Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Masih menyakiti Fani


__ADS_3

''Euhhh..'' Seorang wanita nampak meringis kesusahan bergerak akibat rasa sakit di sekujur tubuhnya yang begitu rasa ngilu jelas terasa.


''Ahh, badan ku sakit semua.'' ucapnya meraba semua badan yang terasa ngilu.


Fani mengusap sisi bahu yang rupanya ia baru sadar kalau dirinya tak memakai baju Fani bingung kenapa bisa?


''Akhirnya bangun juga kau!'' ucapan seseorang membuat Fani terlonjak kaget


Fani langsung bangun dan duduk segera menatap pada asal suara tadi.


''Ka-kau.''


Sean menyeringai ia mematikan rokok nya dan beranjak dari duduknya lalu menghampiri Fani .


Fani semakin merapatkan tubuhnya pada punggung ranjang.


Kini, potongan-potongan ingatan soal semalam mulai jelas ke ingat oleh Fani. Tak terasa air mata kembali menetes dari pelupuk matanya.


'Jadi, yang semalam itu bukan mimpi ?'


Fani menggeleng ''Tidak....''


''Oh rupanya kau baru ingat hm?'' sentak Sean ia mencengkram kuat pipi Fani.


''Lep-pas!'' Fani menyingkirkan tangan Sean dengan kasar tapi Sean semakin menekan cengkraman nya.


''Berani sekali kau '' menatap tajam.


Fani pun menatap Sean penuh kebencian


Dengan air mata semakin deras. ''Aku membenci mu!''


''Heh, kau membenciku ya? Itu tidak mungkin! Karena harusnya kau memohon padaku! dan kau mulai mencintaiku!'' Sean jadi tidak waras


Fani menggeleng sambil tertawa mengejek ''Apa? cinta padamu. Heh, maaf aku tidak Sudi cinta sama pria jahat dan kejam seperti dirimu!'' Fani tidak akan tinggal diam lagi.


''Kurang ajar.''


Sean langsung menarik selimut yang masih membalut tubuh Fani yang polos.


''Ahhh!'' Fani terkejut


''Jangan!''


Sean menyingkirkan selimut dengan kasar dan membanting nya jauh.


Dan kembali Sean melakukan hal keji itu lagi kepada Fani. Sekarang tak ada lagi perlawanan dari Fani hidupnya telah hancur oleh pria ini, Pria yang kemarin Fani hormati kini menorehkan luka yang pedih dalam hati juga tubuhnya..


''Fan, aku mencintaimu !'' dengan tak tahu malunya juga tak punya perasaan setelah melakukan itu dia berkata mencintai


''Orang yang mencintai tidak akan mungkin menyakiti hati orang itu.'' sindir Fani dengan tatapan kosong


''Dan orang yang menolak ku, memang pantas di sakiti.''

__ADS_1


''Kau Memang gila!'' umpat Fani


''Hahaaa, Ya Fani ! aku memang gila, dan kau lah penyebabnya '' bentak Sean


Fani hanya menggeleng..


Sampai akhirnya pria tak waras itu kembali memberikan rasa hangat dalam inti bawah Steffani. Saat merasakan itu Fani baru sadar, ia langsung membulatkan matanya 'Tidak... Semoga Tuhan berbaik hati padaku ' doa Fani.


''Aku mencintaimu '' rupanya Pria ini kembali mabuk aroma itu lagi-lagi tercium menyengat di hidung Fani


Dua hari kemudian, Sean masih belum membiarkan Fani pulang bahkan kini kaki Fani dengan teganya Sean rantai dan tidak membiarkan Fani kabur, sungguh tega sekali.


Ceklek


Pintu Sean buka lalu Pria itu masuk ke kamar dan segera melihat wanita yang sedang meringkuk di bawah sana. bukannya merasa khawatir tapi Sean malah tersenyum miring.


Ponsel Sean selalu berdering dan itu dari Papi nya yang meminta bantuan pada nya karena Fani belum juga kembali pulang ke rumah sudah dua hari ini.


''Heh kau, dengarkan aku.'' Sean membawa wajah Fani agar mereka saling menghadap.


Fani hanya menatap kosong.


''Nih, biara pada teman mu dan katakan kalau kau dua hari ini tinggal dengan nya.!'' perintah Sean


Sebelumnya Sean sudah menemui Cici teman Fani dan ternyata di iming- imingi menjadi pacar salah satu anggota geng kobra Cici pun jadi nurut yang di perintahkan Sean.


