ARETTA

ARETTA
TAMU MISTERIUS


__ADS_3

Jangan lupa selalu like, komen dan vote disetiap episode nya😍


Semoga kalian sehat selalu😍


Selamat membacaπŸ€—πŸ€—πŸ€—


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Aretta akhirnya keluar kamarnya setelah selesai bercakap dengan Lala melalui sambungan telefon. Hal yang menjadi pertanyaan selama ini, terjawab sudah oleh penjelasan Lala.


Aretta kini sudah berada di meja makan. Dihadapannya sudah tersedia beberapa makanan yang menggugah selera. Namun tidak dengan Aretta, tatapan matanya masih kosong meski pandangannya tertuju pada makanan yang ada dihadapannya.


"Silahkan dimakan makan malamnya, Mbak!" Ucap Bi Surti mempersilahkan.


"Eh, iya, Bi." Jawab Aretta setelah tersadar dari lamunannya.


"Bi, sini temenin makan!" Ucap Aretta lagi.


"Bibi makan dibelakang aja, Mbak!" Jawab Bi Surti sopan.


"Aku nanti nggak nafsu makan kalau sendirian, Bi." Aretta masih membujuk.


Akhirnya Bi Surti menurut pada Aretta, dan mengambil posisi duduk berhadapan dengan majikannya itu.


"Jangan sungkan, Bi." Ucap Aretta berusaha mengusir rasa canggung yang terlihat di wajah Bi Surti.


"I,. iya, Mbak."


Mereka berdua pun akhirnya makan dengan lahapnya. Tidak ada percakapan selama makan malam berlangsung. Keduanya fokus pada makanan masing-masing.


"Selesai makan, temenin aku nonton TV ya, Bi!" Ucap Aretta begitu hampir selesai menyantap makanannya.


"Siap, Mbak! Tapi Bibi beresin ini dulu, ya?"


"Oke, Bi. Aku tunggu di sana, ya?" Ucap Aretta menunjuk ruang keluarga yang terlihat dari tempatnya berada.


Aretta pun bergegas menuju ruang keluarga dan mulai menyalakan televisi. Seperti biasa, ia mencari sinetron favoritnya yang juga fovorit Bi Surti.


Tidak berapa lama kemudian, Bi Surti datang dengan membawakan sepiring buah yang sudah diiris. Bi Surti sudah mengambil posisi duduk dibawah.


"Eh, ngapain duduknya disitu? Sini diatas!" Ucap Aretta saat Bi Surti tengah duduk di bawah.


"Iya, Mbak. Makasih!" Ucap Bi Surti langsung menurut pada Aretta.


"Semua pintu dan jendela sudah dikunci kan, Bi?" Tanya Aretta mengambil buah yang ada dihadapannya.


"Sudah, Mbak. Gerbang depan juga sudah Bibi kunci. Pokoknya, semuanya aman!" Jawab Bi Surti.


Merekapun akhirnya fokus pada tayangan sinetron yang ada di televisi. Tidak ada obrolan untuk beberapa saat.


Ting tong

__ADS_1


Suara bel rumah berbunyi. Menandakan ada orang yang bertamu.


Aretta dan Bi Surti saling pandang untuk beberapa saat.


"Siapa yang bertamu malam-malam gini?" Tanya Aretta dengan suara pelan.


"Biar Bibi lihat, Mbak!" Ucap Bi surti.


"Jangan, Bi!" Ucap Aretta menahan Bi Surti.


"Kenapa, Mbak?"


"Siapa yang bertamu jam segini disaat Leo tidak ada di rumah? Jangan-jangan, orang jahat?" Aretta mulai menebak-nebak.


"Jangan nakutin gitu dong, Mbak. Bibi jadi takut ini."


"Atau kalau nggak, gini aja. Kita intip dari jendela dulu, sambil bawa sapu. Jadi, kalau-kalau dia orang jahat, kita bisa langsung pukul dia."


"Iya, Mbak. Bibi setuju."


Ting tong


Bel kembali berbunyi.


"Tapi tunggu deh, Bi. Kenapa suaranya dari pintu depan ya? Bukannya gerbang udah dikunci?" Tanya Aretta.


"Sudah Bibi kunci semua kok, Mbak." Bi Surti yakin betul, kalau semua pintu sudah dikuncinya.


"Bibi jadi makin takut, Mbak." Bi Surti mendekap lengan Aretta karena merasa ketakutan.


"Ponselku ada di kamar, lagi. Kalau mau ambil, takut keburu dijebol tuh pintu."


"Udah, Bi. Kita liat aja, Bismillah!" Ucap Aretta yang mulai memberanikan diri melihat tamunya.


