
Pagi telah tiba, semua berjalan seperti biasa. Ibu yang masih pergi ke pasar setiap pagi, Aretta yang harus bangun pagi untuk selanjutnya pergi ke sekolah.
Hanya saja terdapat sedikit perbedaan pada ayah. Kini ayah tidak lagi menjadikan Aretta ojek cantiknya, karena sekarang ayah sudah mempunyai sepeda motor. Yang konon katanya, inventaris dari komandan.
Pagi itu ayah sudah sibuk dengan mengeluarkan sepeda motornya, mencoba memanaskan mesin motor, hingga suara knalpot nya membuat tidak nyaman ditelinga.
"Are mau dianterin nggak pergi ke sekolahnya ?" Ucap ayah mendekati anaknya yang sedang asik menyantap bubur ayam kesukaannya.
"Emang boleh, yah ?" Tanya Aretta.
"Apa sih yang nggak boleh buat anak ayah ?"
Jawab ayah mengusap kepala anaknya.
"Terus Tati gimana ?" Tanya Aretta lagi.
"Ya ajakin lah, masa ditinggalin. Kasian anak orang." Ucap ayah sembari ikut menyantap sarapan yang sudah disiapkan ibu.
"Terus nanti pulangnya gimana ? Are jalan kaki gitu ?"
"Nanti ayah ijin pulang deh, khusus buat jemput anak kesayangan ayah ini." Ucap ayah lagi.
"Yeaayy ." Aretta bersorak gembira.
"Nanti kapan-kapan kita jalan-jalan ya, yah ? Boleh nggak ?" Tanya Aretta lagi.
"Gimana kalau ntar malem ? Mumpung besok hari minggu. Ayah juga libur, over shift kan. Besok malem baru masuk malem. Kebetulan ada pasar malem di kampung sebelah." Ucap ayah menjelaskan.
"Horreeeee. . .! Nanti kita pergi sama-sama ya, bu ?" Mengalihkan pandangannya ke arah ibu yang masih sibuk mondar-mandir menata dagangannya.
"Uang darimana toh Ree, buat makan aja pas-pasan. Apalagi buat jalan-jalan ?" Jawab ibu datar.
"Sekali-sekali lah, bu. . . Lagian selama ini, kita hampir tidak pernah jalan-jalan. Soal uang, ayah masih punya sisa gaji. Cukup buat kita nanti malem." Ucap ayah meyakinkan ibu.
"Ya sudah, terserah ayah saja. Ibu ikut !" Jawab ibu akhirnya.
"Horrreeeeee. . . !" Ucap Aretta semakin bahagia.
"Are. . ." Suara seorang anak perempuan dari depan rumah.
"Tuh, Tati udah datang. Ayo ayah anterin." Ucap ayah segera bersiap dan mendekati motornya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Aretta juga bergegas mengikuti ayahnya setelah tak lupa membawa tas gendongnya khas anak sekolahan.
"Ayo Tati ! Hari ini kita berangkatnya dianterin ayah Are." Ajak Aretta pada Tati setelah mendapatkan posisi duduk di depan ayahnya.
Tati menurut dan tanpa bertanya banyak, segera menaiki motor Aretta, yang mengambil posisi duduk dibelakang ayah Aretta.
Motorpun melaju tidak begitu cepat, ini adalah kali pertama Aretta pergi sekolah dengan diantar ayahnya menggunakan sepeda motor.
Maklum saja, kalau mereka bukan dari keluarga orang mampu. Jangankan untuk membeli motor, untuk makan sehari-hari saja, pas-pasan.
Malam harinya
Mentari sudah kembali ke peraduannya, kini tinggal bulan yang harus melaksanakan tugasnya menerangi bumi.
Di sudut ruangan, duduk mematung seorang gadis kecil sendirian. Dengan memakai celana jeans longgar dengan kaos berwarna merah muda yang tidak lupa terbalut jaket beludru berwarna coklat. Kakinya sudah terpasangkan sendal tali yang melingkar ditumitnya.
Ya, dia adalah Aretta. Yang sedang menunggu kedatangan ayahnya. Karena tadi pagi ayah sudah menjanjikan untuk mengajaknya pergi jalan-jalan.
Aretta tidak ingin membuat ayahnya menunggu lama. Maka dari itu, ia sudah bersiap dari setelah selesai melaksanakan sholat magrib.
