Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Masih di rumah Papi Yoga.


__ADS_3

Sean baru bangun tidur Sean merasa haus tapi sayang di atas nakas tak ada air minum yang selalu di sediakan oleh si Mbok.


''Ah mungkin si Mbok lupa ngisi air minum.'' gumam Sean.


Lantas Sean pun pergi ke dapur tentunya untuk segera minum air putih karena memang itu kebiasaan Sean kalau ia baru bangun tidur.


Saaat sudah mau sampai di dapur Sean dikejutkan dengan adanya suara gelas yang pecah hingga menimbulkan suara yang nyaring terdengar.


Cepat-cepat Sean berjalan lebar untuk melihat apa yang terjadi, apakah itu kucing? tebak Sean. Namun rupanya tebakannya salah, justru ia mendapati di sana terlihat ada Fani dan juga ayah tirinya. Ah ya menyebutnya seperti itu Sean merasa lucu, memiliki ayah tiri yang tak jauh umurnya dengan nya.


''Heh, suara apa tadi itu? Apa yang pecah?'' tanya Sean Sepertinya mengagetkan dua manusia itu.


Mereka alias Fani dan Reno saling menatap Sean berbarengan.


''Awas kalau kau berani ngadu padanya '' Fani masih bisa mendengar suara pelan dari pria itu yang berbisik mengancamnya.


Fani pun membereskan pecahan gelas yang tadi ia sengaja jatuhkan, lalu setelah selesai membereskan cepat-cepat Fani pergi dari hadapan dua pria ini.


''Permisi.''


Sean merasa aneh dengan Fani ia ingin bertanya apa yang terjadi namun Steffani sudah keburu pergi.


''Sedang apa kau disini?'' tanya Sean dengan nada dingin dan menatap tak suka pada Reno.


''Aki hanya haus ingin minum,'' lalu mengambil gelas dan mengisi air. Lalu meneguknya, ''Kenapa kau menatap ku seperti itu?tadi wanita itu sedang mencuci gelas dan Sepertinya tangannya licin dengan sabun sehingga gelas itu jatuh dan pecah.'' kembali Reno melanjutkan ucapannya dengan membuat kebohongan agar Sean percaya.


''Lalu sedang apa kau di rumah ini?'' tanya Sean lagi merasa bingung pagi-pagi sudah ada orang asing di rumahnya.


''Aki disini bersama Mami mu, kami ingin berkenalan dengan ibu tirimu'' jawab Reno menjelaskan kenapa bisa ada dirinya di rumah ini.


''Yasudah cepat pergi dari sini.'' usir Sean yang telah muak lama-lama menatap benalu itu. Sean tak ada takut-takut nya.


''Kau, yang sopan bicara dengan ku, jangan kurang ajar. Begini begitu juga aku ini ayah mu juga!'' Reno terpancing emosi melihat tingkah Sean padanya mengusirnya seperti tadi.


Mereka saling tatap dengan wajah sama-sama menahan marah, Sean menatap benci dan jijik pada suami Mami nya pun dengan Reno menatap tak suka dengan sikap Sean yang tak menghormatinya.


''Kenapa masih di sini, cepat pergi!'' kata Sean lagi yang tak gentarnya

__ADS_1


''Ya, tanpa kau suruh aku akan pergi.Tapi ingat Se, aku ini berarti bagi Mami mu, jadi jangan kurang ajar padaku'' balas Reno tersenyum miring lebih tepatnya menyeringai


''Terserah!'' Sean pun melangkah dan dengan sengaja menyenggol bahu Reno dengan kasar lalu Sean menuangkan air kedalam gelas dan meminum di depan Reno tanpa bersalah. Sean menunjukkan siapa dirinya di rumah ini, dan Sean menampilkan wajah datar dan dingin.


Reno pun kembali ke ruang keluarga dimana disana masih ada istrinya. Papi Yoga dan Mama Rina. Tidak ada Steffani. 'Oh kemana wanita itu?' tanya batin Reno


Sean ingin melihat ke depan benarkah di sini sekarang ada Mami nya seperti yang dikatakan oleh pria benalu itu. Dan saat ia mendengar seperti ada suara orang di ruang keluarga Sean dapat melihat benar juga Mami nya memang sedang duduk di sofa berhadapan dengan Papi nya dan Mama Rina.


Tapi Sean tak menemukan Fani ikut bergabung di sana.


Karena sekarang Fani tengah menangis tanpa suara di dalam kamarnya , Fani memeluk bantal sambil menutup mulutnya dengan bantal itu agar ia tak mengeluarkan suara saat menangis.


''Ma, Fani harus bagaimana? mereka orang jahat Ma! Fani tak mau tinggal di rumah ini.'' ucap Fani dengan masih terisak


''Ma, Fani takut Ma, tapi Fani tidak mau Mama khawatir dan sakit'' Steffani bingung haruskah ia bicarakan ini pada Mama nya tapi Fani tidak mau Mama Rina ikut cemas dan memikirkan masalahnya. Tapi Fani juga merasa ketakutan memendam ini sendirian.


''Ma .... Fani harus gimana ini Ma!'' Fani menjerit dalam hatinya.


Tok Tok


Suara pintu kamar Fani ada yang mengetuk


Fani merasa waspada.


Tok Tok


''Fan, ini kakak, kamu di dalam?'' itu suara Sean


Fani merasa lega tapi mau apa dia?


''Fani kau di dalam tidak?'' kata Sean lagi memanggil


''I-iya Kak, ada apa?'' Fani menyahut dari dalam.


''Buka Fan.'' pinta Sean


Fani lebih dulu membilas wajahnya dengan air agar tidak terlalu kelihatan matanya membengkak bekas menangis tadi.

__ADS_1


Ceklek


Fani membuka pintu.


''Ada apa Kak?'' tanya Fani pelan tapi ia menunduk menyembunyikan wajahnya.


''Kau baik-baik saja?''


''Ya'' balas Fani


''Ayo ikut gabung dengan mereka, Kau sudah menemui Mami ku?'' tanya Sean


''Iya Kak tadi sudah ketemu kok.''


''Oh gitu, yasudah ayo ke sana.!'' ajak Sean


Fani menggeleng menolak ''Maaf Kak, aku di sini saja.'' ujarnya


''Kenapa? apa Mami mengatakan sesuatu yang menyakiti mu lagi?'' tebak Sean


''Eh tidak kak, bukan begitu.'' jawab Fani


''Lalu kenapa tidak mau? apa pria tadi melakukan sesuatu padamu?'' Sean menebak lagi.


''Tidak kak, bukan begitu.''


Sean mau bersuara dengan membuka mulut tapi segera Fani memotong ''Kak please biarkan aku di sini.'' tegas Fani


''Ya baiklah.''


Mami Sarah merasa penasaran kenapa anak itu tak kembali lagi setelah tadi memberikan minum Mami Sarah menebak pasti Fani sedang bersama Sean.


''Mas Yoga, Sean dimana?'' Mami Sarah pun langsung menanyakan pada Papi Yoga.


''Sean masih tidur di kamarnya.'' jawab Papi Yoga


''Oh gitu, aku mau melihatnya dulu.'' Mami Sarah pun beranjak lalu pergi dan akan melihat Sean di kamarnya.

__ADS_1


Mami Sarah berjalan menuju lantai namun Mami Sarah sekilas melihat ada kamar bawah yang terbuka pintunya, sehingga Mami Sarah merasa penasaran pun berbelok ke kamar bawah itu dan berniat akan melihat di dalamnya.


__ADS_2