ARETTA

ARETTA
KEPANIKAN NINO


__ADS_3

Hari itu seperti biasa di jam istirahat, Nino bergegas menuju kelas Aretta. Kali ini ia membawakan segelas minuman dingin di tangan kanannya. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini Nino tidak menemukan Aretta di bangku tempatnya biasa duduk. Nino pun bertanya pada Lala. Karena Lala satu-satunya orang yang ia kenal dikelas Aretta. Selain Aretta tentunya.


"Lala, Aretta kemana ? Kok nggak ada di tempat duduknya ? Apa ia lagi jajan ?" Tanya Nino pada Lala.


"Kamu nggak tau emangnya ? Aretta sakit, kata Tati, Aretta demam. Panasnya tinggi dari tadi pagi, jadi nggak bisa masuk." Ujar Lala menjelaskan.


"Sakit ?" Nino terkejut.


"Iya, Nino."


"Sayang banget, padahal aku udah bawain minuman buat dia."


"Buat aku aja lah !" Ucap Lala yang tanpa malu meminta minuman yang dipegang Nino.


Lala dan Nino sudah berteman sejak kecil, karena rumah mereka bertetangga. Jadi pantas saja, kalau Lala tidak sungkan meminta minuman ditangan Nino.


"Nih, ambil." Ucap Nino memberikan minuman yang dari tadi digenggamnya.


"Makasih, Nino ." Lala segera mengambil botol minuman yang diberikan Nino.


Nino kembali ke kelasnya, kali ini ia melihat Adi yang sedang duduk sendiri di tempat duduknya.


"Dari mana kamu, No ?" Tanya Adi yang menyadari sudah ada Nino di sampingnya.


"Dari kelas Aretta." Ucap Nino singkat.


"Cieee yang abis ngapelin pacarnya. . ." Adi menggoda Nino.


"Pacaran apaan ? Orang Aretta nggak ada."


"Nggak ada ? Emangnya kemana ? Pantes aja mukamu ditekuk gitu." Adi masih menggoda Nino.


"Aretta sakit." Ucap Nino.


"Di, anterin aku jenguk Aretta yuk, sepulang sekolah !" Pinta Nino kemudian.


"Kamu berani emangnya ke rumah Aretta ?" Tanya Adi.


"Nggak tau ! Tapi aku khawatir banget sama Aretta, Di !" Jawab Nino yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


"Kok nggak tau ?"


"Gimana, kalau kita ajak Lala ?" Nino memberi ide.


"Bertiga gitu ke rumah Aretta nya ? Emang Lala tau rumah Aretta ?" Tanya Adi lagi.


"Nanti aku tanya Lala dulu !" Ucap Nino yang segera berlari menuju kelas Lala, tanpa meminta persetujuan Adi.


Sampai di kelas Lala

__ADS_1


"Lala !" Ucap Nino setengah berteriak pada Lala dari depan pintu kelas.


Lala yang kala itu sedang bersenda gurau dengan temannya, langsung menghentikan aktivitasnya, dan berjalan menuju arah Nino.


"Ada apa ?" Tanya Lala yang heran melihat tingkah Nino.


"Kamu tau rumah Aretta, nggak ?" Tanya Nino yang nafasnya masih belum beraturan, setelah berlari dari kelasnya menuju kelas Lala.


Jarak antara kelas Nino dan kelas Aretta memang hanya sekitar dua puluh meter. Tapi karena Nino terburu-buru, maka wajar kalau sampai nafasnya terengah.


"Nggak. Kenapa emangnya ?" Tanya Lala heran.


"Disini siapa yang tau rumah Aretta ?" Tanya Nino lagi.


"Tati pasti tau. Dia kan tiap hari pulang pergi bareng Aretta terus." Jawab Lala enteng.


"Kamu temenin aku ya sepulang sekolah ?"


"Mau kemana emang ?" Tanya Lala yang masih bingung dengan arah pembicaraan Nino.


"Rencananya, aku sama Adi mau ke rumah Aretta sepulang sekolah. Kamu harus ikut, soalnya aku malu kalau harus berdua doang. Nggak ada cewenya lagi. Nanti orang tua Aretta curiga ." Ucap Nino mencoba menjelaskan.


"Cieee yang khawatir sama pacarnya ?" Lala menggoda Nino.


"Apaan sih, kamu ? Nanti kamu kasih tau Tati ya, kalau kita nanti pulangnya mau jenguk Aretta !" Ucap Nino yang segera pergi meninggalkan Lala.


Bel pulang berbunyi


"La, enaknya kita bawa apa ya buat Aretta ?" Tanya Nino yang sedari tadi memikirkan buah tangan yang akan diberikan untuk Aretta.


