
Setelah dokter Raffi melakukan tugasnya dengan sangat baik terhadap penyembuhan Fani, kini kondisinya Fani pun mulai stabil. Karena untunglah Fani ini segera di bawa dan mendapatkan pertolongannya dari medis tentu juga dari ahli di bidang kejiwaan.
Hari ini Fani mulai bisa menerima kehadiran orang lain lagi, bahkan kini Fani pun bisa ngobrol dengan sang Mama pun dengan Cici.
Namun untuk bertemu dengan pria Fani masih ada rasa ketakutan, sehingga Rasya pun harus bisa menatap dari jauh. Tapi Rasya tak mempersalahkan hat tersebut, karena yang Rasya harapkan kini dia bisa melihat perubahan yang baik dari dalam diri Fani lagi.
Tadi siang, dokter Raffi mengubungi sang adik dan mengatakan bahwa Fani menanyakan ibunya, Fani sudah mau di jenguk oleh orang terdekatnya.
Maka Rasya pun mengabarkan lagi pada Mama Rina bahwa Fani bisa di jenguk dan menanyakan Tante Rina.
''Fani, kamu bisa bicara dengan Mama Nak ?'' tanya Mama Rina matanya sudah berkaca-kaca.
''Mama ... Mama ini bicara apa, ya sudah pasti Fani bisa ngobrol dan melihat Mama. Bahkan Fani rindu dengan Mama.'' kekeh Fani mulai kembali kewarasannya.
''Alhamdulillah Nak, Mama ikut senang pastinya ya. Kamu sudah sembuh sayang.'' sungguh hati Mama Rina tenang dan bahagia.
Fani mulai terbiasa dengan dokter Raffi, sehingga bila sekarang mereka dekat Fani tak akan takut pada dokter Tampan itu.
''Ma, memangnya Fani ini kenapa ? Fani baik-baik saja kok , ma.'' ucap Fani merasa dia tak memiliki masalah ataupun hal terjadi yang serius padanya.
''Loh Dok, kenapa begini ?'' jelas Mama Rina kebingungan.
''Bu, nanti saya ceritakan semuanya. Saat ini hibur lah Fani dengan hal yang membuat nya bahagia.'' bisik dokter Raffi.
Mama Rina pun mengangguk, ''Ya baiklah saya mengerti.'' balas Mama.
Tak lama Cici datang, Cici pun langsung memanggil Steffani si teman yang dia sayangi.
''Fani .... '' panggil Cici
''Ee ... Cici ?'' tebaknya Fani menunjuk Cici
__ADS_1
Cici pun mengangguk senang, 'Ya Fan, ini aku Cici teman mu.''
''Ci, kesini peluk aku.!'' pinta Fani
''Oo baiklah.'' Cici pun mendekati dan segera memeluk Fani yang di rindukannya sekarang ini.
''Fan, apa kamu merindukan ku?'' tanya Cici di tengah tangis haru ini.
Fani pun mengangguk ''Ya aku kangen sama kamu, kok rasanya kita sudah lama gak jumpa gitu ya?'' ucap Fani.
''Hehe, iya kita memang sudah lama gak jumpa Fan..'' balas Cici.
''Dokter, kenapa dengan anak saya? dia tak mengingat hal kemarin? kejadian kemarin?'' tanya Mama Rina, sementara Fani tengah ngobrol dengan Cici.
''Nyonya begini, Nona Fani saya buat kehilangan memori kesedihan nya terlebih dahulu, dan saya akan menceritakan soal dulu, saat dia masih sekolah saat dirinya hanya mengenal Nyonya, Rasya dan juga temannya itu Cici.
Sehingga yang sekarang ada di memori Nona Fani ini hanya ada kalian dengan hari bahagianya saja. maafkan saya Nyonya telah membuat tindakan seperti ini, namun bila saya tak melakukan ini, maka akan berpengaruh buruk pada janin nya. Namun semua akan kembali normal bila Fani tak lagi mengonsumsi obat penenang atau obat hilang ingatan sejenak.'' begitu penjelasan yang dokter Raffi bicarakan pada Mama Rina selaku ibu dari pasiennya.
Raffi menggeleng, ''tidak Bu, saya jamin ini akan aman bahkan ini suatu keamanan untuk Nona untuk bayinya juga'' balas Raffi.
''Ya baiklah dokter tidak apa-apa bahkan saya sekarang ingin mengucapkan terima kasih, karena berkat Anda dokter, anak saya Fani sudah tak takut lagi berjumpa dengan saya'' Ucap tulus Mama Rina.
''Sama-sama Nyonya ini sudah kewajiban saya'' balas senyum tulus dokter Raffi.
***
Kini, kondisi Fani memang semakin meningkat namun suatu hari saat perutnya mulai membesar kini Fani merasa kebingungan, karena seingatnya dia belum menikah. Lalu, ini apa ? kenapa ? Fani kebingungan.
''Aaaaaa .... Tidak!!'' teriak Fani terdengar ke luar ruangan.
''Eh, kenapa itu dengan pasien di ruangan ini?'' tanya perawat.
__ADS_1
''Iya ya kenapa? bukannya dia sudah tak lagi gila?'' tanya perawat lain.
''Hmm sebaiknya kita panggil dokter Raffi saja, ayo!'' ajak perawat.
''Iya ayo kita beritahu dokter.''
Kemudian beberapa saat.
''Aaaaaa ... Tidak, gak mungkin .... Gak, Tidak!!'' seperti itu yang keluar dari mulut Steffani dengan menepuk perutnya.
Sontak saja saat dokter Raffi datang untuk melihat, pria itu panik dan langsung berlari menghampiri Fani.
''Hei, Fani stop! jangan seperti ini.'' cegah dokter Raffi agar Fani berhenti memukul perutnya.
''Tidak, aku harus menyingkirkan perut besar ini, aku ini belum menikah aku gak hamil, iya kan?'' tanyanya menatap sekilas pada dokter Raffi lalu melanjutkan memukul perutnya yang mulai Tujuh bulan ini kandungan Fani.
Dengan masih menahan tangannya Fani agar tak memukul dengan keras pada perut yang ada bayi di dalamnya ini, dokter Raffi pun dia sambil berpikir bagaimana dia menjawab dan menghentikan perbuatan Fani ini.
''Nona Fani tolong berhenti! jangan melukai nya!''
''Tidak, jangan cegah saya memukulnya, ini aib untukku. Aku tak mungkin memiliki anak kan gak.'' Fani semakin berontak.
''Stop, saya bilang berhenti.!'' sentak dokter Raffi membuat Fani diam seketika dengan nafas tersengal.
''Kenapa saya harus diam hah?'' teriak Fani
''Nona Fani, dia adalah anak kita.!'' ucapnya Dokter Raffi tiba-tiba.
''Apa? A-anak kita? Hahahaha tidak mungkin.'' Fani tersenyum miring tak percaya dengan ucapan Raffi.
''Kenapa tidak mungkin, saya mencintai mu. Dan kau pun mencintai ku kan? dan itu adalah anak kita, kita sudah menikah. '' tiba-tiba ucap dokter Raffi dengan tak berpikir panjang dulu dia bicara.
__ADS_1