Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Ketulusan Mama Rina, dan ada Raffi untuk Fani


__ADS_3

Papi Yoga langsung shock ketika polisi menjelaskan tentang kondisi Sean yaitu Sean ...


''Pak, kantor polisi di jalan xx mengalami kebakaran dan di nyatakan bahwa anak Anda menjadi korbannya, dan sekarang di larikan ke rumah sakit besar. Anak Anda tertimpa bangunan yang terbakar dan kondisinya sangat mengenaskan. Berakibat pada kulit tubuh yang tidak lagi sempurna.'' begitu yang polisi jelaskan.


''Ya Tuhan ... Tidak, Sean ... Kenapa seperti ini Se?'' Papi shock dia langsung menjerit keras dan merasakan sesak yang membuatnya kesusahan bernafas.


''Pa, kenapa ? Ada apa ?'' Mama bergegas memegang bahu suaminya dan menanyakan ada apa.


''I-itu, Rin. Se-sean di-dia dia, dia d-di kantor polisi ada kebakaran dan Sean terkena reruntuhan bangunan yang terbakar. Rin, kenapa jadi seperti ini.'' Papi Yoga tak sanggup menerima nya


''Sabar Pak, tolong tenanglah ya. Sudah-sudah.'' Mama Rina juga mengalami shock pastinya, tapi sebisa mungkin Mama Rina menenangkan dulu Papi Yoga.


''Sean ... Kenapa begini hidupmu, Se ? Kenapa kau begitu hancur Se, mengapa kau lakukan dosa besar itu Sean .... '' Papi Yoga bak orang gila berteriak kencang dengan menyebut nama Sean dan nasib hidupnya.


Fani langsung menegang ketika dia mendengar satu nama yang selalu disebut oleh Papi Yoga barusan.


Nama itu, kenapa terasa tak asing bagiku. Se-sean Sean, Sean. Ahhhh sakit, kenapa ini ?


''Akhhhh, sakit. Tidak ..., jangan ... '' tiba-tiba Fani pun histeris dan memegang kepalanya yang mendadak sakit lagi saat dia memikirkan siapa Sean.


''Sayang, kamu kenapa ?'' Mama panik saat tiba-tiba saja Fani malah berteriak sehisteris itu.


''Ma, takut-takut ... Tolong, tidaak ... Jangan, jangan .'' bayangan itu membuat Fani ketakutan kembali


''Sayang kamu mengingat sesuatu ? Tentang ... Sean?'' tanya Mama hati-hati dan penasaran


''Ma, dia jahat. Aku gak mau, tolong ... Jangan, jangan tidak.'' Fani menutup telinganya berharap bayangan dan tertawa Sean menghilang.


Mama langsung terduduk lesu, dua orang yang kini begitu dia sayangi malah hidupnya jadi seperti ini.


'Tuhan tolong kuatkan aku , menerima ini semua.' batin Mama


Tak membuang waktu lagi, Mama pun inisiatif menghubungi dokter Raffi dan nantinya akan meminta menjadi juga menenangkan Fani anaknya.


''Ada apa ini, Bu?'' tanya Raffi sudah datang

__ADS_1


''Anak saya histeris lagi dok, saat mendengar nama Sean dan .... '' Mama menjelaskan semuanya tentang Sean yang kini sedang terjadi pada dokter Raffi.


''Ya Tuhan, apa itu benar Bu?'' Raffi juga ikut terkejut


''Iya benar, makanya sekarang saya akan menemani Bapak dulu ke sana.'' ucap Mama


Ya Tuhan ... Sungguh besar sekali hati dan lapang dada ibu Fani ini, padahal beliau sudah di kecewakan oleh Sean dengan perbuatannya pada Fani. Tapi beliau masih mau menemani Pak Irawan menemui Sean, orang yang menyakiti anaknya. Saya begitu salut sama Ibu Rina ini. bisik batin Raffi


Sebelum ke rumah sakit.


''Rin, kalau kamu ingin menemani Fani tak apa Rin. Aku bisa pergi dengan sekertaris ku saja.'' ucap Papi Yoga saat Mama Rina siap membawanya ke rumah sakit.


''Gak apa-apa pak, insyaallah aku kuat dan ini sudah keputusan ku. Aku khawatir padamu pak, aku akan menemanimu. Fani sudah bersama dokter Raffi kok.'' balas Mama Rina.


''Beneran Rin, kau kukuh ingin bersamaku?'' kembali tanya Papi Yoga


Mama Rina mengangguk mantap.


''Te-terima kasih Rina, tolong maafkan aku Rin ... Yang gak bisa didik anakku. Padahal kalian ini orang-orang baik. Aku menyesal Rin, sangat menyesal.'' Papi Yoga kembali menangisi ini semua dan selalu dia menyalahkan dirinya sendiri.


***


Beberapa saat kemudian kini Mama Rina pun menemani Papi Yoga dan mereka sudah sampai di rumah sakit, untuk menemui Sean di rumah sakit besar, dan melihat kondisinya di sana.


''Sus, maaf. Pasien atas nama Sean Prayoga Irawan itu berada di ruangan mana ya?'' tanya Mama yang mendorong kursi roda Papi Yoga yang masih belum bisa berjalan akibat stroke nya.


''Oh masih berada di ruang operasi Bu, ada di sebelah sana dan nanti ada belokan kanan nah di situ Bu.'' jelas suster memberitahu


''Baik terima kasih sus.''


''Sama-sama bu, permisi.'' sopan suster


''Ya.'' angguk Mama


Mama juga Papi Yoga kepikiran separah itukah yang di alami Sean, hingga harus di operasi.?

__ADS_1


Hingga hampir dua jam menunggu, akhirnya operasi sudah berjalan lancar. Dan kini Sean di pindahkan ke ruangan rawat inap.


Papi Yoga langsung menjerit keras dia tak menyangka anaknya ini akan mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya.


''Sean ... Kenapa jadi seperti ini Se?'' tak tahan Papi Yoga menangis di menatap Sean yang penuh dengan perban di sekujur tubuhnya.


Mama pun ikut shock, ''Pa. Tenanglah.''


Sementara itu, Raffi memutuskan membawa Fani ke rumahnya. Sebab di sini sepi, dan Raffi tak mau ada fitnah dia tidak ingin mencari masalah.


Tapi sebelum membawa Fani pulang ke rumahnya. Dengan sabar Dokter Raffi menenangkan dulu keadaan Fani yang histeris ketakutan ini.


''Nona, Nona Fani. Hei, lihat saya.''


''Nona, kau bisa lihat saya kan?''


''Nona Fani, ayo tarik nafas keluarkan perlahan dan rileks lah.'' dokter Raffi membimbing agar Fani tenang


''A-aku takut. Aku takut ... ''


''Baik ok ok, tenanglah ya. Ada saya disini kok.''


''Ka-kau ini, Mas dokter kan? Bu-bukankah kamu ini , suami aku, dokter?'' samar-samar Fani mengingat hal ini


Cukup lama Raffi diam, tapi detik kemudian dia mengangguk, ''Hmm iya Nona.'' kini Raffi tak merasa bersalah lagi, sebab dia akan menjadi lajang sebentar lagi.


''Ayo ikut dengan ku mau kan, ayo.''


''Iya.'' angguk Fani walaupun masih gemetaran tapi tak setakut tadi.


Raffi pun bergegas membawa Fani pergi ke rumahnya. Dan di sana Raffi akan melakukan perawatan lagi pada Fani.


**


Semoga nanti di rumah Raffi, tak ada badai baru yang datang menimpa Fani ya..

__ADS_1


__ADS_2