
Ceklek ceklek, suara kunci pintu yang di buka.
Dan
Sebelum masuk, pria itu celingukan dulu ke kiri dan kanan atas dan belakang, untuk memastikan tak adanya orang yang melihat. ''Ah aman.'' gumamnya tersenyum senang.
Lantas pria itu segera masuk dan tak lupa ia kunci lagi pintunya untuk jaga-jaga. Ia pun berjalan mengendap-endap dan mendapati di sana sang wanita tengah memejamkan matanya dengan tertidur pulas.
Tak membuang waktu lagi, Sean segera menaiki ranjang itu , dan ia lebih dulu menatap dalam Wajah wanita di bawahnya ini.
Minuman sialan itu sudah mulai mempengaruhi otak waras Sean, sehingga Sean tak dapat berfikir jernih sekarang. Dan yang ada di kepalanya hanya Fani Fani dan Fani..
Sean Mulai membelai dan menyingkap rambut yang menghalangi wajah Indah wanita itu. Ia mengusap pipi Fani.
Fani sedikit merespon dengan menggerakkan tubuhnya ke samping. Dan kembali bobok manis.
Sean pun ikut berbaring di sisi sampingnya Steffani, Sean mengirup wangi tubuh wanita ini, hmm menenangkan. Tangan Sean dengan lihai mendekap si wanita, dan lama-lama tangan itu semakin nakal.
Hingga membuat wanita itu merasa terganggu dan mulai terjaga.
Sean tak perduli akan hal itu, ia terus memeluk menerusuri tubuh si wanita.
''Hm, Fan, kau wangi sekali'' bisik Sean.
Sampai akhirnya wanita itu menatap padanya dengan wajah terkejut mata terbelalak ia pasti sangat kaget..
''Aaaaa...'' Fani berteriak kencang
Hingga kini, Fani dan Sean masih berada di atas ranjang yang sama.
Dengan sesekali Fani melepaskan pelukan Sean di tubuhnya, juga Sean yang kukuh ingin bersama Fani.
''Kak, kau mabuk ya?'' Fani Mulai mencium Aroma aneh dari mulut Sean
''Aku memang sudah mabuk cinta mu Fani'' Racau Sean
__ADS_1
''Oh ya ampun, kau bau sekali kak. sebaiknya kau ke kamar mandi'' ujar Fani ia menutup hidungnya agar tak mencium aroma aneh itu.
''Aku tidak mau ke kamar mandi, aku ingin tidur bersama mu'' mulai tidak jelas Sean ini.
''Kak, menyingkirlah kau berat'' ucap Fani kembali mendorong bahu dan tangan Sean. kini posisinya Fani terlentang dengan badan Sean di atasnya kaki tangan, Uhh berat!
''Kalau tidak mau berat, seperti ini lah.''
Bugh.
Dalam satu gerakan cepat Sean mengalihkan keadaan, kini Fani yang berada di atas .
Fani semakin ketakutan dan selalu di buat terkejut oleh Sean.
''Aduh, kenapa jadi gini?''
''Kau suka, ?''
Fani menggeleng dan mau beranjak
''Tidak!''
Fani berusaha bangun, Oh sialnya dua gunung semakin menekan, bagaimana ini?
Sean menahan pergerakan Fani. ''Hm, kau sangat wangi dan selalu terlihat cantik'' Racau Sean.
Plakk..
Tamparan keras mendarat di pipi Sean
Sean langsung terpaku menatap Fani.
Fani pun tak tinggal diam, ia segera bangun dan menghindari Sean.
Sean menatap nyalang pada Steffani,
__ADS_1
Gap..
Ia menangkap lagi tangan Fani, ''Mau kemana? kau tak bisa lari dariku'' kata Sean suaranya sangat dingin
''Tidak Kak, biarkan aku pergi, atau tolong kau kembali ke kamarmu, kau mabuk parah'' ucap Fani memohon
''Kenapa kau takut Seperti itu padaku, aku tak akan berbuat jahat'' padamu, aku hanya ingin tidur saja . hanya itu'' ucap Sean
Tapi Fani tak percaya, entah itu Serius entah bohong.
Fani menggeleng dan sedikit mundur perlahan.
''Jangan pergi, ayo kita tidur'' dengan paksaan Sean membawa lagi Fani ke atas kasur.
''Tolong lepaskan'' Fani meronta
''Diamlah!'' Sean menyentak dan mendorong tubuh Steffani hingga menyungkur di atas ranjang.
Sampai akhirnya, malam Steffani kembali di peluk oleh Sean .
''Ku harap ini adalah suatu mimpi '' gumam Fani lalu menutup matanya. mencoba tidur, agar saat bangun nanti benar ini mimpi..
Tapi si pria yang mendengar gumaman Fani hanya tersenyum tipis.
'Ini bukan mimpi, kalau mimpi tak mungkin tamparan mu terasa oleh pipiku ' ucap batin sang pria.
🦋🦋
Pagi pun tiba
Dua insan yang masih bergulung dengan selimut itu semakin nyenyak dan saling memeluk, Fani belum sadar dan bangun rupanya.
Tok
Tok
__ADS_1
''Fan, Fani, Nak. Bangun sudah siang'' Suara Mama Rina terdengar bersama ketukan pintu.