Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Lamaran Raffi dan tersiksa nya Sean


__ADS_3

Tiga tahun kemudian ....


Tak terasa kini Fani sudah menjadi seorang ibu selama tiga tahun.


Dan berangsur membaik kondisinya Fani sudah tak lagi takut terhadap pria manapun.


Karena Fani rutin menjalani pengobatan tentu di temani oleh dokter Raffi, dokter yang memang ahlinya dalam bidang itu.


Suatu hari, Fani bertanya-tanya. Benarkah dia ini istrinya Raffi ? Tapi, yang Fani rasakan itu seperti bukan.


Hingga pada akhirnya, Raffi menyatakan cintanya untuk Steffani Flower. Karena kebetulan Fani selalu menanyakan hubungan mereka ini. Apakah ada yang sudah berumah tangga tapi hidup terpisah?


Dan mungkin ini lah saatnya Raffi mengatakan isi hatinya. Ini jalan nya . Selama ini Raffi cukup memberikan perhatian dan kasih sayang untuk Fika, Anaknya Fani. Yang menyebut dirinya Ayah itu.


Benar, rupanya Raffi dengan anak Fani sudah sedekat ini.


''Fani, aku mencintaimu juga aku menyayangi Fika, aku ingin kita bersama Fan.''


''Em mas dokter, apa ini maksudnya mas ? Sebenarnya kau bukan lah suami ku kan?'' tanya Fani menunjukkan wajah serius


''Maaf Fan, sebenarnya itu semua ada alasannya.'' ucap Raffi


''Sebenarnya ada apa ? Lalu, tapi apa Fika juga bukan anak mu mas ?'' walaupun sebenarnya cukup berat untuk Fani terima, tapi Fani merasa dia harus menerima kenyataan bila benar Fika bukan Anaknya Raffi.


''Fan, Fika anakku. Aku menyayanginya.'' jawab Raffi ambigu


''Hm? Dia anak mu, tapi aku bukan istrimu. Apa ini maksudnya?'' Fani kebingungan


''Begini saja Fan, apa kita menikah saja bulan ini . Bagaimana kamu mau tidak?'' ucap Raff mengejutkan


''Me-menikah mas?''


''Ya, kamu mau kan. Kita resmikan hubungan kita berdua. Aku akan setia kok Fan.''


''A-apa ini suatu lamaran?'' ujar Fani dengan tertawa tertahan


''Bisa di katakan begitu Fan. Aku yakin Fika juga akan bahagia mendengar hal ini.'' ujar Raffi

__ADS_1


''Jadi mas ini maksudnya benar kan, kalau kau bukan suami ku selama ini?'' ini selalu menjadi tanda tanya besar bagi Fani.


''Maaf ya Fan.'' hanya itu jawaban Raffi


Fani mengangguk mencoba memahami saja, sebenarnya waktu lalu. Fani dia tiba-tiba teringat dengan suatu kejadian yang membuat nya berkeringat dingin di sepertiga malam.


Bayangan wajah satu orang pria datang dan muncul di kepalanya.


Orang itu tertawa jahat, menyeringai dalam bayangan itu. Hingga akhirnya Fani sedikit mengingat kejadian kelam dulu.


Tapi Fani melawan rasa takut itu , dia tak ingin menghindar lagi. Fani berteriak dan bertanya pada memori tersebut. ''Apa mau mu hah? Kenapa selalu muncul dalam ingatan ku ini. Biarkan aku bahagia, aku ingin hidup normal , aku ingin bahagia bersama anakku. Pergi ... Ku mohon pergilah! Pergi ... Jangan lagi datang mengganggu ku, pergi hikssss aku ingin bahagia.''


Hingga kini Fani sedikit-sedikit mengingat memori itu dan dia harus melawan rasa ketakutan nya. Fani harus bisa dan harus bangkit.


Sampai akhirnya Fani menemukan dokter Raffi, yang selalu ada untuknya. Untuk anaknya juga, Fika flowers.


