Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Kebakaran di kantor polisi


__ADS_3

Seorang wanita tengah mengamuk karena kali ini dia telah salah perhitungan, sebab rupanya Mami nya Raffi alias mertuanya. Mendukung keputusan Raffi untuk menceraikan nya .


''Sialan ... Kurang ajar, tidak bisa! Enak saja dia, mau lepas begitu saja dari gue. Gak akan bisa Raffi! Gak akan bisa semudah itu.'' ucapnya dengan nafas menggebu-gebu


''Karena tidak ada dalam kamus hidup gue , seorang laki-laki yang memutuskan. Tidak ada. Dan yang harusnya memutuskan hubungan adalah gue, hanya gue!'' lanjutnya lagi dengan marah-marah.


''Gak akan gue biarkan dia seperti ini, gak bisa semudah itu!'' kekehnya tak terima


Dan dia adalah Laura, Laura baru saja mendapatkan surat gugatan cerai atas dirinya dari Raffi suaminya.


Jelas itu artinya, berarti Mami nya tidak bisa mencegah keputusan Raffi ini, bahkan mungkin justru mendukung. Dan hal inilah yang membuat Laura marah besar, kecewa.


Di lain tempat


Yaitu di kediaman rumah mewah Papi Yoga. Papi Yoga baru pulang dari rumah sakit setelah menjalani pengobatan untuk urat syaraf karena Papi mengalami stroke sehingga kesusahan berjalan juga Papi mengalami penyakit jantung dadakan. Akibat dari masalah kemarin, yang di lakukan sang putra yaitu Sean.


Efeknya berimbas pada kesehatan Papi Yoga, beliau merasa tak becus dan tak pantas menjadi ayah yang baik. Karena telah gagal mendidik sang anak.


Mama Rina menyambut kedatangan Papi Yoga suaminya, selama ini Mama memang benci dengan Sean. Tapi Mama berusaha tak membenci dan marah kepada Papi Yoga suaminya. Mama Rina yakin Papi Yoga ini tak bersalah, dia melihat didikan Papi Yoga sudah bagus. Namun mungkin ini adalah efek dari perpisahan, sehingga Sean kekurangan kasih sayang. Ya mungkin itu yang terjadi.


''Pak, Alhamdulillah bapak sudah pulang kembali.'' ucap Mama menyambut dan menyalami tangan Papi Yoga.


''Iya Rin, bagaimana kabar mu?'' tanya Papi yang sudah di pindahkan jadi duduk di sofa ruang keluarga.


''Saya baik pak,''


''Ya syukurlah,''


''Bapak juga bagaimana, sudah tidak ada yang sakit kan?'' tanya balik Mama Rina ingin tahu kondisi suaminya


''Ya saya sudah lebih baik sekarang.''


''Alhamdulillah ya Pa.'' Mama senang


Tak lama terdengar suara seseorang mendekati, dari arah tangga.

__ADS_1


Dan rupanya itu adalah Fani. Papi Yoga sampai terkejut melihatnya. Takutnya ini halusinasinya saja.


Pun dengan Fani dia langsung menghentikan langkahnya saat melihat ada Papi Yoga bersama Mama Rina duduk bareng.


Fani menatap wajah Papi Yoga, dia langsung menutup mata karena tiba-tiba seperti ada suatu bayangan tapi entah bayangan apa itu. Fani tak dapat melihat dengan jelas.


''Rin, a-apa i-itu beneran Fani?'' tanya Papi segera untuk memastikan


Mama mengangguk, ''Benar Pa, itu Fani. Kemarin dia pulang.'' jawab Mama


''Apa sudah sembuh Rin?'' tanya Papi kembali


''Sekarang sudah cukup stabil Pa, sudah tidak takut lagi bila melihat saya dan yang lainnya. Tapi dia masih takut bila ketemu dengan laki-laki. Sama pak satpam saja dia takut.'' jelas Mama


''Oh syukurlah, Fani . Bapak begitu senang mendengarnya, Bapak berhadap dan selalu berdoa agar dia cepat sembuh total.'' Papi Yoga berucap syukur dan sedikit merasa lega sekarang.


