
Malam itu ayah pergi dari rumah dengan berjalan kaki. Pikirannya jauh entah kemana. Ia tidak bisa membayangkan apa yang telah menimpa dirinya. Perasaan bersalah, menyesal dan takut, campur aduk menjadi satu.
Langkahnya gontai, sedangkan rambutnya berantakan. Karena sedari tadi ayah tak henti menjambaki rambut cepaknya.
Tiba-tiba suara motor menghentikan langkah ayah.
"Mau kemana pa Kasim ?" Ucap pria bermotor yang berhenti tepat disamping ayah.
"Nggak tau nih, saya lagi pusing, pa." Ucap ayah yang masih terus menjambaki rambutnya.
"Kalau gitu, ayo ikut saya !" Ucap pria bermotor tersebut.
Tanpa berpikir panjang, ayah langsung menaiki motor pria tadi yang tak lain adalah teman kerjanya.
Motor melaju lumayan kencang, menyusuri jalanan aspal dan gelapnya malam. Hingga setelah melewati beberapa desa yang jaraknya cukup jauh, motor tersebut berhenti di sebuah warung yang sangat tertutup. Pencahayaannya juga tidak begitu terang.
Ayah yang saat itu sedang tidak karuan pikirannya, segera mengikuti temannya masuk kedalam warung tersebut.
Alangkah herannya ayah ketika mendapati keadaan yang berbanding terbalik pada kondisi warung tersebut.
Bagaimana tidak, warung tersebut nampak dari luar hanyalah sebuah warung biasa yang menjajakan aneka kopi dan makanan ringan secukupnya.
Sedangkan pada bagian dalamnya terdapat berbagai macam hal yang belum pernah ayah lihat sebelumnya.
Sederet minuman ber-alkohol dengam merk berbagai jenis, mulai dari merk termurah hingga merk termahal.
Belum lagi dengan para wanita seksi yang sengaja disediakan khusus untuk menyambut para tamu yang datang.
"Silahkan pilih pak Kasim, terserah mau yang mana. Saya di sana ya . . ." Ucap teman ayah yang sudah merangkul seorang wanita seksi dengan busana minimnya, dan segera berlalu menuju sebuah kursi yang terletak di sudut ruangan.
Ayah hanya menelan salivanya, dan masih terus berpikir.
"Yang ini aja !" Ucap ayah kemudian menunjuk seorang perempuan yang usaianya sekitar dua puluh tahun lebih muda darinya.
Perempuan itu berbaju hitam ketat, dengan belahan dada yang sedikit terbuka. Sedangkan pahanya sengaja dibiarkan terbuka. Hanya tersisa sedikit kain yang menutupinya. Bibir merah menyala, dengan rambut ikal yang dibiarkan terurai. Tidak lupa dengan tatanan make up yang super tebal.
Ayah memilih kursi yang tidak jauh dari temannya berada.
"Nama kamu siapa ?" Ucap perempuan tersebut membuka pembicaraan.
"Panggil saja pak Kasim." Ucap ayah setelah menyeruput kopi hitam yang baru dipesannya.
__ADS_1
Jantung ayah dag dig dug tidak karuan, bukan saja berhadapan dengan perempuan muda yang ada dihadapannya, melainkan masih memikirkan kejadian sewaktu dirumah tadi.
"Pekerjaannya apa ?" Ucap perempuan itu lagi.
"Saya seorang security disebuah gudang. Saya juga punya istri dan seorang anak perempuan." Ucap ayah.
"Oh gituu. . . Terus kalau punya istri, kenapa ada disini ? Bukannya tugas seorang istri itu melayani suaminya ?" Ucap perempuan tersebut.
"Itu dia, saya lagi ada masalah sama istri saya. Dia tadi marah-marah, karena melihat ada bekas lipstik diseragam kerja saya." Ucap ayah menyeruput kopinya lagi.
"Berarti itu salah kamu dong, suruh siapa maennya nggak rapih." Jawab perempuan itu sinis.
"Maksudnya ?" Tanya ayah polos.
"Iya, coba kalau sama saya. Nanti saya ajarin biar bisa maen rapih." Ucap perempuan tersebut sambil mendekatkan bibirnya pada telinga ayah.
Ayah sampai bergidik mendengarnya. Bagaimana tidak, perempuan yang baru ditemuinya itu bisa bersikap demikian. Bahkan namanya saja, ayah belum mengetahuinya.
"Oh ya ngomong-ngomong, nama kamu siapa ?" Ucap ayah mengalihkan pembicaraan.
