadi. Dan apa buktinya hah? bila Mami berbuat seperti yang kau tuduhkan apa?'' bentak Mami Sarah menatap tajam.
Sean bingung sendiri sekarang..
Benarkah bukan Mami nya yang melakukan itu ?
Lalu, siapa lagi orang yang tak suka dengan Fani ?
Sean pun melangkah pergi meninggalkan Mami Sarah begitu saja dengan langkah gontai Sean berpikir keras siapa kah dalang dari semua ini?
''Kurang ajar kau Sean, berani kau seperti ini pada Mami.. Dan kau menuduh hanya demi anak kampung itu.. Aku harus beri perempuan itu pelajaran yang setimpal dengan rasa sakit hati ini.. Ya. Tunggu pembalasanku wanita bo-doh '' Mami Sarah tersenyum menyeringai dengan amarah yang menggebu..
*
Dua Bulan kemudian..
Semua nampak seperti biasanya dan tidak ada lagi kejadian kejadian seperti waktu lalu.
Juga kini Fani merasa lega dan sedikit nyaman karena dia tak lagi bertemu dengan pria yang selalu menakutkan itu bagi Fani..
''Fan, kamu agak kurusan deh'' ucap Cici memperhatikan bentuk tubuh Fani sang sahabat.
__ADS_1
''Yang benar Ci, tapi aku merasa biasa ah '' kekeh Fani
''Iya Fan.. kamu gak sedang diet kan ?'' Cici menebak mungkin Fani diet karena Cici dapat membedakan bentuk tubuh Fani pastinya.
''Gak Ci, aku tidak diet kok.''
''Terus kenapa jadi kurus? apa kau sakit?''
''Gak juga Ci,, kan kamu tahu sendiri aku tiap hari masuk kelas. Kalau sakit kan gak akan ngampus '' jawab Fani lagi
''Tapi dirimu aneh, aku lihatnya agak kurus aku takutnya kau kenapa-kenapa gitu''
''Aku sehat Ci..'' meyakinkan.
''Ya deh, bagus kalau kau sehat mh''
''Hmm'' tersenyum
Mungkin karena kekhawatiran ku ini yang membuat ku sedikit kurusan, ya aku masih takut bila tiba-tiba orang itu datang lagi..
''Fani..'' seseorang memanggilnya
Cici dan Fani menoleh kebelakang di sana ada anak sekelas mereka..
''Ya Al. ada apa ?'' Fani menyahut
''Itu Fan, di depan ada yang mencari mu'' beritahu Alvin namanya
''Oh siapa ya?''
Alvin mengangkat bahu tanda ia tak tahu tapi Alvin menyebutkan nama orang itu.
__ADS_1
''Gak tahu, cuma katanya namanya itu Nyonya Sarah.'' ucap Alvin lagi dan setelah mengatakan itu Alvin pun berlalu pergi.
''Nyonya Sarah?'' Fani bergumam sambil mengingat nama yang Sepertinya tidak asing.