
Sesudah selesai di telpon tadi oleh Ryan dari nomor milik Sean.
Fani pun segera pergi ke tempat yang di sebutkan oleh Fani.
Rupanya Ryan juga menjemput Fani ke kediaman Papi Yoga.
''Kak, apa sebenarnya yang terjadi sama kak Sean? Aku tadi Sedikit dengar Sepertinya dia mengaduh '' tanya Fani yang sudah panik.
Ryan jadi bingung sendiri apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Fani agar wanita ini tidak usah pergi.
Tapi, ancaman Sean saat Ryan mau pergi terngiang-ngiang di pikiran Ryan.
Kalau Lo sampai gagal membawa wanita itu ke apartemen, gue gak akan segan buat bunuh Lo.." begitu ancamannya Sean menatap tajam pada Ryan
''Kak Koo malah diam, apa yang terjadi ?'' Fani bertanya lagi saat Ryan hanya diam mengatupkan bibirnya.
''Ohh iya soal itu, si Sean penyakitnya kumat.'' jawab Ryan spontan.
''Penyakit?'' Fani terkejut
''Ya dia memiliki penyakit yang sudah kronis '' kata Ryan lagi
''Kalau boleh tahu apa ya kak penyakitnya ?'' Karena Fani belum pernah melihatnya langsung Sean sakit yang serius.
''Sean dulu pernah punya penyakit gagal ginjal dan sudah akut.'' Ryan memberikan alasan semata.
Fani langsung menatap Ryan ia semakin shock ''Gagal ginjal kak?''
''Ya!'' Ryan menunjukkan wajah se- meyakinkan mungkin.
''Sekarang dia di mana kak?'' tanya Fani lagi
''Masih di rumah si Doni, dan nanti menyusul ke apartemen.'' lagi-lagi kebohongan yang Ryan katakan.
''Oh gitu.''
Beberapa saat, Ryan sudah membawa Fani ke apartemen yang sering mereka singgahi untuk nongkrong tentu untuk membawa wanita hiburan agar bebas melakukan apapun..
''Kamu tunggu dulu di sini ya, sebentar lagi dia pasti datang.!''
Fani merasa bingung kenapa ia harus menunggu di dalam kamar.
''Kak aku nunggu nya di sofa depan saja!'' Fani tidak enak
''Sudah gak apa-apa Fan. Di sini saja, jangan berpikir yang tidak-tidak. Sean akan datang dan tolong nanti kamu obati atau temani karena Sean bila penyakitnya sudah jadi dia butuh seseorang untuk menemani.'' jelas Ryan dan menahan Fani agar tak keluar.
Fani meringis sendiri membayangkan sesakit itulah yang di alami Sean.
Akhirnya Fani pun menyetujui kadang pun Fani ingin keluar tapi ia urungkan.
Ryan pun sudah keluar katanya mau menunggu di luar saja, tak enak bila berduaan di apartemen dengan Fani. Alasan Ryan
Mobil hitam sudah sampai di apartemen ini. Sean di bantu berjalan oleh Yuda dan Doni.
''Se, please. Lo rubah keinginan Lo kasihan dia bro'' Doni kembali mengingatkan Sean
__ADS_1
''Diamlah! Lo jangan banyak bacot'' sentak Sean
''Iya Se, Lo masih punya cara lain, jangan gegabah Se.'' tambah Yuda
Sean langsung menatap tajam. ''Siapa Lo, ngatur hidup gue!'' Sean lebih marah.
Yuda dan Doni pun hanya bisa membuang nafas ke udara, dasar keras kepala!
''Se, gue minta maaf. Tadi gue itu salah ngomong Se, gue gak serius.'' kini gantian Ryan yang bersuara
''Lo juga mau ikut campur hah? Mau gue tebas tuh leher Lo!'' melotot pada Ryan.
''Se, Lo kenapa sih.. Se sadar!''
''Diam.. Banyak bacot Lo..'' sudah hilang akal sehat di dalam jiwa Sean.
Sean, langsung masuk ke apartemen dan menutup pintu dengan kasar lalu tak lupa ia menguncinya. Dan berpesan jangan ada yang berani masuk ke dalam.
Dengan berjalan sempoyongan Sean masuk ke kamar miliknya. Ya, rupanya Empat sekawan itu di apartemen ini memiliki kamar masing-masing. Jadi bisa di katakan privasi.
Gappp
Sean sudah sampai di depan pintu dan memegang kenop pintu itu.
Ceklek, pintu pun ia dorong sehingga terbuka.
