
Othor sangat deg-degan.
Karena sudah mau ke bab, dimana kesedihan Steffani akan terjadi.. Dimana Sean Prayoga Irawan akan merenggut sesuatu yang berharga dalam hidup Steffani.
*
Masih suasana pagi hari, juga dua insan masih bergulung selimut tebal.
''Fani, bangun Nak, sudah siang'' Suara sang Mama membangunkan Steffani yang masih tertidur pulas juga suara ketukan pintu terdengar.
''Nak, bangun cepat '' teriak Mama Rina lagi
''Emh, iya Ma!'' Fani pun berteriak menyahut dengan mata masih setengah terpejam. Suaranya pun jelas serak bangun tidur.
''Yasudah cepat mandi ''
''Iya!''
Setelah itu tak ada lagi suara Mama Rina..
Fani coba membuka matanya yang berat ini, juga kok rasanya tubuhnya berat ada yang menindih mungkin, aneh, guling nya bisanya tak seperti ini.
''Aaaaaa.....'' kembali Fani berteriak histeris bahkan kali ini sangat kencang suaranya.
''Uhhh berisik, diamlah, gue masih ngantuk '' Ucap sang pria.
''Bangun, kenapa di-disini?'' Fani mendorong badan pria itu dengan kasar sehingga pria tersebut terjungkal dan jatuh ke bawah.
''Awhh sialan sakit, siapa yang berani woii'' pekik Sean marah juga mengaduh.
Fani mematung di atas kasur dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Juga pria itu perlahan bangun. Dan ia ikut terbelalak karena ada seseorang di kamarnya, Sean belum sadar .
''Kamu?'' tunjuk Sean
''Kak, ke-kenapa kau disini?'' kata Fani
__ADS_1
tatapan mereka bertemu.
''Kau yang sedang apa di kamarku ?'' balas Sean
''Kamar mu? ini kamar ku kan'' jelas Fani
Lalu Sean menatap sekeliling, Ah iya bener juga ini kamarnya, lantas kenapa Sean bisa ..
Tok
Tok
Tok
''Sayang, kau kenapa ? kenapa teriak-teriak, ada apa ?'' suara Mama Rina terdengar lagi dengan nada cemas .
Itu sukses membuat Fani panik ''Aduh bagaimana ini, Mama di luar'' katanya sangat panik.
''Hei tenanglah '' bisik Sean yang merasa terganggu dengan tidak bisa diamnya Fani, yang kesana kemari.
''Ya tapi kamu nya diam dulu, bisaa kan ''
''Fani, buka pintunya, ada apa ?'' sekarang suara Papi Yoga yang terdengar.
''Ha, itu Pak Yoga. Kak gimana, aku gak mau mereka salah paham '' kata Fani semakin panik.
''Aku gak bisa mikir kalau kamu gak mau diam, aku pusing lihat kamu'' kata Sean.
''Ya lalu gimana ?'' sekarang Fani duduk tapi wajahnya masih jelas ketakutan.
Sean berjalan ke jendela samping kamar Steffani, saat di buka sedikit, sial di sana kenapa harus ada si mbok yang lagi bersih-bersih..
''Di kamar mandi kak'' usul Fani
Sean menggeleng
''Kenapa ?''
__ADS_1
''Papi dan Tante Rina, bakal lihat kesana'' ucap Sean.
''Lalu gimana, aku gak mau Mama lihat kita'' ujar Fani
''Fani, jangan buat Mama khawatir'' itu Suara Mama Rina lagi sambil kenop pintu di buka paksa
Sean menatap sekeliling .
Sean berjalan ke arah lemari pakaian Fani, ia pun segera masuk kedalam lemari itu. Dan Fani segera mengunci dari luar. .
Fani mengeluarkan nafas nya dulu ke udara untuk menghalau rasa gugup juga panik sedari tadi dia rasakan.
Saat dirasa dirinya cukup tenang Fani pun segera membuka pintu kamar nya itu. Saat pintu sudah di buka, Mama Rina segera masuk kedalam dan melihat Fani barangkali terjadi sesuatu pada anaknya ini..
''Sayang ada apa ?'' tanya sang Mama, sambil memeriksa tubuh Fani
Fani menggeleng ''Fani gak kenapa-kenapa kok ma, Memang tadi Mama Kenapa sampai gedor pintu manggil Fani?'' Fani pura-pura tidak tahu.
''Kamu ini, ya Mama khawatir padamu tadi Nak, karena Mama dengar ada suara kamu tadi berteriak sangat kencang, Mama kan jadi khawatir padamu''
''Iya, Nak, ada apa tadi kamu kenapa? bapak juga tadi denger kamu teriak'' tambah pak Yoga menanyakan.
''Ohh yang tadi itu ya Ma, Pak, maaf kalau Fani buat kalian khawatir, tadi itu Fani kaget karena tiba-tiba ada kecoa'' alasan Fani
''Kecoa?'' ulang Pak Yoga namun dalam hatinya ia tak percaya, apa iya di rumahnya ada serangga, Karena Pak Yoga sudah menjaga rumahnya dari hewan semacam itu.
Tapi pak Yoga tak berkata apapun. mungkin saja benar tadi ada kecoa.
''Fani ini takut sama kecoa Pak'' Mama Rina memberitahu pada Papi Yoga, kalau Steffani takut dengan hewan itu.
''Oh gitu'' Pak Yoga manggut-manggut mengerti sekarang. pantas Fani berteriak seperti tadi..
Rupanya orang yang sedari tadi mendengar percakapan mereka nampak tak Terima Ia di samakan dengan hewan menjijikkan itu Kecoa, gue! awas Lo Fani..
Sean tak terima, sudah pasti.
Pria sekeren dia di sebut kecoa. Apa tak ada hewan lainnya yang bisa Fani sebut, selain kecoa? yang lebih bagusan dikit!' Sean mengomel dalam hati . .
__ADS_1