
Sean merenung, Sean jadi kepikiran dengan pertanyaan temannya, yang mengatakan kalau dia menyukai Fani,
'Benarkah gue menyukainya ?' gumam Sean
''Woii, melamun aja Lo,'' Rian dengan sengaja berteriak mengagetkan Sean.
''Ah sialan Lo.'' mendelik kan mata kepada Rian
''Awas Lo kesambet '' sahut Yuda mengejek.
''Gak lah'' balas Sean.
*
Sekarang sudah waktunya pulang dari kampus. Sean bergegas keluar dari kelas dan berniat akan menemui Fani lagi.
Tiga temannya semakin keheranan dengan tingkah Sean yang buru-buru pulang begitu juga mengacuhkan mereka. benar-benar seperti bukan Sean.
''Mau Kemana tuh anak?'' Doni bersuara
''Entahlah'' sahut Rian mengangkat bahu
''Mungkin mau nyari yang bersegel'' celetuk Yuda masih saja kekeh ingat kesana.
''Lo ini.''
Yuda mah hanya tertawa tanpa dosa.
Dengan nafas tersengal Sean menengokan kepalanya kedalam kelas. Ia celingukan mencari Fani. Tapi tak ada Fani di sana. Lalu Sean Seperti melihat ada teman Fani. Segera Sean menemui perempuan itu.
''Hai,.'' Sean menyapa
Wanita yang lagi membereskan buku itu pun mendongak menatap pada orang yang tengah berdiri di sisi sampingnya.
Seketika matanya lagi terbelalak 'Di-dia'
Karena jarang sekali pria tampan Nomor satu di kampus ini, menemui seorang wanita, apalagi sepertinya.
''Iya.'' si wanita itu pun mengangguk pada pria tersebut dengan senyuman manis.
''Kamu ini temannya Steffani ya?'' tanya Sean segera
Kembali Cici mengangguk ''Iya kak benar'' jawabnya
Sean kembali menatap sekeliling ruangan ini, masih tak menemukan Fani. ''Sekarang mana teman mu itu?'' tanya Sean langsung pada intinya.
''Ohh Fani , dia mah sudah pulang kak, memang ada apa ya?'' gantian Cici yang bertanya.
''Sudah pulang'' ulang Sean
''Ya, ada apa memangnya? apa ada yang serius'' mendadak Cici merasa khawatir.
''Oh tidak ada apa-apa, cuma saya ingin tahu dimana dia, dan tadinya saya ingin mengajaknya pulang'' kata Sean bicara lempeng.
Tapi, Cici kembali terkejut 'Mengajak pulang? Apa, mereka sedekat itu?' tanya batinnya.
''Apa ...?''
''Kenapa?''
Cici menggeleng ''Ah tidak bukan apa-apa'' sambil tertawa kecil.
__ADS_1
''Oh, oh ya, kenapa kalian pulang nya tak barengan lagi?'' Sean merasa Ingin tahu.
''Tadi sih si Fani kayaknya buru-buru gitu pulangnya, entah mau kemana dulu dia, dia juga gak menjelaskan apapun'' jawab Cici
Sean Semakin merasa aneh terhadap sikap Steffani, mungkinkah benar dia menghindarinya?
''Yasudah, saya duluan.'' tanpa mendengar sahutan Cici Sean berlalu begitu saja.
Cici yang membuka mulut ingin bicara pun segera menutupkan lagi bibirnya itu, ''Huh, gue gak di ajak pulang gitu ya, datang cuma karena butuh doang.'' Cici sedikit kesal.
Dengan langkah lebar, Sean pun berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman kampus.
Tiba di rumah, rumah pun terasa sepi, entah kemana orang-orang ini.
''Eh Tuan muda, sudah pulang '' hanya si Mbok yang menyapa
''Iya mbok, dimana semua orang ?'' tanya Sean lantas ia memilih mengambil minum air dingin di dalam lemari pendingin. Dan segera meneguknya..
''Tuan besar dan Nyonya sedang keluar,'' jawab si Mbok
''Lalu Fani?'' tanya Sean menatap si Mbok
''Non Fani sih tadi sudah pulang juga, mungkin sedang di kamarnya'' jawab si Mbok lagi
Sean pun manggut-manggut tanda ia mengerti.
''Mbok, saya ke kamar dulu'' pamitnya.
''Iya tuan muda''
Sean melangkah pergi dari dapur. ia pun menuju kamarnya di atas, tapi saat melewati kamar Fani yang di bawah, Sean tak jadi naik ia lebih memilih berbelok ke kamar Fani. Terlebih dahulu.
Tok
Sean mengetuk pintu.
''Fan,''
''Fani.''
Sean memanggil Fani yang di dalam.
