Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Dokter Raffi spesialis kejiwaan


__ADS_3

Hari pun berlanjut namun semua masih sama Fani yang akan takut bila bertemu dengan seorang pria siapapun itu.


Yang mungkin bagi Fani itu seperti bayangan orang-orang yang telah berbuat hal keji padanya.


Mama Rina datang ke kamar sang anak sambil membawa nampan di tangan berisi makanan untuk Fani sang anak.


''Sayang, makan dulu yuk!'' ucap Mama Rina bahkan Mama Rina ingin menghapus kenyataan dengan menganggap Fani ini adalah anaknya saat masih kecil dulu.


Fani mendengar orang bicara ia menatap pada Mama Rina lalu Fani langsung tertawa cekikikan ''Haahhaaa ayo sini, ke sini hahaaa tidak . tidak ... jangan!'' begitu lah Fani nampak jelas kejiwaannya terganggu


Mama Rina hanya bisa menghela nafas saat melihat Fani Seperti itu.


Mama Rina harus kuat demi sang anak!


''Ayo sayang, anak Mama ini di makan dulu ya Nak. Aaaa!'' Mama Rina pun dengan sabar menyuapi Fani makan.


Hanya pada Mama Rina lah Fani tak takut juga pada Cici, namun Fani tak ingat siapa dua orang itu. Hanya Fani tak akan se histeris bila melihat seorang pria yang datang.


Seperti kemarin.


Fani yang sedang tidur nyenyak akan terganggu bila mendengar suara seorang pria. Fani langsung terlonjak kaget dan matanya menyorot ketakutan.


''Tidak ... tidak .. Jangan ... !!'' selalu seperti itu


Fani menggeleng dan memeluk tubuhnya erat dirinya ketakutan .


''Fan, ini aku! kamu jangan takut Fani aku Rasya!'' ucap Rasya saat tadinya ingin menemui Fani dan menanyakan kabarnya yang beberapa waktu lalu hilang tanpa kabar.


''Tidak! ku mohon jangan! tidak....'' Fani berteriak histeris menggelengkan kepalanya.


''Yasudah aku tidak akan memaksa, tapi Fani kenapa bisa seperti ini Fan? aku tidak mengerti.''


Dan saat Cici menjelaskan semuanya yang terjadi pada Rasya , tentu awalnya Rasya terkejut dia sangat shock dan tak menyangka. Fani temannya bisa di perlakukan seperti ini.


Rasya menggeleng kesal ''Ini sudah keterlaluan! Para bajingan itu harus membusuk di penjara! aku tidak akan membiarkan mereka bebas!'' Rasya berjanji akan mengadili hidup Fani Rasya tak akan tinggal diam.


Rasya mendapat kabar Fani semakin memburuk hari itu juga Rasya datang ke rumah besar milik suami Mama Rina.


''Tante ada apa?'' tanya Rasya cemas


''Fani semakin ketakutan, bahkan kini sama Tante pun Fani takut Tante gak mau Fani semakin sakit dia juga tidak mau makan. Dia akan histeris bila melihat Tante.'' jelas Mama Rina sambil menangis tak berdaya


Sementara Papi Yoga pun tak bisa berbuat apa-apa, dirinya mengalami stroke pada kaki nya.


''Nak, tolong bawa Fani ke tempat----''


''Tidak! jangan pak!'' bentakan Mama Rina menolak dengan cepat.


Rasya Sampai terjingkat kaget melihat marahnya Mama Rina saat menolak

__ADS_1


Rasya tahu yang ingin di katakan Pria baya itu yaitu menyuruhnya untuk membawa Fani ke tempat RJ.


Tapi Mama Fani menolak langsung.


''Tante maaf sebelumnya, saya setuju dengan usul Om. sebaliknya Fani harus segera di bawa ke rumah sakit. Ini demi kesembuhan Fani Tante.'' bujuk Rasya dengan suara tegas tapi pelan.


Mama Rina diam sesaat lalu dia menangis ''Tapi Fani ku itu tidak gila, dia hanya sedang sakit. Fani ku baik-baik saja bukan orang gila bukan! yang harus di bawa ke rumah sakit jiwa, tidak ....!''


''Iya itu benar, Fani tidak gila.


bukankah yang sakit harus segera di tangani ke rumah sakit?'' kata Rasya


''Tapi saya menolak Fani di bawa ke rumah sakit jiwa!'' kekeh Mama.


''Tan, saya punya saudara dan kebetulan Beliau bekerja di bidang itu jadi Tante tak perlu mencemaskan soal Fani. Saya akan langsung memintanya mengobati Fani sampai sembuh kembali, Tante percaya kan sama saya?''


Mama Rina menatap Fani.


''Kalau begitu, suruh saudara mu itu untuk datang ke sini. Kalau perlu dan kau mau saya ijinkan tangani anak saya di rumah ini tidak perlu harus pergi ke rumah sakit itu.'' pinta Mama Rina tiba-tiba


Rasya diam, dia bingung karena sebelumnya dia tidak tahu bisa atau tidaknya bila di tangani di rumah langsung, yang Rasya tahu seperti ini harus segera di tangani ya tentu di tempatnya dengan ahlinya.


