
Fani terkejut dengan kedatangan tiga pria itu, di tambah dengan kondisi yang cukup mengenaskan. Mereka semua adalah Rian, Doni, serta Yuda. Tubuhnya penuh dengan luka bakar beberapa tahun lalu akibat kebakaran nya lapas yang menjerat mereka dari perbuatan mereka pada Fani dulu.
Tapi Fani masih belum ingat siapa tiga pria ini, walaupun terkadang seperti ada bayangan suatu kejadian yang entah apa itu.
''Mas, a-aku takut.'' lirih Fani pada Raffi suaminya
''Tenang kan dirimu Dek.'' ujar Raffi mengusap pundak Fani.
''Fani, tolong maafkan saya.'' Doni berlutut
''Iya Fani, maafkan saya juga tolong.'' pinta Rian
''Fani, saya mohon maaf kan perbuatan kami, Fani.'' mohon Yuda
''A-aku tidak mengerti maksud kalian ini apa?Aku tidak ingat dengan kalian, ta-tapi entah mengapa aku merasa kalian ini begitu keji, hikksss. Ta-tapi a-aku tidak ingat apapun. Kenapa aku tak mengingat nya, tapi bayangan itu selalu menghantuiku kenapa ?'' jerit Steffani
''Hikksss, apa yang selalu ada dalam bayangan ini itu adalah kalian hah?'' tanya Fani dengan menahan desak di dada saat merasakan ada hantaman dadakan di dada rasanya itu .
Mereka si penjahat teman Sean saling tatap satu sama lain. Kemudian mengangguk sama-sama.
''I-iya Fani, itu kami.''
''Maka tolong kamu maafkan kami Fani.''
''Kami tidak bisa hidup tenang Fani, kami merasa kesakitan luar biasa. Akibat rasa bersalah ini Fani.'
''Iya makanya kami datang ke sini Fani, untuk meminta maaf dan berharap kamu mau memaafkan aku.'' ucap mereka
''Berhenti .... Jangan lagi bicara ! Aku tidak ingin mendengar suara kalian, pergi .... Pergi, ku mohon pergi lah , aku takut , aku gak mau.'' Fani histeris
''Kalian pergi lah sudah sana!'' usir Rasya
''Tapi kami--''
''Cepat pergi !'' bentak Raff kini
''Sudah tenang ok, ada aku di sini.''
''Hikksss iya.''
***
Seharusnya ini menjadi malam pertama yang indah bagi seluruh manusia yang sudah melangsungkan pernikahan. Tapi sayang hal itu harus di tunda dulu bagi dokter tampan ini.
Namun karena cintanya terhadap Fani begitu besar, sehingga Raff akan sangat sabar menunggu sampai Fani mau dan siap dengan sendirinya.
__ADS_1
''Mama, Ayah, Fika mau bobok di sini.'' ucapnya si anak perempuan cantik ini Fika menatap pada dua manusia dewasa itu.
Fani menoleh dulu kepada Raffi, Fani ini sudah dewasa tentu tahu bila orang yang telah menikah malam nya mungkin akan melakukan sesuatu hal yang mengejutkan, walaupun kini tidak bisa di pungkiri Fani juga tengah merasakan deg-degan, akankah Raffi meminta hak nya sekarang? Lalu tiba-tiba anaknya Fika, datang meminta tidur bersama mereka. Apakah ini membuat Raffi kesal. Begitu lah yang ada dalam pikirannya Fani.
Raffi mengerjap mata pada Fani dengan tanda isyarat bahwa dia tidak masalah.
''Afika, Fika mau tidur sama Ayah dan Mama?'' tanya Rafi
''Iya Ayah, Fik mau bobok di sini Ayah, boleh kan?'' ucapnya meminta ijin dan itu menggemaskan bagi Raffi
''Ohh itu tentu boleh dong sayang.'' ucap Raffi
''Asikkkk, beneran Yah?''
