Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Karma mereka


__ADS_3

''Kita akan kemana ?'' tanya Fani mulai tenang dan diperjalanan Fani bertanya pada Raffi, bahwa Raffi ini akan membawanya kemana.


''Kita akan ke rumah ku, kau tak keberatan kan?'' ucap Raffi menoleh sekilas


''Em, ya tak apa.'' Fani pun menurut saja


Maka tak lama sudah sampaikan Raffi mengemudi kan mobilnya dan kini sudah terparkir dengan sempurna di halaman rumah megah milik Mami Raffi tentunya.


''Ayo turun, kita sudah sampai.'' ajak Raffi


Fani menatap bangunan megah ini, ''Rupanya mas dokter ini orang berada ya.'' gumam Fani tapi bisa di dengar oleh Raffi


''Tidak juga Kok Nona, dan sebenarnya ini masih rumah Mami saya. Ya kami tinggal di sini saya dan Rasya. Tapi kadang Rasya jarang pulang dan memilih menempati apartemen yang lebih dekat dengan kantor nya.'' jelas Raffi


''Rasya ... '' Fani mengingat-ingat


''Ya Rasya teman mu saat sekolah dan dia itu adalah adik saya.'' beritahu Raffi niat mengingatkan


''Oh ya Rasya, aku sedikit ingat .'' sahut Fani mengingat bayangan Rasya walau kadang agak buram bayangan itu.


Saat ini, memang sengaja dokter Raffi melakukan hal ini. Dia hanya akan mengingatkan Fani soal hidupnya yang dulu saja, agar Fani tak merasakan ketidak nyamanan bila harus di ingatkan dengan kejadian-kejadian akhir-akhir ini.


***


Mami menatap heran ketika anaknya datang dengan membawa satu orang perempuan cantik dan muda.


"Raff, ini siapa ?'' tanya Mami menunjuk Fani


''Mi, ini pasien Raff.'' jawabnya


''Loh tapi ada apa ? Kenapa di bawa ke sini?'' Mami masih kebingungan


''Mi, tolong untuk beberapa saat saja biarkan Fani di sini dulu ya. Dan nanti malam Raff ceritakan ke Mami.'' mohon Raffi meminta izin


''Tapi Raff, gimana kalau Laura tahu?'' Mama mencemaskan hal ini


''Tenang lah Ma, dia sedang tak ada di sini. Raff tahu Laura lagi ke luar kota.'' ucap Raffi


''Beneran Raff ?''


''Hm benar ma, jadi tenang saja ya .'

__ADS_1


''Ya baiklah Raff,''


''Ma, tolong ajak Fani ke kamar tamu. Raff ingin menyegarkan tubuh dulu.'' pinta Raffi


''Ya baiklah, ayo Nak ikut Tante.'' ajak Mami memang ramah


Fani menatap Raffi terlebih dahulu, ''Pergilah ini Mami saya, dia tidak jahat kok.'' ucap Raffi pada Fani


Fani pun mengangguk mau ikut dengan Mami nya Raffi ini.


Di kamar,.


''Nak, kau ini pasien nya anak saya kan. Tapi apa yang terjadi sampai anak saya membawa mu ke sini kalau boleh tahu Nak ?'' tanya Mami dengan hati-hati


''Saya ... Saya ti-tidak bisa jelaskan Tante, saya takut.'' Fani pun tak mampu mengatakan apa-apa dia jadi ketakutan yang ada.


''Ok yaudah, jangan takut Tante gak akan nanya lagi ya, ini minum lah agar kau lebih tenang.'' Mami memberikan Fani minum


''Te-terima kasih Tante.'' ucap Fani


''Sama-sama kamu tidurlah istirahat ya. Jangan banyak pikiran.''


''Nak, boleh Tante bertanya ?''


Fani mengangguk.


''Kamu, apa ini kamu sedang mengandung ?'' itu tanya Mami


''Iya .'' jawab Fani


''Oh begitu ya.'' Mama pun berpikir apa wanita ini adalah korban pemerkosaan, atau bagaimana atau korban suaminya .


Ehh tunggu, kemarin Raffi bilang dia menyukai satu pasien nya kan. Apa maksudnya wanita ini? Ah tidak, tapi kan dia ini tengah hamil. Lalu kalau benar, apa itu maksudnya. Tak mungkin kan Raffi anakku menyukai wanita yang sedang hamil anak orang..?


Sungguh Mami begitu penasaran dan bertanya-tanya


Lalu Mamo bertanya lagi, ''Nak, apa kau punya suami?'' ucap Mami


Fani kembali mengangguk,


''Apa jadi benar kamu ini sudah punya suami Nak?''

__ADS_1


''Benar Tante, dan suaminya itu adalah dokter Raffi.'' jawab Fani


Duuarrrr!


Mami langsung kaget saat wanita ini menyebutkan Raffi anaknya adalah suaminya.


''Apa? Raffi, suami mu? Apa artinya ini juga anaknya Raffi??'' Mami sedikit berteriak


''Be-benar Tante.'' jawab lirih Fani dia jadi takut


''Oh Tuhan, apa ini maksudnya. Raffi, kamu menghamili orang.'' Mami mengusap kasar wajahnya


**


Di lain tempat. Di rumah sakit besar tempat Sean di rawat saat ini.


''Sean, segera lah bertaubat Nak. Lihat ini adalah hukuman untuk mu.'' ucap Papi pada Sean yang terbujur kaku dengan tubuhnya penuh dengan perban


''Bisa bicara sebentar ada yang ingin saya sampaikan kepada keluarga pasien.'' ujar dokter


''Ya bisa Dok.'' balas Papi


''Baiklah mari ikut saya.''


Papi mengangguk dan mengikuti sang dokter.


Setelah sampai di ruangan dokter itu.


''Dok, ada apa ? Dan bagaimana keseluruhan kondisi anak saya?'' tanya Papi segera


''Begini Pak, sebelumnya saya mau menyampaikan bahwa anak bapak mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya juga ada bangunan yang runtut akibat terbakarnya bahan itu, sehingga jaruh menimpa kaki pasien. Dan ini mengakibatkan harus di lakukan nya operasi dan mungkin untuk waktu yang lama anak bapak akan mengalami kelumpuhan akibat benturan yang keras dan juga tentunya ada luka bakar.'' jelas dokter


''Ya Tuhan Sean.'' Papi menangis merasa sedih dengan yang terjadi.


''Pa, sabar.'' Mama ikut dan menenangkan Papi Yoga


''Dan ya pa, Bu. pasien juga tadi dengan terpaksa harus dilakukan operasi di area wajahnya sehingga, akan ada luka bakar dan kecacatan di wajah pasien.'' lanjut dokter


''Sean ... '' Papi menangis keras di ruangan ini


Dan kabar teman-teman Sean merasa juga sama terkena luka bakar karena satu sel yang sama. Namun luka mereka memang parah tapi tak separah Sean. Mereka Doni Yura dan Ryan hanya mengalami luka bakar di area tangan, punggung. Kaku dan kepala yang botak saja akibat terkena api. Namun tak separah Sean yang harus di operasi dan wajahnya terluka parah.

__ADS_1


__ADS_2