
''Jangan, Ku-mohon jangan....''
''Tolong jangan lakukan itu..''
''Ahhhhh tidakkkk...''
''Hahaaaaa, bagaimana sekarang rasanya hah? itu hukuman yang pantas untukmu.'' teriak Sean sambil mencengkram erat pipi Fani.
Steffani sudah hancur semakin hancur dia sekarang tak punya harapan lagi untuk hidup.
Untuk apa dirinya hidup di dunia ini, bila hanya menjadi manusia yang terinjak-injak.
''Kau, iblis. Kau bukan manusia.. Kau lebih dari binatang.''
''Terserah, dan Lo masih bisa ya ngatain gue dasar wanita sam-pah''
''Sebenarnya apa salahku, apa?'' Fani mulai lirih
''Salah mu apa? Kau salah karena selalu menolak ku.'' sentak Sean.
''Tidak....'' Fani menggeleng dan langsung jatuh pingsan.
''Nak, kamu kenapa sayang. Ayo bangun jangan buat Mama khawatir sayang..''
Rupanya Fani sudah di pulangkan,.
''Dok, bagaimana dengan anak saya'' ujar Mama Rina
''Pasien sepertinya baru mengalami sesuatu hal yang hebat '' ucap Dokter
''Maksudnya apa Dok, bicara yang jelas.''
''Pasien telah mengalami pemerkosaan.'' Dokter pun mengatakan yang sebenarnya.
''A-apa? ti-tidak mungkin, tidak.... itu tidak benar!'' Mama Rina shock
''Tidak .... Fani ....'' Mama Rina berteriak histeris
Papi Yoga langsung masuk begitu mendengar suara jeritan istrinya.
''Rin, ada apa?'' segera Papi Yoga merangkul Mama Rina yang lemas jatuh ke lantai.
''Siapa? siapa yang sudah tega melakukan itu pada putriku, Tuhan... kenapa kau tak membiarkan anakku selamat..'' ucap Mama Rina menangis hebat
''Rin, katakan ada apa?'' Papi Yoga masih bingung.
''Fani, Fa-fani di-dia diaaa .. '' Mama Rina tak kuat ia pun jatuh pingsan.
Sampai akhirnya dokter menjelaskan semuanya. ''Tuan, Nona ini sepertinya mengalami shock yang hebat juga kemungkinan Nona baru mengalami pemerkosaan.'' jelas Dokter.
''A-apa pe- pemerkosaan'' Papi Yoga pun tak menyangka juga terkejut.
Dokter mengangguk..
''Rin, sabar tenanglah. Aku janji akan menemukan orang itu, yang sudah melakukan hal keji kepada Fani, aku janji Rin..'' janji Papi Yoga ikut merasa geram dan sakit menerima kenyataan tentang Fani.
Dua bulan sudah kejadian itu terjadi.
''Hah, jangan.. tidak, pergi jangan mendekat!'' Fani ketakutan
''Tidak.... jangan mendekat, pergi..''
__ADS_1
''Sayang ini Mama Nak. sudah ya, nanti kamu lelah'' Mama Rina mendekapnya erat
''Nak, katakan siapa yang melakukan ini katakan jangan takut, siapa laki-laki itu?'' tanya Mama Rina
''I-itu di-dia, Ma. di-dia...'' Fani menunjuk ke depan tapi sayang di sana tak ada siapapun.
''Takut, takut aku takut. Tidak.. jangan mendekat'' Fani bergetar hebat ia sangat ketakutan.
''Iya sudah-sudah, tenang sayang tenang ya. Mama bersama mu.''
Fani mulai tenang dan menangis masih keluar dari pelupuk matanya.
Cici pun shock dengan semua ini, Fani tak bisa lagi mengobrol dengan normal. Di saat sedang ngobrol sebentar-sebentar Fani akan menangis sebentar-sebentar Fani langsung tertawa sambil menunjuk-nunjuk.
''Fan, cepat sembuh Fan aku gak mau lihat kamu seperti ini terus-menerus Fani.'' Cici menangis tak kuat melihat sang sahabat seperti ini terus.
Fani sudah istirahat setelah di suntikan obat penenang.
Malam hari.
Seseorang mengendap-endap masuk ke kamar Fani, orang itu mendekati Fani dan menatap wajah wanita yang sudah terlelap.
Sean mendekati wajahnya ke arah wajah Fani dan dengan tak sabaran Sean mencium bibir Fani.
Fani langsung terlonjak kaget ia membuka mata lebar. ''Jangan.. Jangan'' Fani histeris ia mundur menjauhi orang ini.
Orang itu menyeringai, ''Nikmatilah hari-harimu dalam kegelapan sayang, bukan kah itu pilihan yang kau mau? Haaaaha.. Aku sangat bahagia kau menderita.''
