ARETTA

ARETTA
GALAU


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak ia pergi bersama Leo dan teman-teman genk motornya. Namun ingatannya masih saja belum bisa hilang tentang kejadian di area camping itu.


Tentang Leo yang begitu memperlakukannya bagai ratu, tentang Leo yang berusaha keras melindunginya, dan tentang Leo yang rela berkorban banyak untuknya.


"Ah, Leo. Rasanya gue ingin kembali lagi ke malam itu. Malam saat gue tertidur lelap dipelukan lo!" Aretta bergumam sendiri.


Tapi lamunannya kembali membuyar saat tiba-tiba terlintas wajah manis Nino. Laki-laki yang dulu sangat berani mengutarakan cintanya melalui sepucuk surat. Meski kala itu usia mereka terbilang masih sangat kecil, namun itu tidak menghalangi semuanya.


Pernyataan Aretta yang meng-iyakan ajakan Nino untuk saling menjalin hubungan, nyatanya masih membekas sampai sekarang. Meski awalnya, Aretta tidak serius dengan ucapannya itu.


"Andai saja dulu kamu tidak menghilang, Nino. Pasti semuanya tidak akan serumit sekarang." Aretta kembali membatin.


Triiiing


Ponsel Aretta tiba-tiba berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Sontak saja, Aretta yang kala itu sedang melamun, mendadak terkejut.


Dion


Tertera nama diponsel sang penelpon.


"Ya, halo!" Ucap Aretta setelah menekan tombol hijau diponselnya.


"Hai!" Sapa Dion dari seberang telepon.


"Ada apa yon?"


"Nggak pa-pa, gue cuma pengen denger suara lo aja!"


"Oh!" Aretta menjawab singkat.


"Besok gue jemput ya?"


"Nggak usah, Yon. Gue bisa berangkat sendiri!" Ucap Aretta mencoba berkata sopan pada Dion.


Hal itu dilakukannya agar tidak melukai Dion. Secara, kemaren Dion sudah ditolak oleh Aretta.


"Oh gitu ya?" Dion mencoba mengerti Aretta.


"Sorry ya, Yon?" Sikap jutek Aretta seolah melunak.


"Nggak pa-pa kok. Gue bisa ngerti! Setidaknya, gue masih bisa liat lo tersenyum. Itu udah lebih dari cukup."


"Gue mau istirahat dulu, Yon !"


"Ya udah, sorry ya gue ganggu !"


Aretta menutup teleponnya.


"Dion, sebenarnya dia baik banget sama gue. Tapi gue nggak bisa nerima dia jadi cowok gue. Gimana dong ? Gue harus milih siapa diantara mereka bertiga ? Ini benar-benar menyulitkan!" Aretta bergumam sendiri.


"Apa gue cerita aja ke Della? Kali aja dia bisa bantu!" Aretta bergegas menuju kamar Della yang saat itu tidak terkunci.


"Del" Ucap Aretta saat melihat temannya sedang bersantai didalam kamarnya.

__ADS_1


"Hmm!" Della hanya menjawab singkat.


"Mau curhat gue!" Aretta tanpa basa-basi yang sudah mengambil posisi duduk didekat Della.


"Apa gue nggak salah denger?? Seorang Aretta si gunung es, tiba-tiba mau curhat ke gue?" Della yang melihat tingkah sahabatnya itu merasa heran.


"Gue serius, Del! Lo mau dengerin curhatan gue nggak? Kalo lo nggak mau, gue balik lagi nih!" Aretta mengancam.


"Iya, iya gue dengerin. Pemarah banget sih lo! Mau curhat apa emangnya?" Della akhirnya bertanya.


"Gue lagi galau, Del."


"Galau kenapa?"


"Tiga cowok sekaligus nembak gue secara bersamaan!"


Mata Della membulat sempurna mendengar ucapan Aretta. Bagaimana tidak, Aretta yang selama ini dikenalnya selalu cuek jika berurusan dengan cowok, kali ini merasa galau dengan hal tersebut.


"Lo serius dengan ucapan lo?!"


"Iya, gue serius. Mereka semua nembak gue!"


"Bukan itu maksud gue!" Della yang merasa belum puas dengan jawaban Aretta, mencoba meluruskan.


"Terus?!"


"Maksud gue, lo kan selama ini cuek banget dengan cowok. Kenapa sekarang bisa jadi galau gitu?" Della masih merasa heran dengan tingkah Aretta.