Fani pun merasakan nyaman dan mendapatkan perlindungan dari dokter muda ini.


''Kau mau menikah dengan ku,kan Steffani?'' entah bagaimana tapi kini Raffi memberikan cincin pada Fani.


Fani terkejut, apakah pernyataan ini sudah di rencanakan olehnya, pikir Fani. Sebab di pertemuan mereka kali ini, tiba-tiba Raffi mengulurkan cicin dan menyatakan ingin menikahinya.


''Ini nyata Steffani, bukan mimpi. Mau kah kau menikah dengan ku, Steffani?'' kembali ulang Raffi dengan serius dan tegas.


Fani menatap dokter Tampan ini. Kakak dari temannya Rasya, dia adalah pria baik, dewasa bertanggung jawab dan sayang Fani serta anaknya.


Fani pun tidak ragu dia mengangguk mau. ''Ya mas.''


''Kau terima Fan, ini beneran?'' kini berbalik Raffi yang nampak seperti mimpi


''Iya mas, ini beneran. Aku mau.'' jawab Fani dengan malu-malu


''Alhamdulillah ... Terima kasih Fani, aku bahagia . Akhirnya .... '' tak sadar Raffi sampai menggendong Fani begitu saja memutarkan tubuh yang sedikit ramping itu.


''Aaaaaa ... '' Fani memekik terkejut


Pernikahan di adakan akhir bulan ini.

__ADS_1


**


''Ayah, ayah ... ''


''Iya nak, ada apa?''


''Mo ice krim Ayah.'' pinta anak kecil itu di suatu taman


''Oh mau Ice krim yang itu ya Fika?''


''Iya ayah, mo itu. Ayah, ayo beli Ayah.'' rengek nya menggoyangkan tangan si pria yang di sebut ayah ini.


''Ya ya, baiklah. Tunggu dulu di sini ya, jangan kemana-mana awas.'' peringat nya sebelum pergi beli Ice krim nya


''Iya baik ayah, Fik tunggu sini.'' jawab si kecil yang rambutnya di kucir dua ini.


Kemudian si pria tadi pergi untuk beli Ice krim nya.


Sementara jauh di sana, ada satu orang pria lagi dia duduk di kursi roda tak berdaya. Tapi menatap melihat intens si anak kecil. Walaupun anak itu berjenis kelamin perempuan, tapi tak dapat di pungkiri kalau sebenarnya wajahnya adalah duplikat nya wajah pria ini.


''Mila, antarkan saya ke sana.'' pintanya menunjuk pada si kecil


''Maaf Tuan, tapi ... Kan kata Tuan besar tidak boleh.'' Mila mengingatkan


''Cepat! Ke sana.'' bentak nya sama si perawat yang selalu menolong nya dalam kesusahan menggerakkan kaki.


''Saya, saya takut Tuan.'' Mila si perawat sudah di wanti-wanti oleh Papi Yoga untuk tak membiarkan si tuan muda ini menemui Fika dan hanya boleh melihat dari kejauhan saja.


''Mila! Saya bilang buruan, bawa saya ke sana. Sialan kau Mila, akan ku pecat kamu. Kau tak becus kerja. Gue adukan sama Papi agar kau di pecat!'' pria duduk di kursi roda itu marah besar sebab perawat nya tidak mau mematuhi keinginan nya .


Raffi datang menghampiri Fika yang menunggu kedatangan es krim ini.


''Taraaa ... Ini Ice krim nya sayang.'' Raffi memberikan Ice krim


''Tima kacih Ayah.'' ucap Fika menerima


''Sama-sama Fika!''

__ADS_1


''Sialan ... Dia sudah merebut anakku. Hiksss, kenapa nasib ku begitu sial sial, sial ... '' pria tadi merasa cemburu melihat anaknya lebih dekat dengan orang lain.


__ADS_2