''Dengarkan aku baik-baik wanita kampung, jangan sekali-kali Lo buka mulut atau Lo jujur soal siapa yang melakukan itu pada Mama Lo ataupun siapapun. Kalau Lo gak mau gue bunuh nyokap Lo itu'' bisa-bisanya Pria tak punya perasaan ini mengancamnya
''Tidak, tolong...jangan...''
Mama Rina mendengar suara teriakan Fani pun langsung menghampiri Fani dan ia mendapati Sean sedang di depan kamar Fani anaknya.
''Aku tidak tahu Tante'' bohong Sean
''Lalu kamu sedang apa?''
''Ini aku juga mau melihatnya, Karena aku tadi dengar dia kaya menjerit-jerit gitu. Aku jadi khawatir Tan.'' pandai sekali Sean membuat cerita.
''Oh iya.'' kali ini Mama Rina percaya dan tak menaruh curiga.
Hari ini, kondisi Fani semakin memburuk dia sakit demam dan saat Dokter mengeceknya rupanya Fani harus menerima kenyataan bahwa dia.
''Nona ini positif hamil.'' ujar dokter
''Hamil Dok?'' ulang Mama Rina shock
Apalagi Fani tatapannya langsung kosong dan tidak ada warna dalam ingatan mata juga harapan hidupnya.
''Tidak mungkin... Aku tidak mau hamil tidak...'' kembali Fani histeris bahkan ia memukul perutnya saking tak ingin menerima kenyataan.
''Nak tenanglah...''
Kabar kehamilan Fani sudah di dengar oleh Pria brengsek itu.
Di kampus.
''Sialll...'' Sean mengumpat
''Ada apa?'' tanya Ryan
__ADS_1
''Dia hamil.''
''Dia siapa Bro? bicara yang jelas dong!'' sahut Yuda
''Si Fani dia hamil.'' jelas Sean
''Apa?'' tiga Pria itu memekik terkejut bersamaan.
''Ya.''
''Wah gawat Se.''
''Lo bakal ketahuan.'' tambah Yuda
''Tanggung jawab lah Se, Lo laki yang jentle dong'' kata Doni.
''Sialan Lo, kita kan melakukan bareng-bareng. Kalian juga harusnya tanggung jawab. Bukan hanya gue'' Sean tak terima.
''Tapi itu anak Lo Se.'' celetuk Ryan di paling bo-doh.
''Apa maksud Lo berkata Kaya gitu? mungkin itu anak Lo yang jadi dari cairan punya Lo.''
''Gak mungkin.!'' kekeh Ryan sangat yakin karena.......
''Jangan coba ngeles Lo.''
''Lo yang ngeles dan Lo yang be-go.''
''Berani Lo sama gue?''
''Sttttt, sudahlah. Ngapain sih ribut ingat ini kampus.'' Doni menengahi.
Seseorang yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan mereka langsung terduduk lemas, keringat bercucuran di tubuhnya. juga tubuhnya bergetar hebat tangis pun turun dari matanya dengan deras.
Ia menutup mulutnya tak percaya. Beberapa kali orang itu menggeleng untuk meyakinkan kalau dia pasti salah dengar. Tapi lagi-lagi ini nyata bukan mimpi.
''Kurang ajar, jadi ini semua perbuatannya mereka.''
''Aku tidak bisa biarkan Seperti ini, mereka harus segera di hukum atas perbuatannya.''
''Cukup kalian bersenang-senang, sekarang waktunya kalian menerima hukuman yang setimpal.''
''Fan, aku berjanji akan menjagamu, aku bersamamu Fani. Aku di sini mendukung mu.''
Untuk memastikan hal ini benar tidak nya, orang itu datang hari itu juga ke rumah Fani.
Rupanya orang yang di khawatiran tengah tidur. Dengan Setia orang tadi menunggu Fani sampai bangun.
Akhirnya, Beberapa saat kemudian.
Fani bangun, dan dia seperti tak mengenal apapun bahkan tak mengingatkan siapa dirinya.
''Fan, syukurlah kamu sudah sadar Fani.'' ucap orang tadi sambil menangis.
Fani menatap orang itu sekilas lalu ''Haaha.... Kamu bo-doh, kamu lihat itu. Dia kemari, awas . Awas Jangan...''
''Fan tenanglah.'' Cici terkejut
''Haahaaa.. Itu, itu dia ya. Itu dia hahaa, tidak tidak....'' seketika Fani tertawa dan menangis sendiri sambil menunjuk pada tembok.
Hati Fani semakin hancur saat mendengar kabar kehamilan nya, otak nya juga pikirannya tak bisa menerima , sehingga Fani mengalami ODGJ..
__ADS_1
Mari berikan semangat untuk Steffani.. .