
''Fan, tolong maafkan Mami dan soal kemarin '' ujar Sean.
''Ya Kak, tidak apa-apa tapi tolong mulai sekarang kita jaga jarak kak!'' pinta Fani menatap serius
Wajah Sean yang tadi anteng tiba-tiba berubah memerah dan sepertinya marah.
''Tidak Fani! kenapa harus menjaga jarak segala, bukankah kita adik kakak.'' kekeh Sean
''Ya itu benar, tapi kak. Apa kau masih mau melihat ku seperti kemarin oleh Mami kakak?'' tanya Fani mencoba menyadarkan Sean.
Sian diam, mungkin sedang berpikir ''Tapi .... Fan, kita tak perlu juga lah harus jaga jarak segala, kita diam-diam saja begini, jangan sampai Mami tahu aku bisa jamin Fan.''
Fani menghela nafas panjang dan ia membuang muka ke sembarang arah. Kenapa keras kepala sekali sih dia..
''Fan,'' Sean memangil dan membawa tangan Fani untuk ia genggam.
''Maaf kak.'' cepat-cepat Fani menarik lagi tangannya
Sean mendengus ''Kenapa Fan?'' dengan nada tinggi Sean merasa tersinggung
''Kak, tolonglah mengerti, aku tidak mau mempunyai masalah sama siapapun ?''
''Tapi, Fani...''
''Kak, ku mohon ''
''Baiklah Fan, tapi kamu harus mendengarkan satu hal tentang ini. Tolong dengarkan baik-baik. Aku merasakan akhir-akhir ini seperti nya aku mulai nyaman dengan mu, juga aku--,,,.''
''Fani, kesini sebentar!'' suara Mama Rina memanggil terdengar.
''Itu Mama, aku permisi dulu kak.'' Fani segera pergi begitu saja.
Lagi-lagi meninggalkan Sean yang mematung kesal yang terpotong ucapannya kan.
''Ah sial,, mungkin ini belum saatnya '' ujarnya lagi setelah ia coba menahan kekesalannya.
__ADS_1
Sementara itu Fani di minta untuk membelikan sesuatu oleh Mama Rina ke minimarket masih tak terlalu jauh dari rumah.
Fani pun pergi dengan mengendarai motornya sesampainya di minimarket tersebut, Fani mulai mengambil apa yang tadi di pinta oleh Mama Rina..
''Aku juga kayaknya mau beli ini ah,.'' gumam Fani
Fani mengambil sesuatu yang di atas
''Duhh susah sekali sih ini,.'' Fani celingukan mencari seseorang agar bisa di mintai pertolongan.
''Ishh, susahnya.'' ia mengeluh lagi dengan terus mencoba mengambil.
Tiba-tiba ada tangan seseorang yang mengambilkan yang Fani inginkan, namun anehnya orang itu seperti sengaja merapatkan pada dengan Fani
Sontak hal itu membuat Fani terkejut ia merasa kaget dengan perlakuan orang ini, saat Fani berbalik menatap orang itu Fani langsung menegang dan ketakutan. ''Ka-kamu?'' ucap Fani dengan ekspresi yang sulit di sebutkan.
''Hai, manis..'' ucap si pria menampilkan senyum beringas
''M-mau apa, pergilah.'' Fani sekuat tenaga mendorong orang ini lagi.
''Hei, jangan galak-galak cantik, kita bisa main dengan halus,.'' katanya membuat Fani tak mengerti maksud Pria ini.
''Diam, kenapa kau senang sekali berontak.''
Fani menggigit tangannya dengan sangat keras sehingga pria itu mengaduh ''Aw aw, sialan duh sakit tangan gue..''
Mumpung Pria itu sedang mengaduh Fani segera berlari pergi dari hadapan Pria jahat ini, yang Fani belum tahu mau apa sebenarnya pria itu sering sekali membuatnya ketakutan luar biasa..
Fani berlari sesekali menengok kebelakang takutnya orang tadi mengejarnya. Sehingga saat sudah keluar dari minimarket Fani tak sadar menabrak punggung seseorang yang sama berada di luar dan mungkin lebih dulu keluar .
''Ahhhh.'' Fani memekik terkejut apakah ini orang yang tadi menangkapnya lagi ? pikir Fani ia menunduk tak berani mengangkat kepalanya.
''Hei kenapa lari-lari ?'' tanya orang yang ia tabrak
Suara itu...? Fani mendongak
__ADS_1
Ah syukurlah... ''Rasya.'' panggil Fani dan tak sadar langsung memeluk tubuh pria tampan yang sangat dia kenal.
''Fan, kamu kenapa? ketakutan gitu, dan kenapa juga kamu lari ?'' tanya Rasya yang ikut cemas karena wanita ini rupanya adalah Fani tentu sangat ia kenali. Tapi, kenapa dengan Fani. Apa yang terjadi ? Sungguh Rasya bertanya-tanya.
''I-itu, di sana. A-da, O- orang ja-jahat..'' ucap Fani tergagap ketakutan dan nafasnya tersengal .
''Fan tenanglah, ini minum dulu.'' kebetulan sekali Rasya tadi membeli minuman di minimarket ini sehingga sekarang ia bisa bertemu dengan Fani tanpa di sengaja.
Rasya memberikan minum pada Fani sambil membantu Fani minum.
Fani coba untuk tenang dan sedikit tenang setelah minum air.
''Coba ceritakan, apa yang terjadi hm? kenapa kau sampai lari-lari, ada yang berbuat jahat padamu ?'' tanya Rasya kembali dengan suara lembut.
''I-itu Sya, tadi di-disana'' menunjuk kebelakang ''A-ada .... '' Fani tak mampu meneruskan perkataannya saat ia menatap Rasya Tapi di belakang pria itu ada
''Siapa Fan?'' tanya Rasya lagi
Orang itu menatap tajam pada Fani dengan menunjukkan pisau yang akan di arahkan pada Rasya.
Fani menggeleng seolah berkata jangan pada orang itu yang ternyata adalah Reno. Fani terus menggelengkan kepalanya berkali-kali . Sementara Pria itu mengisyaratkan Fani untuk diam..
''Fan, ada apa ?'' Rasya penasaran ingin melihat kebelakang namun cepat-cepat Fani menahan agar Rasya tak menengok.
''Sya.'' segera ia memanggil
Rasya tak jadi menengok belakang saat Fani menahan tangannya
Fani merasa pusing Fani memegang kepalanya
''Kau kenapa?'' Rasya cemas
''Sya, tolong bawa aku .... ''
Brukkkk
__ADS_1
Fani tiba-tiba jatuh pingsan..
Segera Rasya mengangkat badan Fani dan membawa pulang..