
''Tunggu.!'' itu suara Sean menghentikan langkah kaki Rasya yang mau melangkah dekat pintu utama.
Rasya yang masih menggendong Fani pun menatap bingung sejenak pada pria di depannya ini, ''Ya ada apa ? kenapa menghentikan langkah ku.?'' tanya Rasya
''Kenapa dia?'' tanya balik Sean menunjuk Fani lewat ekor mata.
''Jatuh pingsan, dan biarkan aku membawanya masuk.!'' pinta Rasya
''Berikan padaku!'' kara Sean tiba-tiba
''Kenapa? dan kau Siapa ?, aku bisa kok membawanya sendiri.'' Rasya rupanya tidak mengijinkan.
''Jangan banyak tanya, berikan dia kepadaku, aku yang akan membawanya masuk.'' tegas Sean.
''Tidak perlu, biar aku saja!''
''Kemarikan.''
Dan saat Sean mau mengambil paksa tubuh Fani dari gendongan Rasya, mereka sedikit di kejutkan dengan suara Mama Rina yang sedikit berteriak.
''Fani, kamu kenapa Nak ?'' begitu suara Mama Rina terdengar cemas.
__ADS_1
''Kenapa ini?''
''Fani jatuh pingsan katanya Tan, dan mungkin ini ulahnya.'' tuduh Sean menunjuk pada Rasya
Hah? Rasya menatap Sean lalu mengangkat sebelah alisnya tak mengerti, 'Ckkk dasar bocah.' umpat hati Rasya berdecak.
''Ayo, tolong Sya. Bawa Fani masuk kedalam!.'' pinta Mama Rina tak menghiraukan perkataan Sean tapi menyuruh Rasya untuk membawa Fani masuk rumah.
''Baik Tante,'' balas Rasya dan mengikuti Mama Rina yang lebih dulu masuk kedalam.
''Sialan, kenapa selalu seperti ini.. Gue di tinggal begitu saja, dan ya kenapa Tante Rina Sepertinya lebih memilih si sialan itu, di banding gue.'' Sean uring-uringan..
''Huh, gue gak terima.''
Sementara Rasya menidurkan Fani di atas kasur.
''Sya, apa sebenarnya yang terjadi?'' tanya Mama Rina menatap Rasya wajahnya sedih melihat kondisi sang anak juga rasa penasaran lebih dominan .
''Tan, aku tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya, hanya saat itu aku sedang di minimarket membeli minum. Aku pun sudah keluar dan saat di luar tiba-tiba ada yang menabrak punggung ku, saat aku berbalik rupanya itu adalah Fani, dan saat itu jelas aku melihat Fani seperti ketakutan dan sepertinya ada yang mau mencelakainya di dalam sana... Maaf Tan, aku tak sempat melihat orang itu tak sempat mencarinya karena Fani keburu pingsan..'' Rasya menceritakan semuanya. Dan disayangkan Rasya tak dapat melihat siapa orang yang membuat Fani ketakutan tadi..
Mama Rina yang mendengar semua kejelasan dari Rasya, langsung mendekap erat Fani sambil menangis terisak.. ''Sayang, anakku. Apa sebenarnya yang terjadi padamu Nak? siapa yang mau berbuat seperti itu padamu sayang..''
__ADS_1
''Bangunlah Nak, ini Mama. Mama disini'' Mama Rina mengusap kepala Fani .
''Tan, tenanglah..'' Rasya sebenarnya tak bisa melihat Fani dan Mama Rina seperti ini. Rasya menyayangi mereka..
Setelah di rasa tenang. Mama Rina menatap Rasya ''Sya, Tante sangat berterima kasih padamu ya Sya, kalau tidak ada kamu. Tante tak tahu bagaimana dengan Fani...'' Mama Rina menangis lagi.
''Tante, sudah pasti Rasya akan menolong siapapun bila sedang membutuhkan bantuan, apalagi ini Fani. Sudah pasti Rasya akan melindunginya'' ujar Rasya menggenggam tangan Mama Rina untuk menguatkan.
Mama Rina menganggukkan kepalanya..
''Tapi Sya, siapa orang itu. Saya yakin Fani tak mungkin mempunyai musuh, Tante tau dia.'' tanya Mama Rina begitu penasaran.
Rasya mengangguk ''Tante benar, saya pun berpikir seperti itu. Saya sangat mengenal Fani, dia tidak akan mempunyai musuh , Fani bukan wanita yang seperti itu. Saya pun berpikir siapa yang tega membuat Fani ketakutan tadi.'' Rasya menyahut dan ia juga menebak-nebak siapa orang ini.
''Tapi Tante, jangan khawatir Rasya akan coba menyelidiki hal ini, dan Rasya berjanji akan menemukan orang di balik semua ini.''
''Iya Rasya, Tante ucapkan banyak terima kasih padamu, kau selalu menolong Fani. Dan nanti Tante juga akan coba menanyakan ini pada Fani'' ujar Mama Rina menatap Steffani.
''Baiklah Tan.'' Rasya mengangguk setuju.
Rupanya, Sean sedari tadi mendengarkan dari awal saat Rasya menceritakan yang terjadi di minimarket.
__ADS_1
Sean ikut berpikir dan menebak siapakah orang itu yang sedang bermain-main dengan Fani, lalu tiba-tiba Sean mengingat seseorang yang tak lama ini selalu membuat masalah dengan Fani.
''Mungkinkah...?'' Sean bergumam sambil menebak. dan tak membuang waktu Sean pun melangkah pergi dan saat itu juga Sean memutuskan untuk menemui orang yang Sean pikir adalah pelakunya...