
Dalam keadaan ketakutan Mila terus berlari dia takut terhadap Sean, sudah lah takut karena Sean adalah pria yang temperamental juga suka marah dan arogan orang nya. Ditambah saat tadi Sean mengatakan sesuatu hal yang mengejutkan membuat Mila semakin takut.
Mila, adalah seorang perawat yang bekerja di rumah sakit kemarin dimana Sean di tangani setelah terkena luka bakar.
Saat itu, Sean tubuhnya sangat luka parah di tambah dia kesusahan untuk berjalan, sehingga dokter menyarankan untuk memperkerjakan perawat saja agar Sean dapat ada yang mengurus dengan intensif.
Kebetulan sekali saat itu, Papi Yoga mendengar saat di rumah sakit , ada satu perawat yang menangis sambil berbicara lewat telpon.
''Hikkss, Bu. Mila belum punya uang nya Bu, maafkan Mila ya.'' ucap seorang perawat wanita masih muda
''Bu, gimana caranya Mila dapat uang sebesar itu.'' ucap Mila kembali sambil terisak
''Iya Bu, Mila juga tahu. Ta-tapi Mila sungguh belum ada uang nya bu hikksss.''
Dari sana lah Papi Yoga menawarkan pekerjaan pada perawat muda ini, untuk merawat Sean anak nya.
Besoknya..
''Kamu bersedia tidak bekerja dengan saya, kamu tenang saja saya akan membayar mu mahal.'' pinta Papi Yoga langsung pada besok harinya
''Bekerja dimana ya Pak ?'' tanya Mila menunduk kan badan .
''Kalau kamu bersedia, kamu kerja di rumah dengan merawat anak saya.'' ucap Papi
''Maaf sebelumnya, apa maksudnya pasien yang mengalami luka bakar kemarin bulan pak ?'' tanya Mila kini ingat Papi Yoga itu yang berada di ruangan Sean
''Iya benar, bagaimana kamu mau kan? Pokoknya saya akan bayar kamu lebih dari rumah sakit ini. Asal kau mau mengurusi anak saya. Bukan apa-apa Mbak, lihat lah saya ini sudah tua bahkan duduk di kursi roda saya tak dapat mengurus nya . Saya berharap padamu.'' pinta Papi dengan penuh harap.
Lama Mila merenung , dia memang sedang butuh uang sekali untuk pengobatan sang ayah di kampung. Tapi bila ingat yang akan dia urus itu Pria arogan tukang marah yang perawat lain saja ogah merawat nya di rumah sakit ini. Mila juga sedikit ragu untuk menerima namun kembali ia mengingat tentang kebutuhan nya, Mila jadi bimbang.
''Bagaimana apa kau setuju?'' tanya Papi
''Tapi Pak, saya sedikit takut dengan tuan muda. Em begini pak maksud saya ---''
''Iya tidak perlu di jelaskan. Tentu saya mengerti dan memang itu sikap nya sekarang arogan, tapi kamu tenang saja pokoknya kamu patuh saja dan kalau terjadi sesuatu saya akan maju lebih dulu.'' Papi Yoga meyakinkan
Akhirnya sudah beberapa tahun ini Sean masih di rawat oleh Mila.. Kenyataan nya Sean masih tetap lumpuh tak dapat berjalan dan hal ini mengharuskan Mila bekerja lebih lama, tentu dengan bayaran yang semakin besar Papi Yoga berikan.
Sean memang suka marah dan membentak Mila, namun itu tidak Mila hiraukan lagi walaupun tetap ada rasa takut bagi Mila.
Tapi ketika hari ini, Sean marah besar di malam pergantian Steffani, berimbas pada ucapannya terhadap Mila si perawat. Yang menyebutkan sesuatu yang Mila takuti.
__ADS_1
Sean menginginkan Mila.
Mila berlari sekuat tenaga menuju kamarnya, dengan tangan gemetaran Mila mengubungi seseorang.
[Ha-halo] bibir Mila bergetar
[Ada apa? Kenapa kau terdengar takut ?]
