
''Katakak Ci, siapa orang yang sudah melakukan hal keji ini pada Fani ?'' Mama Rina terus mendesak agar Cici bicara.
Cici menatap pada Mama Rina dan bergantian pada Pak Yoga.
''Orang itu a-adalah Se-sean'' ucap Cici akhirnya.
Mama Rina shock ia membulatkan mata tak percaya.
''Apa maksudmu ? berani sekali bicara seperti itu, berani sekali kau menuduh anak saya!'' Papi Yoga langsung marah dan membentak Cici tak terima saat Cici menyebut Sean lah pelakunya.
''Ma-af O-om, tapi itu yang sebenarnya.'' kata Cici
''Tidak mungkin. Tidak mungkin anak saya yang berbuat seperti itu, anak saya tak mungkin bisa melakukan seperti itu tidak !'' kekeh Papi Yoga menolak tegas tuduhan Cici teman Fani.
''Om tapi itu yang terjadi saya mendengar langsung oleh mata dan telinga saya sendiri.'' Cici pun menegaskan lagi dan meyakinkan. ''Tan, Tante percaya kan sama Cici? Cici gak mungkin asal bicara Tan. Cici dengar langsung kemarin di kampus Tan, bahkan Sean dan .... hikss'' kali ini Cici tak sanggup meneruskan karena hanya membayangkannya Cici sudah teramat sakit hati. Apalagi Fani yang mengalaminya, sungguh Cici pun tak akan sekuat itu mungkin Cici akan langsung mengakhiri hidupnya..
''Apa Ci? apa yang ingin kamu katakan?'' Mama Rina merasa Cici akan mengatakan sesuatu hal lagi.
''Tan ... ''
''Ya katakan.''
Cici menggeleng ''Fani Tan..''
''Beritahu Semua pada Tante apa yang kau ketahui?'' perintah Mama Rina.
Sambil menangis sesenggukan Cici pun memegang tangan Mama Rina memegangnya dengan erat untuk menguatkan.
''Fani di perkosa bukan oleh Sean saja---''
__ADS_1
''Apa maksudmu?'' Papi Yoga langsung memotong perkataan Cici
Cici mengangguk dan menahan sesak saat mengatakan ''Fani di siksa oleh mereka, oleh empat pria itu..''
Mama Rina semakin tak berdaya ''Gak Ci. itu gak mungkin, Fani itu anak yang baik ke-kenapa bisa? tidak.....'' akhirnya Mama Rina jatuh pingsan.
''Tante....'' Cici langsung menangkap tubuh Mama Rina yang ambruk.
Sementara Papi Yoga tak mampu harus seperti apa sekarang ini.
Dia tak percaya anaknya bisa melakukan hal ini hal yang begitu memalukan bahkan untuk sekedar berpikir anaknya kaya gitu Papi Yoga tak percaya..
''Tidak mungkin Sean Seperti itu, kamu jangan asal menuduh anak saya.'' menatap tajam pada Cici dan masih beranggapan Cici ini mengarang
''Di bayar berapa kamu, sampai berani memfitnah anak saya hah? siapa yang sudah membayar mu dan menyuruhmu untuk menuduh tanpa bukti'' kembali ucapnya Papi Yoga.
''Saya tidak sedang berbohong juga tidak ada yang membayar saya atau menyuruh saya untuk bicara seperti ini. Dan juga saya bicara apa adanya Om. Tak mungkin saya mengarang cerita, apa Untungnya buat saya? Dan ya, saya punya buktinya kok'' ucap Cici begitu serius.
Tapi rupanya Cici tak akan semudah itu memberikan bukti tersebut pada Pak Yoga. Cici memiliki rencana yang menguntungkan untuk temannya.
''Tunggu dulu Om, maaf tapi saya harus berkata sesuatu dulu sebelum memberikan bukti ini.'' kata Cici
Papi Yoga langsung mengernyit tak mengerti ''Kenapa kau membuang waktu?'' Papi Yoga geram
''Saya harus meminta kesepakatan dulu.'' kata Cici
''Ok apa, ayo katakan.''
''Kalau terbukti benar Sean dan tiga temannya ini bersalah hukuman apa yang akan di berikan untuk mereka?'' tanya Cici
__ADS_1
Papi Yoga diam beliau sedang memikirkan hukuman apa untuk anaknya bila terbukti benar anaknya ini bersalah bahkan dia yang merencanakan semua ini.
''Tunggu dulu, sebelumnya saya mau tanya dulu dari mana dan bagaimana bisa kamu mengetahui bahwa Sean lah pelakunya?'' ini yang membuat Papi Yoga bingung.
''Waktu di kampus saya tidak sengaja mendengar mereka Doni , Sean , Ryan , dan Yuda. Menyebut nama Fani jadi aku penasaran lalu aku diam-diam mendengar yang mereka katakan dan katanya Fani hamil lalu mereka mengatakan kalau mereka lah pelakunya'' jelas Cici
Papi Yoga menatap mata Cici begitu dalam ia ingin mencari kebohongan dalam diri Cici, tapi Papi Yoga melihat kejujuran juga ketulusan dari mata Cici.
Papi Yoga memutuskan ''Saya akan mencoret nama Sean dalam kartu keluarga juga dalam hak waris dia akan di coret bahkan saya akan membuang dia dalam rumah ini juga saya putuskan saya tak ada lagi hubungan apapun dengan Sean, saya bukan lagi Papi nya. Tapi bila kau salah maka dengan terpaksa saya harus membawa mu dalam penjara.
''Baik itu tidak masalah, lalu bagaimana dengan tiga temannya yang lain?'' tanya Cici dan tak ada takutnya saat Papi Yoga menyebutkan akan memenjarakan dia bila Cici salah.
''Soal itu, saya harus bicarakan dengan pengacara saya.''
''Baik.'' Cici mengerti
''Sekarang mana buktinya serahkan ke saya.''
Cici pun memberikan ponselnya berisi sebuah video di mana saat Sean dan teman-temannya ribut membicarakan soal Fani hamil..
Papi Yoga terkejut bukan main. dia beberapa kali menggeleng dan Papi Yoga langsung terkena serangan jantung mendadak.
''Sean.......'' Papi Yoga menangis menyesal telah menjadi Ayah yang tidak becus Papi Yoga kecewa.
''Arghhhhh...'' Papi memegang dada sebelah ia merasa kesusahan nafas.
''Om...'' Cici panik dan khawatir
Sambil menahan rasa sakit di dada Papi Yoga menghubungi sang pengacara untuk ke rumah.
__ADS_1
Sebenarnya bukan seperti ini yang Cici inginkan dan ini juga yang Cici takutkan. Semua terkena imbasnya hingga semua merasakan sakit.