"Gimana kalau bawa buah-buahan ? Jeruk, apel, anggur, misalnya." Lala mengusulkan.


"Mahal, La. Mana punya uang aku." Ucap Nino.


"Gimana kalau bawa bubur ?" Adi ikut mengusulkan.


"Mana ada tukang bubur jam segini, Di ?" Ucap Nino menolak.


"Terus kamu mau bawain apa ?" Tanya Lala yang mulai kesal karena tidak ada usulan yang bisa diterima Nino.


"Bawain susu coklat aja, Aretta suka susu coklat." Jawab Tati yang tiba-tiba ikut mengusulkan.


"Kalau itu, aku setuju ! Ayo kita belanja dulu !" Ucap Nino bersemangat.


Merekapun berhenti disebuah toko sembako yang dilewati saat menuju rumah Aretta.


Nino segera membeli susu coklat dan beberapa makanan kecil sebagai buah tangannya untuk Aretta.


"Banyak juga uangmu, No ?" Ucap Adi yang melihat temannya membawa jinjingan cukup banyak.

__ADS_1


"Aku terbiasa menyisihkan uang jajanku. Dan ini hasilnya, aku bisa membelikan sesuatu untuk Aretta tanpa meminta pada orang tua." Nino menjelaskan.


"Oooohhh." Serentak Adi, Lala, dan Tati memonyongkan bibirnya.


"Ya udah kita jalan lagi !" Ucap Nino berjalan memimpin didepan.


" Emang kamu tau rumah Aretta ? Berlagak memimpin jalan, lagi !" Adi menyindir.


"Cieee, yang nggak sabaran pengen nengokin pacarnya." Lala terus menggoda.


"Ah, kalian ini ! Serba salah mulu. Ya udah Tati di depan !" Ucap Nino yang sedikit kesal karena digoda terus oleh teman-temannya.


Merekapun berjalan dengan agak cepat menuju rumah Aretta yang dipimpin oleh Tati.


Perasaan Nino dag dig dug tak karuan kala itu. Bertemu Aretta saja, sudah membuatnya gugup. Apalagi jika harus bertemu orang tuanya. Sekuat tenaga, Nino mengumpulkan keberaniannya.


"Assalamu'alaikum." Ucap mereka ber-empat kompak sesampainya di depan rumah Aretta.


"Wa'alaikumsalan." Ucap perempuan dari dalam rumah yang bergegas keluar menemui asal suara tersebut.


"Eh, Tati. Sama siapa ? Kok, ibu belum pernah liat sebelumnya ?" Tanya perempuan itu yang tak lain adalah ibu Aretta.


Ibu merasa heran dengan anak laki-laki yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Oh, ini kenalin dulu bu. Ini Lala, Adi, Nino. Kita semua pengen jenguk Aretta, bu." Ucap Tati menjelaskan.


"Ooh, ya udah ayo masuk. Duduk dulu disini, nanti ibu panggilkan Aretta." Ucap ibu mempersilahkan mereka duduk di kursi yang ada di ruang serbaguna.


Tak berapa lama, seorang anak gadis yang berpakaian serba tertutup, keluar dari kamarnya dengan di bantu ibu. Anak gadis itu didudukannya pada sebuah kursi. Ya, dia adalah Aretta.


Jantung Nino seolah berhenti berdetak ketika bertemu langsung dengan Aretta. Dan itu memang terjadi setiap kali ia berada didekat Aretta.


"Aretta duduk disini ya, ibu mau ke belakang dulu." Sembari berlalu meninggalkan Aretta dan teman-temannya.


"Are, gimana keadaanmu ?" Tanya Lala membuka pembicaraan.


"Aku demam, La. Masih pusing juga." Ucap Aretta yang masih lemas.


"Udah berobat belum ? Udah diminum kan obatnya ? Jangan lupa makan juga !" Ucap Lala yang sedikit bawel.


"Iya, Laa." Jawab Aretta.


Sementara itu, diujung kursi. Nino hanya diam menunduk saja.


"Aretta, kamu tau nggak ? Kita semua dipaksa kesini sama Nino. Dia cemas banget dengan kondisi kamu. Dia juga yang berinisiatif membawakan buah tangan ini." Ucap Lala berbisik, berharap orang tua Aretta tidak mendengar.


Sedangkan, Nino yang mengetahui hal itu hanya diam menunduk saja. Sambil sesekali memberi kode pada Lala, agar tidak asal bicara.


Begitulah cinta monyet, yang selau merasa bahagia meski hanya dengan melihat orang yang disukainya saja. Seperti Aretta dan Nino.

__ADS_1


__ADS_2