[Tu-tuan saya takut Tuan. Sa-saya ingin pulang.]
[Tunggu dulu, ayo kamu bicara pelan-pelan lah]
[Tuan , saya takut ta-tadi tuan mu-muda itu dia.''
[Saya tidak mengerti ayo kamu buang nafas dulu dan bicara dengan pelan tenangkan dirimu dulu!]
[Tuan ...'']
Doorrrrrrrr dorrrrrrr dorrrrr
''Mila buka pintunya.'' teriakan Sean terdengar di balik pintu
[Halo Mila, apa Sean melakukan sesuatu padamu hm?] tanya Papi
[Tuan ... Saya takut, tadi Tuan muda itu dia ... dia ..., hiksss.]
Mila menceritakan yang terjadi.
[Ya Tuhan Sean .... Kurang ajar sekali anak itu! Kenapa tidak pernah berubah.] Papi sendiri merasa bingung dengan tingkah Sean
**
''Selamat pagi istriku.'' ucap seorang pria tampan di suatu pagi
''Selamat pagi, em apa ini mimpi ?'' gumam si wanita merasa aneh saja ketika bangun yang pertama ia lihat adalah wajah tampan si dokter
''Biar ku bangunkan kamu.'' bisik di pria lalu , ''Mmmuuuaaahhhh!''
''Ehh.'' Fani cepat menjauhkan wajahnya lalu meraba yang sudah di cium Raffi
''Bagaimana apa sekarang sudah bangun dari mimpinya ?'' goda Raffi
__ADS_1
''Jadi bukan mimpi ?''
''Bukan, apa mau di bangunkan lagi ?'' Raff masih menggoda Fani dengan memanyunkan bibirnya berniat mencium Fani kembali.
''Eh , eh ... Stop mas ! Iya aku sudah bangun, dan memang bukan mimpi.'' cicitnya malu
''Mas kira belum bangun, tadi nya mas akan terus membangunkan kamu dengan menciumi mu.'' bisik Raff di telinga Fani, hingga membuat bulu kuduk Fani meremang
Sebenarnya saat merasakan ini, Fani mendadak teringat sama bayangan itu. Tapi sekuat tenaga Fani melawan rasa takutnya.
Raffi Jangan lupakan dia adalah dokter ahli kejiwaan bisa tahu gerak gerik gesture tubuh pasien nya, apalagi ini adalah istrinya yang beberapa tahun ini bersama nya. Raffi tahu kalau saat ini tubuh Fani tengah menegang. Namun Raffi merasa bangga sebab Fani mulai bisa melawan rasa itu.
''Ini sudah siang Dek, cepatlah bersihkan dirimu. Nanti kita sarapan sama-sama.'' ucap Raff dan beranjak
''Tapi aku belum masak mas.'' ucap Fani tidak enak
''Gak perlu pikirkan itu, aku sudah masak kok.'' ujar Raff terdengar enteng tapi mengejutkan bagi Fani
''Apa mas, kamu yang masak ?'' Raffi mengangguk
''Aduh Mas, kenapa kamu yang masak biar aku saja aku kan Istrimu sekarang, aku gak enak Mas.'' Fani mengomel tapi dengan nada bersalah.
''Tidak apa sayang, kan ada esok hari.. Biarkan hari ini spesial untuk mu dan Afika. Dengan Mas yang buatkan makan untuk kalian.
''Tapi mas ... ''
''Sudah sana, cepat bersihkan diri keburu makanan nya dingin lagi.'' suruh Raffi
''Terima kasih mas.''
''Sama sama tapi ini dulu, tanda kamu sungguh berterima kasih.'' Raffi menunjuk pipinya isyarat minta di cium .
''Hah apa harus mas?''
''Ya harus !''
''Muuaahhh!'' setelah mencium pipi nya Raffi , Fani bergegas berlari masuk kamar mandi dia malu pastinya.
''Hei sayang hati-hati, awas jatuh!''
''Ah aneh saja dia itu, hmm mungkin malu kali ya.'' Raffi terkekeh.
__ADS_1