Fani masih bergeming, ''Cepat! bilang Papi Lo lagi di rumah si Cici.'' Sean membentak kasar karena Fani hanya diam saja.


Dengan menyentak bahu Fani agar mau bersuara.


[Ha-halo..] Tak bisa menahan Fani suaranya parau dan sudah berkaca-kaca tapi saat


[Halo Fani, ini kamu Nak. Kamu kemana saja Nak ?] itu suara Papi Yoga nampak cemas dan ada rasa lega


[A-aku lagi d-di rumah Cici Pak.] lagi Fani harus menahan air mata dan rasa sesak di dada.


[Ohh, lagi di rumah teman mu. Tapi kenapa gak bilang dulu Nak, ini Mama mu sangat mencemaskan mu. Jangan seperti itu lagi Nak.!] Papi Yoga sedikit memberikan pengertian.


[Ma...] Fani langsung menutup mulutnya saat mendengar Papi Yoga menyebutkan sang Mama Fani ingin rasanya menjerit keras tapi lagi-lagi Pria tak berperasaan itu menatapnya penuh ancaman.


[Yasudah cepat pulang Nak.]


[Baik tolong katakan pada Mama jangan cemaskan Fani.!]


[Iya-iya, tapi tunggu suaramu kenapa Fani ? kau tak habis menangis kan Nak ?]


[Tidak Pak, tidak kok!]


[Yasudah hati-hati di sana!]


[Hmm] Fani mengangguk Walaupun Papi Yoga tak bisa melihatnya.


''Hikssss, Ma.. Maafkan Fani Ma!'' Fani meluapkan rasa sakitnya dengan menangis keras.

__ADS_1


Sean pria itu beranjak dan ia duduk di salah satu kursi yang berada di kamar itu.


''Kak.'' Fani memanggilnya


''Apa!'' cetus Sean


''Tolong biarkan aku pulang !''


''Belum waktunya.''


''Ke-kenapa?''


''Gue belum puas nyiksa Lo.'' menatap semakin dingin


Fani tersenyum miring sambil menggeleng ''Tidak puas ? aku sudah kaya gini kamu bilang belum puas. Lalu kamu mau bagaimana lagi ? Aku sudah sesakit ini?'' teriak Fani


''Salah mu sendiri kau selalu menolak perasaan ku. Maka nikmatilah hasil dari keputusan mu.''


''Ya! Akhirnya aku sadar dan aku tidak merasa menyesap karena telah menolak mu! Karena Pria jahat dan tak berperasaan seperti mu itu tidak pantas aku terima !'' Fani ikut tersulut emosi


Sean langsung bangun dan berjalan mendekati Fani lagi.


''Lancang sekali kau mengatai ku seperti itu hah? siapa dirimu, kau itu hanya anak orang miskin yang numpang hidup dari hasil uang nyokap gue! Lo sadar diri dong Lo dan nyokap Lo, cuma numpang hidup di rumah Papi gue!''


Fani langsung terkejut Sean pun mampu mengatakan itu, padahal sebelumnya Pria ini meyakinkan ibunya kalau Fani dan Mama Rina bukan orang yang mengincar harta Papi Yoga. Tapi hari ini Fani mendapatkan perkataan yang begitu menusuk.


Lalu Fani tertawa ''Hahaaa... Sungguh keputusan ku tidak salah. Karena memang kini kau sendiri yang berkata kita tidak cocok dan aku ini hanya seorang benalu iya? Tapi jangan pernah bawa-bawa Mama ku'' menatap tajam.


''Heh,, kau dan ibu mu itu sama saja.'' Sean tak mampu berpikir dalam keadaan emosi


''Aku bilang jangan pernah bawa nama ibu ku, dan ya aku kini sadar rupanya kau dan Mami kamu itu sama saja, tukang merendahkan orang !''


''Diam!'' bentak Sean


Sean yang kalap langsung menampar pipi Fani


Plakkk.


Fani meringis menahan rasa pedih sampai air mata jatuh dari pelupuk matanya.


''Lepaskan aku,!''


''Kau ku lepaskan setelah aku puas !''


''Kurang ajar.''


''Banyak bicara !'' merobek baju Fani dan kembali melakukan penyatuan.


Bab selanjutnya, Sean semakin berbuat sesuatu yang begitu membekas di hati dan memori Steffani. sehingga Fani mengalami trauma yang hebat ...


See you .


And happy new year all 💖💖

__ADS_1


Berikan satu kata untuk Sean.


Dan satu kata untuk Fani.


__ADS_2