Kini Aretta dan Bi Surti sudah ada didepan jendela dengan membawa senjata masing-masing. Bi Surti dengan membawa sapu, dan Aretta yang membawa kemonceng. Lucu memang kalau dilihat sekilas, tapi ini satu-satunya cara mereka untuk bertahan.


"Ya Tuhan, semoga bukan Nino yang datang. Lindungilah kami Ya Tuhan!" Gumam Aretta.


Tak bisa dipungkiri, rasa takutnya kembali datang. Ia benar-benar takut, kalau yang bertamu malam itu adalah Nino.


Ting tong.


"Sayang, kamu lagi apa didalem? Lama banget bukanya! Bi, Bi Surti.....!" Orang yang berada dibalik pintu sudah tidak sabar, hingga membuatnya berteriak.


Aretta dan Bi Surti kembali saling pandang.


"Kenapa suaranya mirip Mas Leo, Mbak?" Tanya Bi Surti.


"Iya, Bi. Jangan-jangan.....?"


Aretta pun langsung membuka pintu dan melemparkan kemonceng yang dari tadi dibawanya. Ia yakin betul dengan yang ada dipikirannya.

__ADS_1


Braaaaaakk


Pintu pun terbuka dengan cukup keras, karena Aretta membukanya dengan terburu-buru.


"Surprise........!" Ucap seorang yang dari tadi menekan bel, sambil merentangkan tangannya.


Aretta pun tak tahan lagi untuk memeluk orang yang dihadapannya. Didekapnya erat sang suami yang menurutnya lama telah meninggalkannya. Walau sebenarnya hanya tiga hari.


"Kenapa nggak bilang kalau pulang sekarang? Kan aku bisa jemput! Ini lagi, Bony. Kenapa nggak bilang juga?" Ucap Aretta sedikit kesal.


"Sorry, Re! Gue udah telponin lo dari tadi, tapi nggak diangkat. Ya udah, kita langsung pulang aja!" Jawab Bony.


"Suaminya nggak disuruh masuk dulu? Capek tau!" Ucap Leo.


"Ayo masuk, sayang! Buatin minum ya, Bi!" Ucap Aretta yang tangannya belum juga lepas menggandeng tangan Leo.


"Baik, Mbak." Ucap Bi Surti yang segera membuatkan minuman untuk majikannya.


Merekapun akhirnya masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Dengan posisi duduk Leo yang tidak mau jauh dari Aretta.


"Thank's ya, Bon. Lo udah bantuin suami gue! Gue nggak tau lagi harus gimana kalau nggak ada lo!" Ucap Aretta.


"Sudah jadi urusan gue untuk bantu sodara sendiri! Masalah Leo, masalah gue juga!"


"Berarti, Nino sekarang dipenjara?" Tanya Aretta lagi.


"Polisi sedang menyelidiki kasusnya. Kalau memang Nino pelakunya, pasti akan segera ditangkap juga!"


"Syukurlah!" Ucap Aretta lega.


"Kok, malah nanyain Nino? Ini suaminya nggak ditanyain? Nggak kangen emang?" Tanya Leo yang merasa dirinya diabaikan.


Aretta pun kembali memeluk Leo. Rasanya, pertanyaan apapun tidak akan cukup untuk menjawab rasa penasarannya.


"Dengan kamu sudah kembali pulang ke rumah juga, sudah cukup buatku, Yank!" Ucap Aretta yang menyandarkan kepalanya pada bahu Leo.


"Eh, kalian laper nggak? Makan dulu yuk! Kebetulan tadi Bi Surti masaknya banyak banget." Ucap Aretta lagi.


"Aku maunya makan kamu!" Ucap Leo pada telinga Aretta.


"Gue laper ah, mau makan dulu!" Ucap Bony yang segera menuju ruang makan.


Bony memang sering ke rumah Leo. Bahkan, sebelum Leo menikah, Bony sering menginap. Untuk sekedar membahas kegiatan genk motornya dengan Leo.


Aretta dan Leo pun mengikuti Bony ke ruang makan. Dengan dibantu Bi Surti, Aretta menyiapkan makanan yang tadi sudah dibereskan.


Aretta juga dengan telaten mengambilkan makanan ke piring Leo. Layaknya seorang istri yang melayani suaminya.


Leo dan Bony akhirnya makan dengan lahapnya. Seperti biasa, tidak ada banyak percakapan selama makan berlangsung. Mereka hanya fokus pada makanannya.


Bony pun kemudian berpamitan setelah selesai makan. Ia merasa tugasnya sudah selesai untuk membantu Leo.

__ADS_1


__ADS_2