
Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika ibu telah sampai dirumah. Tak ada siapapun dirumah. Karena Aretta sengaja ia titipkan kepada ibu mertuanya.
Pikirannya teringat hasil pengintaian tadi sore. Tak pernah sedikitpun ia membayangkan, kalau keluarganya akan berada dijalan seperti ini. Bukannya kebahagiaan, tapi justru penghianatan yang didapat.
Tangis ibu pecah ketika memasuki rumah. Tempat yang seharusnya menjadi sumber kehangatan keluarga, kini berubah menjadi neraka yang siap membakarnya hidup-hidup.
"Aretta !" Tangisnya seketika terhenti begitu menyadari jika keberadaan anaknya yang masih ia titipkan.
Segera ibu mengayuh sepedanya dan menyusuri jalanan gelap menuju rumah ibu mertuanya, karena disanalah ia menitipkan Aretta.
Tok, tok, tok. . .
Pintupun diketuk.
Tak berapa lama, keluarlah wanita yang sudah tua dari rumah bilik beralaskan tanah itu.
"Eh, kamu Wati. Ayo sini masuk, Aretta juga belum tidur. Nggak bisa tidur katanya." Ucap nenek tua itu mempersilahkan ibu untuk memasuki rumahnya.
Ibu hanya terdiam dan memasuki rumah, kemudian duduk di sudut ruangan.
"Ibuuuu." Sambut Aretta yang mengetahui kedatangannya.
"Kok belum tidur, sayang ?" Tanya ibu dengan senyum khasnya.
Karena ibu adalah wanita hebat, ia mampu menyembunyikan luka jauh dilubuk hatinya yang paling dalam.
"Are nggak bisa tidur, buu. Are kepikiran ibu terus. Ibu darimana sih bu ? Kok nggak ngajakin Are ?" Ucap Aretta dengan segudang pertanyaannya.
"Ibu ada perlu, sayaaang. Dan nggak bisa bawa kamu, makanya ibu titipin kamu ke nenek." Jawab ibu sambil mengusap rambut anaknya.
"Tapi Are nggak nyusahin nenek, kan ?" Tanya ibu.
"Nggak kok, Wati. . . Nenek malah seneng, kalau Are sering kesini. Biar nenek ada temennya." Ucap nenek menimpali.
Maklum saja, setelah meninggalnya kakek, nenek tinggal seorang diri. Tak ada anak ataupun cucu yang mau menemaninya. Meskipun usia nenek sudah cukup tua, tapi nenek sangat berprinsip. Kalau ia nggak mau merepotkan anaknya.
"Kalau gitu, Are mau saya bawa pulang ya, buu. Udah malem, besok Are harus sekolah."
Ucap ibu.
"Kok buru-buru ? Nenek masih kangen sama cucu kesayangan nenek ini." Ucap nenek mencoba menahan.
"Nanti kan besok nenek bisa maen ke rumah." Ucap Aretta.
"Bagaimana kalau kalian nginep aja disini " Ini kan udah malam, sekali-sekali temenin nenek disini." Ucap nenek membujuk.
"Nggak bisa, buu. Kan besok pagi saya harus ke pasar. Nanti kapan- kapan aja kita nginepnya. Atau kalau nggak, ibu aja yang nginep ke rumah kita gimana ?" Ucap ibu nggak mau kalah.
__ADS_1
"Kalian kan tau, kalau ibu nggak bisa ninggalin rumah ini. Terlalu banyak kenangan kakek disini. Itu alasannya kenapa nenek nggak bisa meninggalkan rumah ini walau hanya semalam saja." Ucap nenek berubah menjadi sedih.
"Maaf nek, kita nggak bermaksud membuat nenek sedih." Ucap Aretta sambil menggenggam tangan neneknya.
"Iya nggak papa kok, nenek hanya teringat kakek saja. Kalau kalian mau pulang, nggak papa kok. Hati-hati dijalannya." Ucap nenek menyeka pipinya.
"Ya udah, kita pulang dulu ya, buu. Takut makin gelap dijalannya." Ucap ibu sembari menyodorkan tangannya mengajak ibu mertuanya bersalaman.
"Iya, hati-hati ya. . ." Ucap nenek.
Ibu dan Aretta bergegas meninggalkan rumah nenek kembali menggunakan sepeda. Aretta yang kala itu duduk dibelakang ibu, tak mengetahui kalau sesekali ibunya meneteskan air mata.
Kenyataan yang pahit itu akan selalu menorehkan luka jika diingat, meski hanya sekilas saja.
Keesokan harinya.
Ibu sengaja meliburkan dirinya untuk tidak berjualan. Apalah daya, hatinya belum membaik dengan perlakuan ayah. Ibu sangat ingin menanyakan langsung kepada ayah.
Tapi waktu semakin berputar, orang yang ditunggunya tidak juga kunjung datang.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Harusnya, saat ini ayah sudah berada dirumah. Sampai akhirnya ibu memutuskan untuk mencari ayah.
