
Fani merasa lebih tenang dan lega sekarang ini setelah tadi dia bercanda juga ngobrol-ngobrol sama Rasya teman masa lalu nya itu.
''Sya, aku berterima kasih banyak padamu. Kamu sudah mau datang ke sini dan menemani ku.!'' ucap Fani menatap Rasya.
''Sama-sama Fan, dan sudah pasti aku akan datang jadi bila kau membutuhkan ku lagi maka jangan sungkan hubungi aku.!'' ujar Rasya
Fani pun mengangguk ''Iya Sya..'' sahut Fani.
''Ini sudah sore sabaiknya kita pulang '' ajak Rasya dan di rasa Fani pun sudah lebih ceria di banding tadi saat pertama Rasya menemui wanita ini. Rasya bisa merasakan perubahan ekspresi Fani yang tadinya tampak murung juga sedih kini sudah mulai ceria..
''Iya Sya kamu benar sebaiknya kita pulang'' Fani membenarkan saat melihat jam tak terasa rupanya mereka mengobrol ini cukup lama juga .
Lalu keduanya pulang bersama-sama dengan mengendarai kendaraan masing-masing. Dan rupanya Rasya mengantarkan Fani sampai depan rumah megah itu. Setelah Fani sampai rumah dengan selamat barulah Rasya kembali melajukan mobilnya dan pergi ke rumahnya..
Fani pun berjalan masuk rumah itu tak lama ada yang memanggil namanya.
''Fan.!''
''Ya Ma.'' Fani menoleh
''Dari mana dulu, kok baru sampai ?'' rupanya yang bertanya itu adalah Mama Rina berada di pintu samping.
''Iya Ma Fani baru pulang karena tadi Fani bertemu dulu dengan Rasya.'' jawab Fani memberitahu.
''Oh gitu Mama kira kamu kemana dulu habisnya kamu belum pulang, padahal kata Sean kelas mu sudah bubar Mama jadi mencemaskan mu'' ucap Mama Rina.
Fani mendekati sang Mama, lalu di peluknya wanita baya yang begitu Fani sayangi.. ''Ma, maafkan Fani ya! Fani gak ngabarin Mama dulu. gara-gara itu Mama cemas.'' sambil di dekap tubuh ibunya Fani merasa tak enak.
''Iya sudah gak apa-apa. Tapi ingat lain kali harus ngabarin Mama ya! jangan buat Mama cemas kaya tadi.'' Mama Rina memberikan peringatan pada Fani
''Baik Ma, Fani mengerti '' Fani mengangguk paham.
Dua hati kemudian..
Fani bingung bagaimana cara dia menjauh dan pergi dari hidup Sean. Seperti yang di pinta Mami nya. Sementara dirinya dan pria itu masih hidup satu rumah. Fani bingung memikirkan hal ini.
Hingga pada akhirnya Fani mendengar Sean sedang berbicara dengan Papi Yoga di hadapan Mama Rina juga.
''Pi, Sean mau minta izin.'' ujarnya memulai percakapan
''Minta izin untuk apa?'' Papi Yoga menyahuti dengan bertanya.
__ADS_1
''Besok adalah hari ulang tahun si Doni, Sean dan teman-teman mau merayakan di kota xx'' beritahu Sean
''Kenapa gak di kota ini saja? Masih banyak kok tempat yang bagus'' kata Papi
''Ya gak di sini Pi. Karena kita sudah janjian nya di kota xx itu. Cuma dua hari doang kok Pi..'' Sean sedikit merengek untuk di berikan izin oleh Papi Yoga.
''Ya baiklah. tapi ingat jangan melakukan hal yang keterlaluan dan melewati batas. Papi tidak suka, kau mengerti!'' tegas Papi Yoga menatap Serius pada Sean
Sean pun membalas dengan anggukan kepala tanda ia mengerti yang di ucapkan sang Papi..
Fani yang berada tak jauh dari mereka tiba-tiba bibirnya tersenyum merekah saat mendengar Sean akan pergi dua hari ke kota yang lumayan jauh itu.
'Mungkin ini jalannya untuk ku bisa segera pergi.' gumam batin Fani.
Rupanya kepergian Sean ke kota itu di manfaatkan oleh Fani untuk pergi yang jauh dari Sean ke tempat yang tak mungkin Sean menemukannya..
Malam hari..
Fani tengah memikirkan tempat yang pas untuknya pergi nanti. Dan untuk masalah ini Fani membutuhkan bantuan Cici..
Fani menanyakan pada Cici apakah punya tempat yang aman, dan Fani akan menceritakan semuanya setelah nanti dia sampai di tempat itu..
Cici pun tak banyak bertanya lagi mereka ini berteman sudah lama dan setiap hari mereka bertemu jadi Cici sudah tahu bila Fani sedang mengalami sesuatu hal yang serius..
Fani pun tersenyum senang dan bersyukur sambil mendekap erat ponselnya.
Tiba-tiba Fani terlonjak kaget saat ada yang mengetuk pintu kamarnya..
''Siapa?'' Fani bertanya dari dalam kamar.
''Ini Aku.'' ujar Sean
''Mau ngapain?'' gumam Fani
ceklek pintu sudah Fani buka ia menengokan keluar hanya kepalanya saja
''Ada apa Kak?''
''kenapa kamu gak keluar''
Fani hanya tersenyum menampilkan gigi nya yang rapih.
__ADS_1
''Buka pintunya, aku mau masuk.'' pinta Sean
''Di luar saja kak.'' Fani sudah mau keluar tapi Sean mendorongnya lagi untuk masuk.
''Di dalam'' tegas Sean.
Hufft..
Fani menghela nafas lelah...
Dasar pemaksa dan keras kepala.. umpat Fani
''Fan kamu tadi dari mana?'' Sean dudui di sisi ranjang Fani
Sementara Fani memilih duduk di kursi depan meja rias.
''Gak dari mana-mana kok, tadi ada aku pergi dengan Cici'' bohong Fani
''Yang benar ah?'' Sean merasa tak percaya
''Benar kak. aku gak bohong kok'' balas Fani
''Yasudah, Oh ya aku mau mengatakan sesuatu padamu''
''Ya apa?''
''Kamu sudah dengar belum, kalau aku akan pergi besok dua hari.?'' tanya Sean.
''Oh belum kak.'' bohong Fani lagi
''Aku besok mau pergi Fan sama Ryan dan Yuda ke kota xx'' beritahu Sean
Fani merasa bingung lalu apa hubungannya dengan nya bila mau pergi ya tinggal pergi kan..
''Oh iya Kak. hati-hati di jalan'' hanya itu jawaban Fani
''Kamu mau ikut gak?'' ajak Sean
''Hah? Oh t-tidak kak hehe'' jawabnya sambil tertawa
''Kalau mau ikut ayo nanti kita jalan-jalan di sana, tapi kalau kau tak mau yasudah. Kau baik-baik di sini jagalah orang tua kita.. Aku gak lama kok perginya hanya dua hari saja.'' ucap Sean
__ADS_1
Fani merasa terharu mendengar perkataan Sean tadi Sean ini sebenarnya orang yang baik tapi mau bagaimana lagi Fani harus menjauh dari pria itu agar ia hidupnya tenang dan Sean jauh dari wanita kampung Sepertinya...
''Baik kak, aku akan jaga orang tua kita '' kata Fani