ARETTA

ARETTA
HARI PERTAMA DIRUMAH


__ADS_3

Sinar matahari sudah menembus kamar yang jendelanya masih tertutup rapat. Aretta membuka matanya pelan, ia merasakan berat pada bagian perutnya karena tangan Leo yang yang memeluknya erat, serta kakinya yang masih mengunci kaki Aretta.


Aretta pun menggeser pelan tangan Leo, agar tidak mengganggu tidurnya. Ia hendak beranjak dari tempat tidur, namun gerakannya terhenti saat Leo tiba-tiba menarik tangannya hingga tubuhnya kembali jatuh dipelukan sang suami.


"Lo mau kemana?" Tanya Leo yang kembali memeluk Aretta erat.


"Ini sudah siang, gue mau mandi!" Jawab Aretta.


"Nanti saja mandinya! Gue masih pengen peluk lo!" Ucap Leo semakin erat memeluk Aretta.


"Ini udah siang, Leo. Badan gue gerah, nggak enak!"


Leo pun akhirnya menambah volume pendingin ruangannya, hingga udara didalam kamar berubah menjadi sangat dingin. Bahkan hangatnya sinar mentari yang masuk melewati sela-sela ventilasi, tidak lagi terasa.


"Sekarang udah nggak gerah lagi kan? Ini hari libur, gue pengen peluk lo aja seharian!"


Aretta pun kehabisan ide untuk menolak keinginan Leo. Ia akhirnya menyandarkan kepalanya di dada bidang Leo.


"Sampai kapan kita akan seperti ini, Leo? Apa lo nggak laper?" Tanya Aretta masih mencari alasan agar ia bisa segera keluar kamar.


"Sampai gue puas memakan lo!" Jawab Leo yang sudah mendorong Aretta, hingga ia kini sudah berada diatas tubuh Aretta.


"Maksud lo?!" Tanya Aretta membelalakkan matanya.


Leo pun kembali melakukan aksinya. Ia begitu menikmati tubuh Aretta setiap incinya. Keadaan mereka yang sudah tidak berpakaian, semakin memudahkan aksinya. Bahkan dinginnya suhu di kamar tersebut tidak lagi terasa. Justru sebaliknya, tubuh keduanya kini sudah berkeringat akibat olahraga ranjang yang mereka lakukan.


Leo dan Aretta kini sudah sama-sama mencapai puncak, mereka sama kelelahan dengan nafas yang menderu tak beraturan.


"Gue mandi dulu!" Ucap Aretta akhirnya beranjak dari tempat tidur.


Leo kali ini tidak menahannya, ia justru memejamkan matanya dan hendak kembali tidur.


"Leo! Jangan tidur dulu!" Ucap Aretta menggoyangkan lengan Leo.


"Kenapa, lo mau lagi?" Tanya Leo dengan mata nakalnya.


"Bukan itu. Pakaian gue dimana? Semalem belum sempet dibawa kesini kan? Tolong ambilin dulu di bagasi mobil!"


"Paling juga udah didepan pintu!" Jawab leo ringan.


"Kok bisa?!" Tanya Aretta keheranan.


"Biasanya bi Surti suka nyimpen barang di depan pintu. Dia nggak akan berani ketuk pintu kalau gue udah dikamar. Kecuali kalau ada hal yang sangat mendesak." Leo menjelaskan perihal asisten rumah tangganya.


"Oh gitu! Terus, gimana caranya gue kekamar mandi? Apa ada handuk disini?" Tanya Aretta polos.


"Ada handuk gue di dalam kamar mandi." Jawab Leo.


"Terus, cara gue ke kamar mandi gimana?"

__ADS_1


"Ya tinggal jalan, susah amat!"


"Gue kan nggak pake apa-apa, Leo. . .!"


"Ya Tuhan, . . Nggak ada siapa-siapa disini, sayang!"


"Kan, ada lo?!"


Leo bahkan sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena kepolosan istrinya itu.


"Gue gendong aja, gimana? Biar kita mandi bareng?" Ajak Leo kembali dengan mata nakalnya.


"Oke, gue ke kamar mandi!" Jawab Aretta yang segera berjalan ke kamar mandi.


Meski tanpa menggunakan sehelai kainpun, namun pikirnya, akan lebih baik. Daripada harus mandi bersama suaminya. Yang ada, nanti akan jadi drama mandi yang berkepanjangan.


Sementara itu, Leo hanya tersenyum memandangi Aretta dari belakang. Ia bahkan tidak menyangka, kalau istrinya akan sepolos itu.