Tint, tiiint. . .
Suara klakson terdengar dari depan rumah.
Ceklaaaakk
Pintupun terbuka.
Aretta begitu bahagia melihat sosok yang telah ditungguinya sedari tadi, kini telah ada dihadapannya.
"Widdiiih,. . Anak ayah udah cantik." Puji ayah ketika melihat anak gadisnya sudah berpakaian.
"Iya tuh, dari abis magrib udah mau siap-siap aja. Padahal ibu udah bilang masih lama juga nggak didengerin." Ucap ibu yang telah berada diantara ayah dan Aretta.
"Kan biar kalau ayah pulang, kita bisa langsung berangkat, buu. Are nggak mau ayah nungguin terlalu lamaa. . ." Ucap Aretta membela diri.
"Tapi kan ayah harus istirahat dulu Ree, harus makan dulu, mandi dulu." Ucap ibu lagi.
"Tadi ayah udah mandi ditempat kerja, bu. Kalau makan, nanti aja lah gampang. Ayah ganti baju dulu ya bentar, abis itu kita langsung berangkat." Ucap ayah bergegas.
Sementara itu, Aretta sudah berada diatas motor, dengan posisi duduk didepan.
__ADS_1
Itu sudah menjadi tempat favoritnya.Karena menurutnya, biar bisa lihat pemandangan.
Tak berapa lama kemudian, ayah keluar. Dengan menggunakan celana katun berwarna hitam, baju panjang berwarna hijau tua, dan tidak lupa dengan rambut yang disisir rapih.
Membuat kewibawaannya semakin nampak.
"Sudah siap ?" Ucap ayah ketika sudah berada diatas motor. Tidak lupa dengan ibu yang berada dibelakangnya.
"Siaaaapp. !" Ucap Aretta bersemangat.
"Kalau gitu, kita berangkaaaaaatt !" Ucap ayah sembari memutar gas motornya.
Angin malam yang berhembus kencang, tidak menyurutkan niat Aretta sedikitpun. Ia sudah sangat antusias begitu mendengar ajakan ayahnya untuk pergi jalan-jalan. Lampu jalan raya mengiringi perjalanan keluarga yang sedang bahagia itu. Rumah demi rumah dilewati, hingga mereka melewati beberapa kampung, dan berhenti disebuah tempat yang dituju. Pasar malam.
"Akhirnya sampai juga !" Ucap ayah menghentikan motornya disebuah tempat parkir yang letaknya tidak jauh dari tempat yang akan ditujunya.
Serentak Aretta dan ibu turun dari motor yang membawanya ke tempat tujuan.
"Ibu, nanti Are mau naik itu ya ? Naik itu juga, terus bli itu, beli itu juga !" Ucap Aretta menunjuk berbagai hal yang menurutnya menarik.
"Iya, sabar sayaaang. Kita tunggu ayah dulu !" Ucap ibu sambil sesekali melirik ayah yang sedang mengobrol dengan seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dari tempat parkir.
"Ayo kita masuk !" Ucap ayah ketika telah selesai berbincang, seraya menggandeng tangan Aretta.
"Ayah ngobrol sama siapa tadi ?" Tanya ibu penasaran.
"Oh itu. . . Itu tukang warteg langganan ayah bu, kebetulan dia juga kesini."
"Oh, gitu. . ."Ucap ibu tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.
"Are mau naik itu ya, yah ?" Ucap Aretta menunjuk sebuah permainan.
"Iya, boleeh. Nanti ayah beli tiketnya dulu !" Ucap ayah yang segera menghampiri penjual tiket dan segera membelinya.
"Sekarang Are naik ya. . . Ayah sama ibu tunggu disini." Ucap Ayah menaikkan anaknya pada permainan tersebut, seraya memberikan tiket pada operator.
"Ayah mau beli minum dulu ya bu, disana !" Ucap ayah menunjuk pedagang es yang letaknya diseberang permainan.
Ibu hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis.
Ayah berlalu meninggalkan ibu, sementara ibu sibuk memandangi anaknya yang sedang asik main permainan. Hingga pandangannya tertuju pada seorang pria yang sangat dikenalnya. Pria tersebut sedang mengobrol akrab dengan seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik. Saking akrabnya, bahkan pria tersebut sampai tertawa lepas.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya perempuan itu ? Kenapa bisa begitu akrab dengannya ?" Ibu membatin.