Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Ancaman


__ADS_3

'Sialan, gue di samain dengan kecoa,'


'Heh, mana ada ya kecoa, setampan gue.'


Sean ngedumel saja terus tapi dalam hatinya, Karena kalau dia bersuara bisa-bisa nanti Papi dan Mama Rina tahu keberadaannya.


Mendadak hidung Sean gatal dan ingin bersin, Sean segera menutup hidungnya dengan jari tangan agar tak jadi bersin.


''Yasudah Rin, ayo kita ke luar lagi'' ajak Papi pada Mama Rina.


''Iya ayo Pak'' balas Mama Rina mengangguk


''Fan, cekat ke bawah kita sarapan'' ajak Mama kepada Fani sebelum keluar


Fani segera menganggukkan kepala patuh.


Namun,saat kedua orang tua itu sudah mau keluar dan melewati pintu


''Hacimm Haciimm'' keluar suara seseorang bersin di dalam kamar Steffani.


Fani membuka mulutnya dan melihat pada lemari miliknya, 'Aduhh kenapa bersuara'


Dengan gerakan cepat Steffani mengambil sesuatu kain apapun itu di dekatnya.


jadinya Papi Yoga dan Mama Rina berbalik lagi menatap sekeliling kamar.


''Siapa itu Nak?'' tanya Mama Rina menatap Serius pada Steffani.


''Hacim, haciim. Eihh itu Fani Ma'' jawabnya sambil menutup hidungnya dengan kain tersebut sehingga suara bersin tadi tak terlalu jelas terdengar.


''Benarkah? tapi, tadi sedikit beda ya'' kata Mama Rina yang merasa tak percaya dan merasa berbeda.


''Iya Ma, itu Fani. Tadi itu Fani merasa geli pada kecoa, jadi rasanya ingin bersin-bersin'' lagi-lagi kecoa yang di sebut dan di tuduh .


''Mungkin benar Rin, sudah ayo. keburu siang saya harus ke kantor'' kata si Papi


''Ah ya baiklah Pak, maaf''


''Iya ayo''

__ADS_1


Mama Rina mengangguk.


Sementara di dalam lemari itu, sekarang si pria yang sudah amat Dewasa tengah melihat-lihat sesuatu milik Steffani.


''Oh, wow. Punya dia cukup besar juga ya!''


''Hmm, wanginya''


''Hei Kak sedang apa?.'' Seseorang berteriak dan menarik kain itu dari tangan dan hidung Sean.


Sampai membuat si pelaku kaget dan malu ketahuan.


''Mana mereka sudah tidak ada?'' tanyanya begitu datar seolah tak bersalah.


''Tak ada, keluarlah!'' jutek Fani berbicara.


''Napa jutek amat.'' kata Sean mencebik


Fani balas menggeleng


Sean Keluar dari tempat bersembunyi nya tadi dan Fani pikir Sean akan keluar juga dari kamarnya, tapi nyatanya Sean malah berbaring di tempat tidurnya lagi.


Fani menatap heran. ''Kak, kenapa masih di sini,''


''Ya cepat keluar dan kembali ke kamarmu, aku gak mau Mama dan Pak Yoga kesini lagi, malah melihat mu disini, gimana?'' jelas Fani


''Tak akan'' jawab Sean lempeng


Huuhhh..


''Oh ya, kenapa bisa ya tadi kamu tidur disini kak? aku kan sudah mengunci pintu semalam'' tanya Fani, yang masih belum ingat jelas dengan semalam kan Sean sudah disini.


''Kakak juga gak tahu kenapa, mungkin kau yang mengajak kakak kesini semalam'' tuduh Sean seenaknya saja!


mata Fani terbelalak ''Ia yang mengajak'' Fani menggeleng ''Kak, tolong jangan asal bicara, aku tidak seperti itu'' tagas Fani sedikit marah.


''Tunggu'' pekiknya Fani


''Ada apa?'' menatap polos entah Sean pun tak ingat

__ADS_1


''Tadi malam itu .... Kau mabuk ya kak?'' tanya Steffani mulai ingat .


''Mabuk, tidak'' Sean mengelak


''Iya benar, aku sedikit ingat . kau itu meracau mengatakan asal dan tak jelas, juga aku mencium aroma alkohol, aku tidak menyangka ternyata kamu tukang minum ya,'' Steffani menjelaskan sangat jelas. Fani menatap Sean . Lalu kembali membuang muka ke sembarang arah.


Sean beranjak dan tiba-tiba mencekal ke-dua bahu Steffani dengan cukup kasar. Fani jelas kaget ''A-ada apa?''


''Kau sudah tahu aku suka minum, tapi jangan pernah sekali-kali kau mengadu pada Papi aku seperti ini''


''Ja-jadi Pak Yoga -- ''


''Benar, Papi tidak tahu, jadi awas saja kalau kau mengadu,! kalau sampai Papi tahu itu berarti kau yang mengadu, dan sampai kau berani mengadukan kepada Papi, aku Sean, akan memberimu hukuman yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu'' tegas Sean berbicara dan sedikit mengancam Steffani. Dan Fani merasa hawa dingin menjalari tubuhnya saat Sean berkata seperti ini


Steffani kesusahan menelan saliva nya sendiri, dia merasa jadi sangat takut kepada Sean, Fani bisa merasakan Sean ini tidak main-main dengan perkataannya.


''Kau mengerti kan maksudku?'' tanya Sean lagi


''I-iya baik Kak!'' balas Fani pelan


''Bagus, jadilah adik yang penurut.''


Tiba-tiba Sean mau mendekatkan wajahnya kepada Steffani. Fani tak tahu kalau Sean ini mau mencuri ciuman di pipinya. Bibir seksi Sean sudah semakin mendekat dan saat sudah di area pipi tiba-tiba...


''Fani ayo sarapan Nak?'' suara Mama Rina kembali terdengar memanggil Steffani.


Fani pun mendorong badan Sean hingga mundur beberapa langkah ke belakang.


''Kak, tolong keluarlah, itu Mama sudah memanggil lagi'' mohon Fani.


Sean menyugarkan rambutnya kebelakang. 'Oh **** hampir saja Sean kelepasan, Tenang Se, tahanlah. bisa-bisanya ia tergoda dan ingin mencium adik tirinya ini, dan bisa bisa nanti Fani akan takut padanya dan tidak akan mempercayainya..


''Iya, kakak keluar, dan segera temui Mama mu, agar tak curiga'' ujar Sean


Fani mengangguk paham. setelah itu Sean pun keluar dan berjalan ke kamarnya.



Steffani saat bersiap ke kampusnya..

__ADS_1


Gadis lugu, yang tak pernah mengenal cinta, juga masih takut untuk jatuh cinta,.


Lalu bagaimana dengan Sean, yang mulai terbiasa dengannya bahkan sudah memiliki perasaan untuknya, Akankah Flower Steffani mau menerima Sean Prayoga Irawan?!


__ADS_2