''Fani, buka pintunya'' nada Sean sedikit tinggi.
Sementara seorang wanita yang sedang di dalam kamar tersebut, dia baru selesai mandi, baru keluar dari kamar mandi tentu hanya memakai handuk saja.
Fani merasa kaget karena ada yang mengetuk pintunya dari luar, lalu saat di dengar orang itu bersuara dan itu rupanya Sean.
''Fani cepat buka pintunya'' teriak Sean.
''Itu suara Kak Sean, ada apa?'' gumam Fani tapi Fani merasa panik karena dia belum memakai pakaian nya.
Dengan asal Fani pun mengambil pakaian dan segera memakainya, Tapi rambut Fani belum si sisir sehingga rambutnya masih berantakan dan masih bercucuran Air sehabis keramas.
Ceklek, Fani pun membuka pintu kamar.
Saat pintu sudah terbuka, terlihat jelas seseorang sedang berada di sana.
''A-ada apa Kak?'' tanya Fani
''Sedang apa kamu? lama amat bukain pintunya?'' tanya Sean menatap Fani dengan mata memicing
__ADS_1
''I-itu kak, maaf buka pintunya lama'' jawab Fani tak menjelaskan dirinya sedang apa, kenapa lama.
Namun sebenarnya kini Sean sudah bisa menebak dari aroma wangi sabun yang menyeruak dari tubuh Steffani, juga air yang bercucuran di rambut Fani sudah dapat menjelaskan kalau Steffani baru selesai mandi.
''Boleh Kakak masuk?'' ijin Sean lebih dulu.
Walaupun sebenarnya Fani merasa keberatan tapi Fani mengangguk mengiyakan juga.
Fani menyingkir ke samping dan memberi jalan untuk Sean masuk.
Sean sudah duduk di kursi yang ada di kamar itu. Sean menatap Fani yang selalu menunduk, padahal mereka sudah cukup lama serumah. Fani masih berdiri di tempat yang tadi semula membuka pintu.
''Fan, sini!'' ajak Sean untuk Fani ikut duduk
''Aku, disini saja kak'' jawab Fani
''Gak apa Fan, ayo sini'' kembali pinta Sean
Tapi Fani menggeleng menolak.
''Kenapa Fani?'' nada Sean kembali sedikit tinggi
''Ti-tidak apa kak, tolong, aku disini saja'' Fani pun memohon pada Sean.
Sean sekarang membuang nafas kasar ke udara. Baiklah Sean tak akan memaksanya.
''Fani.'' kembali Sean memanggil
''Iya kak ada apa?'' balas Fani
Rasanya tak enak bila dia duduk dan berjauhan seperti ini, untuk berbincang. Maka Sean kembali berjalan ke depan pintu dan mendekati Fani. Dari jarak sedekat ini, sungguh Sean merasa ada yang hidup di sekitar sana. 'Sial..'
''Fani, kau kenapa?'' tanya Sean
''Kenapa bagaimana? tidak ada kak!'' kata Fani
''Fan, aku tahu, kau menghindari ku kan?'' akhirnya tanya Sean
''Ti-tidak kok kak.'' Fani menggeleng dengan terbata
''Jangan bohong, aku bisa merasakannya.'' Sean berkata dengan nada tegas.
''Aku, tidak menghindari kakak, kenapa harus menghindar'' bohong Fani.
''Lalu, kenapa pagi-pagi sekali kamu sudah ke kampus, juga saat pulang tadi katanya kamu buru-buru kata temanmu itu'' ujar Sean meminta penjelasan.
''Oh itu .... karena, aku ada janji sama - ''
''Janji, janji sama siapa?'' sentak Sean.
''Sama teman'' Fani merasa kaget dengan sentakan keras Sean barusan
''Teman yang mana?'' desak Sean
''Kakak siapa? memangnya kak Sean akan tahu dengan teman-temanku'' balas Fani yang merasa terintimidasi
''Ya .. temanmu yang perempuan yang waktu itu kan, kalau tidak salah, si Cici itu kan?'' tebak Sean.
''Bukan Cici, temanku banyak kok'' alibi Fani, padahal kenyataannya dia hanya punya satu teman yaitu Cici dan Rasya itu, hanya teman sewaktu ia sekolah menengah atas..
Sebenarnya, ada alasan kenapa Fani menghindari Sean, padahal menurutnya ia dan Sean tak ada hubungan apapun selain dari adik Kakak tiri, hanya itu saja, Memang akhir-akhir ini, mereka sempat dekat bahkan mungkin mulai dekat, tapi ada seseorang yang tak menginginkan kedekatan mereka. Entah sebagai adik Kakak, Fani dilarang mendekati Sean..
__ADS_1