Bibirnya seketika menyeringai begitu melihat orang yang telah membuat sakit hati sedang duduk di atas ranjang miliknya.
Fani pun langsung melihat pada pintu begitu sudah di dorong dari luar oleh Sean.
Sean menutupkan pintu dengan kasar dan tak lupa ia kunci juga pintu ini. Mata mereka saling menatap Sean pun berjalan mendekati Fani, tak kuat ia merasa pusing efek dari minuman sialan itu.
Fani pun terkejut saat Sean terhuyung dan akan jatuh. Yang Fani pikir mungkin karena Sean sedang sakit.
Fani pun menangkap badan Sean dan menahannya. Namun ini dari jarak yang begitu dekat, tercium aroma bau wine. Yang dulu pernah Fani cium aroma ini dari Sean juga.
Seketika itu membuat Fani tersadar Pria ini tengah mabuk. Dengan kasar Fani mendorong badan pria di hadapannya ini.
''Kamu mabuk?'' tanya Fani hati-hati
Sean mendongak lalu menatap Fani dan senyum miring terbit di bibirnya, membuat Fani takut melihatnya.
''Kak, bukankah ka-kamu sakit ya, tapi ... Kamu, mabuk? ini sebenarnya yang benar yang ma----''
Fani tak bisa meneruskan perkataannya saat Sean menarik tubuhnya hingga membentur badan Sean.
''Ahhhkk'' Fani terkejut
''Ya, aku sakit. Aku sakit Fani. Sakit hati karena dirimu!'' pekik Sean
Fani memalingkan wajahnya saat aroma itu menyengat tercium.
''Apa maksudmu kak?'' tanya Fani belum mengerti
''Siapa kau? berani sekali menolak ku,hah?'' Sean marah
__ADS_1
''Kak, tolong jangan seperti ini. Mengertilah kita tak bisa bersama, kita saudara!'' ujar Fani kembali.
''Persetan dengan itu! saudara-saudara kau bukan saudara ku! Apa salahnya dan susahnya kau menerima ku hah?'' menatap semakin dingin
Fani menangis dan menunduk ia tak bisa lagi menjawab Sean, karena mau gimana pun dia berkata Pria keras kepala ini tak akan mengerti..
''Biarkan aku pergi.'' Fani mendorong tubuh Sean tapi sayang Sean tak semudah itu membiarkan Fani pergi.
Bughh
dengan kasar Sean justru membanting badan Fani hingga terlentang di atas ranjang.
Sean pun mendekat dan segera, mengungkungnya di bawah sana.
''A-aku m-mau pulang.'' Fani merasa takut menatap mata itu mata keranjang, sampai suaranya terputus-putus
Fani berontak dan sekuat tenaga mendorong tubuh Sean yang di atasnya ini.
''Diam..!'' Sean membentak
''Tidak, lepaskan aku!''
''Aku tidak akan melepaskan mu, sebelum aku mencicipi tubuhmu dengan puas dan kasar hahaaaa!'' Sean tertawa jahat
Fani menggeleng ''Tidak.... Jangan...!''
Segera Sean mencium bibir itu agar berhenti teriak tangannya dengan kasar dan tak berperasaan merobek semua pakaian yang melekat di tubuh Fani.
''Jangan....!'' Fani berteriak histeris saat Sean merobek semua pakaian nya.
Fani menggeleng dan memohon...
''Arggghh.... Ahhhhhhh!'' teriakan memilukan keluar dari mulut wanita yang tak berdosa itu. Saat si pria dengan kasar merobek dan menerobos sesuatu milik nya yang begitu ia jaga.
''Jangan......!''
''Tolong....!''
''Lepaskan aku..''
''Hahaaa, teruslah berteriak dan menjerit sayang. Aku suka kau seperti ini, kau yang memohon dan tersiksa , namun ini enak kan sayang''
''Cuihhh'' Fani meludahi Sean
''Kau jahat, kau iblis. Kau bukan manusia kau binatang! Aku membencimu!'' ucap Fani marah nafasnya menggebu-gebu.
''Setelah ini kau akan mengejar-ngejar ku! Kau akan bertekuk lutut padaku, memohon padaku. Dan aku pastikan itu!'' sambil terus bermain kasar
''Arhhhh sakit..''
Air mata itu tak berhenti terus menerus merembes dari pelupuk mata Fani..
'Ma... Maafkan Steffani!' kata terakhir yang Fani ucapkan sampai akhirnya dia pingsan.
''Mmmhhhhh kau nikmat sekali sayang!''
__ADS_1
Ambruk lah Sean di atas tubuh wanita yang sedari tadi sudah jatuh pingsan..