"Masalahnya sekarang, mereka adalah orang-orang yang benar-benar baik ke gue."


Aretta hanya mengangguk pelan mendengar ucapan Della.


"Jelasin dulu sama gue, siapa aja cowok itu?" Della membenarkan posisi duduknya.


"Dion, Leo, dan Nino." Aretta menjawab simpel.


"Tunggu bentar! Kalau Dion dan Leo, gue kenal. Tapi kalau Nino, siapa dia?" Ucap Della yang belum mengetahui tentang Nino.


"Dia cinta pertama gue, Del. Dulu kita sempet jadian, tapi dia ninggalin gue karena harus ikut orang tuanya yang dipindah tugaskan ke luar kota. Jadi nasib hubungan kita nggak jelas." Aretta mencoba menjelaskan sesingkat mungkin.


"Kapan itu?"


"Waktu gue SD kelas empat, dan dia kelas enam."


"Apaa?!" Della sampai tidak percaya mendengar pernyataan Aretta tersebut.


Aretta hanya menatap nanar pada Della. Matanya kembali menerawang jauh entah kemana.


"Oke, gue minta maaf. Tapi ini benar-benar buat gue kaget."


"Nggak pa-pa, Del. Tapi lo harus bantuin gue." Ucap Aretta setengah merengek pada Della.


"Gue pasti bantuin lo. Berarti itu udah lama banget kan? Sekitar sepuluh tahun yang lalu."

__ADS_1


"Iya, Del."


"Lo masih sayang sama Nino?" Della meyakinkan.


"Gue nggak tau, Del. Yang jelas, cinta pertama nggak bisa segampang itu buat dilupakan."


"Jadi, menurut lo, hati lo lebih milih siapa?"


Suasana hening sejenak, Aretta masih terlihat berpikir sebelum akhirnya bicara.


"Akhir-akhir ini, gue sering kepikiran Leo. Gue juga nggak tau kenapa? Yang jelas, Leo punya cara sendiri buat gue nyaman didekatnya. Tapi bayangan Nino, seolah tak bisa lepas dari pikiran gue."


"Kalau Dion, bagaimana? Apa lo juga kepikiran?"


"Gue udah nolak dia kemaren."


"Oke, kalau gitu, brarti lo tinggal milih antara Leo dan Nino?" Della bertanya, kali ini benar-benar serius. Jiwa pemimpinnya keluar.


Aretta hanya mengangguk pelan.


"Dengerin gue! Semua orang punya cinta pertama, tapi tidak semua orang bisa bahagia dengan cinta pertamanya. Beberapa diantara mereka, lebih tertarik dengan orang yang bisa membuatnya nyaman." Della berkata dengan menatap serius pada Aretta.


"Maksud lo, gue lebih baik milih Leo?" Aretta menangkap dengan cepat, maksud ucapan Della.


"Kalau itu bisa bikin lo bahagia, kenapa tidak?"


"Tapi, gue ragu, Del!"


"Kenapa?"


"Cara dia memperlakukan gue, seolah sudah biasa ia lakukan pada perempuan lain juga."


"Gue yakin kok, Leo bukan laki-laki seperti itu. Memang banyak cewek yang ngejar dia. Secara wajah ganteng dan jabatan manajer, membuatnya dipuja oleh banyak cewek. Tapi, dia nggak pernah seserius ini. Gue pernah kan ceritain tentang dia?" Della mengingatkan tentang Leo yang pernah diceritakannya pada Aretta.


"Iya, gue inget."


"Ya udah, mulai sekarang lo jangan bingung lagi. Gue selalu doain yang terbaik buat lo."


"Thanks ya, Del!" Aretta memeluk Della.


Pikirannya yang dari tadi galau, kini sedikit menemukan titik terang. Dan itu berkat sahabatnya, Della.


Aretta kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan merebahkan tubuhnya pada tempat tidur. Hatinya masih berkecamuk memikirkan ucapan Della.


"Apa iya gue suka sama Leo? Tapi, apa bisa dia dapetin restu ayah sama ibu? Lalu, bagaimana dengan Nino? Ya Tuhaan, gue bener galau kali ini!" Aretta berucap sendiri sembari memikirkan dua pria yang mengganggu pikirannya.


JANGAN LUPA JEJAK LIKE, KOMEN, RATE, DAN VOTE.


BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT UP


😍😍😍


🤗🤗🤗

__ADS_1


💖💖💖💖💖


__ADS_2