''Nak sini!'' Papi pun memanggil Fani yang masih terpaku di tempatnya


Tapi Fani menggeleng dan nampak tak nyaman.


Mama Rina mengangguk tanda Papi jangan khawatir. Maka Mama beranjak dan beliau menghampiri Fani anaknya.. Setelah dekat Mama mengusap pundak Fani.


''Sayang, ayo kesana.'' ajaknya dengan lembut sambil menunjuk pada tempat Mama duduk tadi


''Ti-tidak ma, ta-takut.'' tolaknya Sampai terbata dan menggeleng menatap Mama


''Tak perlu takut Nak, ini bapak. Ayah mu juga.'' sahut Papi Yoga pada Fani


''A-ayah, ti-tidak. Bukan!'' tegas Fani


''Itu benar sayang, beliau ayah mu sekarang. Beliau adalah Pak Yoga, kau ingat? Dia yang baik pada kita, yang selalu menolong kita menolong Mama. Pak Yoga. Yang menginginkan Mama menjadi istrinya, kau ingat kan?'' timpal Mama mengingatkan memori Fani


''A-apa itu su-suami Mama? Ya-yang pu- punya rumah ini?'' tanya Fani dengan nada terputus-putus


Mama mengangguk, ''Benar sayang. Ini Pak Yoga. Jangan takut, beliau orang baik kok. Beliau sayang padamu, tidak akan menjahati mu.'' ujar Mama meyakinkan Fani tentang Papi Yoga yang memang begitulah adanya, Papi Yoga selama ini sebelum menjadi suami saja sudah baik. Selalu menolong dan saat sudah menjadi suami pun kebaikannya tak berubah.

__ADS_1


Perlahan Mama menuntut Fani agar mendekat pada kursi di mana Papi Yoga berada saat ini.


''Kemarilah Fani, jangan takut Nak.'' ucap Papi Yoga tapi beliau jadi sedih dan tak bisa menahan rasa bersalahnya lagi ketika mengingat kejadian beberapa bulan kebelakang dulu.


''Nak, tolong maafkan Bapak ya. Bapak tidak bisa berbuat hal banyak untukmu. Tapi percayalah bapak begitu menyesal, dan Bapak menyayangi mu Fani.'' Papi Yoga kini menangis di hadapan Fani


''Pak sudahlah.'' bisik Mama pada Papi Yoga mengusap punggung nya Papi untuk tak lagi menyalahkan diri sendiri.


Dan sekolebat ada bayangan dalam ingatan Fani. Hingga membuatnya sakit kepala. ''Ssssshhhh..'' Fani meringis memegang kepalanya.


''Kau tidak apa-apa. sayang?'' tanya Mama khawatir


Fani menggeleng, dan mencoba menghentikan ingatan itu. Yang selalu membuatnya sakit seperti ini.


Fani ingat pesan Raffi .


Bila ada bayangan mengerikan ataupun bayangan yang tak jelas muncul di ingatan mu dan kepala mu, maka yang harus kau lakukan adalah. Buang lagi ingatan itu, rileks lah. Tenanglah, tarik nafas mu. Dan hilangkan secara perlahan ingatan yang membuat mu kesakitan.!! begitu pesan Raffi yang selalu di berikan kepada Fani.


Krriingggggg ......


Krrriinggggggg...


Ponsel rumah berdering.


Kebetulan itu berada di dekat Papi Yoga. Segera Papi menjawab telpon itu.


[Halo , dengan kediaman Pak Yoga Irawan.] ucap seseorang


[Ya benar saya sendiri, ini siapa dan ada apa ya?] tanya Papi Yoga


[Oh kebetulan sekali, saya ingin memberitahu kepada Anda, Ini kami dari kantor Polisi--]


[Ada apa Pak polisi?] cepat-cepat Papi memotong ucapan polisi yang menelpon dengan perasaan khawatir dan tak menentu.


[Saya mau mengabarkan bahwa kantor polisi di jalan xx mengalami kebakaran, dan juga ada tahanan bernama Sean Prayoga Irawan dia .....?]

__ADS_1


[Apa? Tidak ... Sean ... !!]


__ADS_2