"Panggil aja Karin." Ucap perempuan tersebut yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari mata ayah.
"Kamu punya anak ? Kok bisa ada ditempat kaya gini ?" Tanya ayah penasaran.
""Maksudnya ?" Tanya ayah semakin penasaran.
"Saya sudah bercerai dengan suami saya, alasannya, karena suami saya ketahuan main gila dengan perempuan lain. Dan lebih parahnya lagi, itu semua dilakukannya di kamar saya sendiri." Ucap Karin lagi.
DEG !
Jantung ayah berdegup kencang mendengar penjelasan Karin. Ia sangat tidak menyangka, kalau hidup perempuan di sampingnya itu sangat menyedihkan. Ayah dengan spontan meraih bahu karin, dan meletakan kepala Karin di bahunya. Sementara Karin perlahan mulai menitikkan air matanya.
"Sabar ya, saya yakin kamu perempuan hebat."
Ucap ayah sembari menyeka pipi Karin yang sudah basah karena tetesan air matanya.
"Iya makasih Mas Kasim." Ucap Karin dengan tangan yang mulai melingkarkan pada pinggang ayah.
DEG, DEG
Jantung ayah berdegup kencang. Belum pernah rasanya ada perempuan yang baru dikenalnya melakukan hal demikian. Bahkan seingatnya tadi, ia menyuruh Karin memanggilnya dengan sebutan 'Pa', kenapa sekarang jadi 'mas', pikirnya yang mulai tidak menentu.
__ADS_1
Sementara itu ayah melihat teman yang duduk tepat dikursi sebelahnya itu, sedang menenggak minuman. Sembari sesekali mencumbui perempuan yang ada di sampingnya.
Ayah mengalihkan pandangannya pada Karin yang masih memeluk pinggangnya dengan manja.
"Sepertinya saya mau pulang saja, mungkin anak sama istri saya sedang menunggu di rumah." Ucap ayah melepaskan tangan Karin dari pinggangnya.
"Kok cepet banget sih mas ? Kita kan lagi asik ngobrol ?" Ucap Karin manja.
"Tapi saya harus pulang !" Ucap ayah tegas.
Karin mencoba mengerti. Karena bagaimanapun juga, orang yang ada disampingya itu masih berstatus suami orang.
"Ya sudah kalau gitu, ke mami dulu tapi yah ?"
Ucap Karin lagi.
Karin kemudian melambaikan tangan pada wanita paruh baya yang ada di dekat pintu masuk.
"Kopi satu gelas berapa mih ?" Ucap ayah ketika perempuan paruh baya yang di panggil Karin sudah berdiri dihadapannya.
"Jadi semuanya dua ratus ribu." Ucap perempuan yang disebut Mamih tersebut.
"Hanya kopi satu cangkir, dua ratus ribu ? Mahal amat ?" Ucap Ayah sambil mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya.
"Kopinya sepuluh ribu, biaya ngobrolnya seratus sembilan puluh ribu." Ucap Mamih sambil menggerakan kipas yang tak lepas dari tangannya.
kalau tau gini, saya apa-apain si Karin. Sayang, mahal-mahal ga di apa-apain
Benak ayah dengan pikiran jahatnya.
Tak berapa lama kemudian ayah meninggalkan warung kopi yang beberapa waktu lalu telah mengembalikan suasana hatinya. Bayangannya masih teringat pada Karin, perempuan muda yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaan anaknya. Meski ia harus mengorbankan harga dirinya sendiri.
Tiba-tiba ayah teringat pada Aretta, gadis kecilnya yang sangat ia sayangi. Gadis yang selama ini diinginkannya, setelah sekian lama menikah.
"Ah, Aretta. Pasti saat ini kamu sudah tidur, nak. Maafkan ayahmu ini yang berlaku seperti ini , nak." Ayah membatin dalam hatinya.
Tak berapa lama, ayah memberhentikan sebuah sepeda motor yang melewatinya.
"Pa, ojek ." Ucap ayah segera menaiki motor yang diberhentikannya.
Ayah memang sengaja pulang sendirian, karena tidak mau mengganggu kesenangan temannya.
__ADS_1
Diperjalanan pulang, yang ayah pikirkan hanya Aretta. Karena hanya gadis kecilnya lah yang menjadi alasan satu-satunya untuk kembali pulang ke rumah. Ia tidak peduli apabila ibu masih mencaci makinya. Semua dilakukannya demi Aretta.