Aretta pun keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk yang melingkari tubuhnya. Ia melihat Leo yang kembali terlelap diatas tempat tidur.


Diliriknya kearah pintu, koper yang berisikan pakaiannya sudah berada didalam kamar.


"Mungkin, Leo sudah membawanya masuk sewaktu gue mandi tadi!" Benak Aretta.


Aretta pun membuka kopernya dan memilih pakaian yang akan ia kenakan. Setelah berpakaian lengkap, Aretta mengeringkan rambutnya dan tidak lupa memoles wajahnya tipis-tipis.


Dilihatnya dari cermin, Leo yang tengah memperhatikannya dari belakang.


"Lo cantik! Coba kesini!" Pinta Leo menepuk tempat kosong disamping tempat tidurnya.


"Lo mau apa lagi? Ini udah siang, bukannya mandi!" Jawab Aretta.


"Sini dulu!" Ucap Leo.


Akhirnya Aretta menuruti perintah Leo dan duduk disampingnya.


"Mana handuk?" Tanya Leo menyodorkan tangannya untuk meminta handuk pada Aretta.


Aretta pun memberikan handuk yang tadi dipakai untuk mengeringkan rambutnya.


Leo sudah mengambil handuk dari tangan Aretta dan melanjutkan untuk mengeringkan rambut Aretta.


"Lo nggak usah seperti ini! Gue bisa sendiri!" Ucap Aretta.


"Nggak usah ngomong! Diem aja!"


Aretta pun akhirnya hanya bisa menuruti perkataan suaminya. Ia membiarkan Leo yang mencoba mengeringkan rambutnya.


"Udah ah, gue mau mandi dulu!" Ucap Leo setelah dirasanya rambut Aretta cukup kering.

__ADS_1


"Gue tunggu dibawah ya?" Ucap Aretta.


"Hmm!" Jawab Leo yang sudah berlalu menuju kamar mandi.


Aretta pun akhirnya turun ke lantai bawah. Disana dilihatnya bi surti yang tengah mempersiapkan makan untuk kedua majikannya.


"Lagi masak apa, bi?" Tanya Aretta.


"Eh, mbak Aretta. Ini lagi masak capcay sama ayam kecap, mbak. Sama ada cumi goreng tepung juga!" Jawab bi Surti.


"Ooh, gitu. Kayanya enak nih! Aku bantuin ya, bi?" Ucap Aretta menawarkan diri.


"Nggak usah, mbak! Ini juga sudah selesai, mbak tunggu aja di meja makan!" Ucap bi Surti sopan.


"Nggak pa-pa, bi! Aku udah biasa, kok." Jawab Aretta yang kemudian membantu bi surti di dapur.


"Beruntung banget ya, mas Leo! Dapet istri cantik, baik, nggak sombong pula!" Batin bi Surti.


Aretta pun akhirmya membawakan satu persatu makanan menuju meja makan, tidak lupa dibantu bi Surti tentunya.


Leo yang baru saja berada dimeja makan, melihat makanan dihadapannya dengan perasaan yang sangat lapar.


"Kayanya enak nih!" Ucap Leo.


"Gue ambilin ya?" Ucap Aretta yang sudah mengambil piring yang ada dihadapan suaminya.


"Boleh, boleh!" Jawab Leo antusias.


"Lo mau makan apa?" Tanya Aretta.


"Semua aja! Gue mau cobain semua!" Jawab Leo yang sudah menahan air liurnya.


"Laper apa rakus?" Tanya Aretta dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Ia tau betul kalau suaminya itu memang sangat lapar, terlebih lagi karena aktivitas semalam mengeluarkan banyak tenaga.


Sementara itu, Leo hanya menatap Aretta dengan penuh makna.


"Awas aja nanti!" Ancam Leo dengan senyum nakalnya.


Aretta tidak menghiraukan ucapan Leo, ia kemudian duduk disamping Leo setelah mengisi piring suaminya.


Tidak bisa dipungkiri, dirinya juga merasa lapar, karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Waktu sarapan dan makan siang yang digabungkan menjadi satu.


Akhirnya Aretta dan Leo makan dengan lahapnya tanpa ada obrolan apapun. Kecuali bunyi sendok dan garpu yang saling beradu.


LIKE, KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK JANGAN LUPA YA😍😍😍😍


SEMOGA KALIAN SELALU SEHAT TERUSπŸ€—

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2