''Iya benar, boleh ayo sini kita bobok.''
''Iya ayah.'' Fika pun berbaring di tengah mereka.
''Mas.'' panggil Fani merasa tak enak.
''Tidak apa Dek, dia itu kan anakku. aku tidak masalah kok tidur kita bertiga seperti ini.'' Raffi menjelaskan
''Tapi Mas, ini kan ... '' Fani sedikit malu mengatakannya
Fani menunduk dan menggeleng, ''Maaf mas.'' cicit nya dengan malu tapi juga merasa bersalah
''Tidak apa-apa Dek, aku sangat mengerti dan aku akan menunggu mu sampai kau siap.'' ujar Raffi serius
''Te-terima kasih, mas dokter.''
''Sama-sama, ayo tidur.'' ajak Raffi
***
Di lain tempat, seorang pria dia justru sedang uring-uringan karena memikirkan ini adalah malam pertama Fani sama suaminya.
''Harusnya gue yang kini menjadi suami Lo Fani.''
''Dan harusnya gue juga, yang miliki Lo Fani ... Tapi apa lihat sekarang, gue tersiksa gue bo-doh memang Fani.''
Akhirnya rasa penyesalan Sean, ia rasakan juga. Sean menyesal melakukan itu. Harusnya dia tidak menuruti ego nya, padahal satu langkah lagi dulu Sean akan mendapatkan Fani. Tapi karena rasa ego yang terlalu besar, Sean melakukan hal gila itu.
''Tuan muda, tolong tenang lah.'' ucap Mila meminta Sean agar tenang dan dia sedikit takut bila Sean sudah seperti ini.
''Diam kau Mila! Kau tidak bisa merasakan menjadi gue, makanya kau berkata kaya gitu iya kan? Maka diam lah.'' bentak Sean
__ADS_1
''Ma-aaf kan saya tuan muda, tapi ini demi kebaikan anda sendiri.'' ujar Mila lagi
''Diam ... Diam, diam. Ku bilang diam lah!'' Sean melotot pada Mila.
''Fani, gue rasa sekarang ini Lo sudah melakukan hal gila dengan tuh pria brengsek. Fani, gue gak terima Fani .... Gue gak terima, Lo berduaan dengan si brengsek itu.'' marah Sean dan berasumsi bahwa Fani tengah memadu kasih sama Raff malam ini. Padahal kenyataannya tidak sama sekali.
Sean menatap intens pada Mila, perawat nya itu. Mila wanita muda, berkulit putih dan Sepertinya perempuan masih polos.
''Mila.'' panggil Sean
''I-iya tuan muda. '' balas Mila
''Tatap ke sini!'' menunjuk dirinya
''Ada apa?'' tanya Mila bingung
''Apa aku ini mengerikan atau tidak?'' tanyanya
Mila diam, dia harus jawab apa? jujur atau berbohong.
''Mila, jawab. Aku mengerikan apa tidak?'' bentak Sean
''Ti-tidak Tuan.'' jawabnya lirih
''Jawab yang keras, gue gak bisa dengar! Dan tatap mata gue!'' kembali membentak
''Tidak Tuan.'' tegas Mila sambil menatap Sean
''Bagus, kalau begitu mendekat lah.'' suruh nya lagi
''Kenapa tuan?''
''Cepat mendekat.'' Mila dengan ketakutan sedikit mendekati Sean.
''Lebih dekat!''
Mila mendekat lagi.
''Karena kekasih ku, malam ini sedang memadu kasih. Gue gak terima, bila gue hanya merenung Seperti ini. Maka gue ingin Lo temani gue, Mila!'' ucap Sean
''Ma-maksudnya temani bagaimana tuan?''
''Temani gue, ya Lo tidur sama gue Mila.'' ucapnya mengajak Mila bermain dan itu memang gila.
''Apa? Tidak ... '' Mila terkejut dan segera berlari menjauh dan ia tidak mau mendekati Sean lagi.
__ADS_1