Dengan menggunakan jasa ojek tetangganya, ibu mulai mencari ayah. Dari tempat kerja, warung makan, semuanya tidak ada. Sampai kemudian terlintas dipikiran ibu untuk mencari ayah ketempat terakhir.
Braaaaakk. . .
Pintu rumah didobrak
"Kamu siapa ?" Tanya pemilik rumah tersebut.
"Kamu nanya saya siapa ? Tanyakan pada suami kamu !" Ucap ibu segera menduduki kursi meski tanpa dipersilahkan.
Ya, itu adalah rumah ibu Rani. Perempuan yang kemaren ibu ketahui telah menjadi istri baru ayah.
"Siapa dia, Mas ?" Tanya Rani pada pria yang ia anggap suaminya.
"Cuih, dasar perempuan murahan ! Beraninya dia memanggil seperti itu didepan saya !" Batin ibu.
"Dia. . .dia. . ." Ucap ayah terbata.
"Lebih baik kalian berdua duduklah disini, dan sediakan minum untuk tamu kalian ini. Apakah begini cara kalian menghormati tamu ?" Ucap ibu yang tiba-tiba menjadi menyeramkan.
Kontan saja Rani dan suaminya segera duduk berhadapan dengan ibu. Dan segera meminta anak Rani untuk menyiapkan minum.
Rani adalah seorang janda kaya dengan lima anak, yang salah satunya berusia tidak jauh dari ibu. Wajar saja, ia bisa meminta anaknya untuk membuatkan minum
Keteganganpun menghampiri mereka. Tak ada pembicaraan untuk beberapa waktu, hingga akhirnyaa. . .
__ADS_1
"Tolong jelaskan pada saya, sebenarnya apa maksud dan tujuan anda datang ke rumah saya ? Siapa anda ? Kenapa anda masuk dengan cara tidak sopan ?" Ucap Rani memecah keheningan.
"Berani juga perempuan ini ? Mau saya cabik-cabik rupanya." Ibu membatin.
"Tidak sopan kamu bilang ? Hah, benar-benar nih orang !" Ucap ibu menahan amarahnya.
"Tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi ?" Ucap Rani beralih memandangi suaminya.
Sementara ayah hanya bisa tertunduk tanpa sepatah katapun. Tubuh gagahnya seolah membatu.
"Tolong anda jelaskan sekarang juga, ayah !" Ucap ibu memberi penekanan pada kata terakhirnya.
Deg !
Jantung Rani berdegup kencang mendengar kata terkakhir yang diucapkan wanita dihadapnnya.
"Ayah ? Anda menyebut suami saya dengan kata ayah ? Jadi ternyata kamu. . ." Ucap Rani tak bisa melanjutkan kalimatnya.
Sementara ibu hanya mengangguk menjawab pertanyaan Rani.
"Apa maksudnya semua ini, Mas ? Tolong jelaskan sekarang juga ! Jangan buat ini semakin rumit !" Ucap Rani mulai putus asa.
Ayah masih membatu diam seribu bahasa. Masih mencoba merangkai kalimat yang pas, agar tidak melukai dua wanita yang ada didekatnya itu.
"Jawab Mas, jawab !" Ucap Rani memukul lengan ayah.
"Baiklah, saya akan jelaskan semuanya." Ucap ayah tiba-tiba mengangkat wajahnya.
"Silahkan !" Ucap ibu masih bersikap sopan.
"Jadi dia adalah Wati, istri pertamaku." Ucap ayah setelah menghela napas.
"Hah ?!" Rani terkejut dan hanya bisa menangis.
" Saya adalah istri pertama suami anda. Dan kita sudah mempunyai seorang anak. Jangan pernah lupakan itu, Yah ! Karena tidak ada yang namanya bekas anak." Ucap ibu menambahkan.
Sementara Rani dan ayah hanya bisa diam.
" Sekarang nggak usah ngomong panjang lebar, saya mau kamu putuskan ! Pilih saya atau dia !" Ucap ibu yang mulai meninggi.
Ayah masih diam, ia begitu bingung jika harus disuruh memilih. Wati yang sudah memberinya anak ataukah Rani yang sudah membuatnya nyaman ?
"Tolong jangan seperti ini, Wati ! Kalian berdua adalah perempuan yang saya sayangi." Ucap ayah memelas.
"Tidak ada wanita yang mau dimadu ! Saya hanya mau kejelasan dari kamu !" Ucap ibu yang sudah tidak menghiraukan batas sopan santunnya.
"Tolong, beri saya waktu untuk bisa memutuskan hal ini. Ini bukan perkara yang mudah." Ucap ayah lagi.
__ADS_1
"Gampang bener kamu ngomong kaya gitu. Memangnya kamu pikir, saya mau menjadi korban keegoisan kamu !" Ibu membatin.
"Saya nggak peduli kamu milih siapa. Yang jelas, jangan sampai kamu menelantarkan Aretta !" Ucap ibu berlalu dan segera pulang dengan ojek yang sedari tadi menungguinya didepan rumah Rani.