Rasya pun menatap Papi Yoga untuk meminta pendapatnya.


Dan Papi Yoga mengangguk setuju ''Di coba saja dulu, dan katakan pada saudara mu berapapun biayanya akan saya bayar asal dia mau merawat Fani di rumah.'' ucap Papi Yoga setuju karena ini hitung-hitung tanda tanggung jawabnya atas perbuatan sang anak yang sudah melakukan hal keji itu


''Baik Om Tante, saya akan coba untuk bicara dulu pada Abang saya.


Tak membuang waktu setelah berpamitan dari rumah milik Papi Yoga. Rasya hari itu juga langsung datang ke rumah sakit harapan.


Rumah sakit ini sebenarnya masih milik keluarga besar Nenek buyut Rasya dan sekarang di kelola oleh Om nya begitu juga Abang nya dulu sekolah dengan jurusan SpKJ.


''Sus.'' Rasya memanggil salah satu perawat


''Ya Tuan,'' perawat itu mengangguk sopan


''Abang ada?'' sebelumnya Rasya bertanya pada perawat


''Oh ada, beliau sedang di kamar xx melakukan pemeriksaan.'' jelas perawat itu memberi tahu.


''Oh ok, tolong nanti bilang ya padanya saya datang dan nunggu dia di ruangannya!'' kata Rasya


''Iya baik Tuan Muda.'' perawat itu mengangguk mengerti dan pamit melakukan lagi pekerjannya.


Rasya pun melanjutkan langkahnya ke ruangan sang Kakak, yang kapanpun datang di perbolehkan masuk sama Raffi Kakak Rasya tadi.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dari luar dan datanglah seorang pria tampan berperawakan tinggi kulit putih bersih sama seperti Rasya bulu halus tumbuh di sekitar dagu nya. Pria ini lebih tinggi dari pada Rasya.


''Ada apa?'' tanya orang itu sambip tangannya membuka jas kedokteran dan menyimpannya di punggung kursi.

__ADS_1


''Bang gue butuh bantuan Lo.'' ujar Rasya dan orang tadi itu adalah Raffi Kakak Rasya baru kembali setelah tadi memeriksa pasien.


''Apa yang perlu gue bantu?'' tanya Raffi


''Bang gue ada temen, baru-baru ini dia mengalami psikis yang drop sehingga dia mengalami gangguan kejiwaan.''


''Oh itu, terus sekarang mana orangnya?'' tanya kakak Rasya itu


''Masih di rumahnya,'' jawab Rasya


''Terus Lo datang sendiri gitu ke sini?''


Rasya mengangguk


''Kenapa gak Lo bawa langsung ke sini Sya ?'' omel Raffi


''Gini bang Lo bisa kagak, sembuhkan teman gue ini--''


''Ya mana mungkin bisa kalau orangnya gak Lo ajak Rasya.'' gerutu Raffi lagi memotong ucapan Rasya


''Yaelahh jangan dulu di potong dong, gue belum selesai bicara tahu.'' balas mengomeli sang Kakak


''Oh sorry ya bagaimana ?'' menatap serius pada Rasya


Pun dengan Rasya dia menatap tak kalah serius. ''Nyokap nya gak mau teman gue ini di bawa ke rumah sakit jiwa.''


''Lalu?''


''Dan nyokap nya ingin teman gue di rawat di rumah nya , karena sampai detik ini nyokap dia masih gak percaya teman gue ini mengalami gangguan jiwa.'' jelas Rasya


''Teman Lo itu cewek apa cowok ?'' kembali tanya Raffi


''Cewek bang, Lo bisa kan bang bantu dia sembuh dengan mengobatinya di rumahnya.'' pinta Rasya sangat berharap sekali pada sang kakak.


''Itu temen Lo apa pacar ?''


''Teman gue saat SMA.'' tegas Rasya


''Ohh gue kira pacar Lo, frustasi di putusin Lo dek.'' Raffi mengejek sang adik


''Sialan Lo, jadi gimana nih bisa gak? please bang tolongin dia.''


''Gue belum bisa jawab iya gak nya sekarang, Karena gue harus mengecek nya terlebih dahulu. gue harus cek kondisinya separah apa. barulah setelah itu gue bisa putuskan yang terbaik yang bagaimana.''


''Tapi ... ''Rasya bingung bila tak bisa terus Fani gak akan sembuh dong.


''Pokoknya tugas Lo, yakini nyokap nya nanti gue ikut bantu.'' ujar Raffi menepuk-nepuk pundak sang adik


''Hm baiklah bang.'' Rasya mengangguk patuh.

__ADS_1


Dan keputusannya adalah besok hari saat Dokter Raffi datang langsung ke rumah besar itu untuk mengecek Fani tentunya.


__ADS_2