
JANGAN LUPA JEJAK LIKE, KOMEN, RATE, DAN VOTE SEBELUM MEMBACA. BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT UP.πππ
SELAMAT MEMBACAπ€π€π€
πππππ
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Sekelompok teman yang turut serta bersama Leo, hampir sudah memasuki tenda masing-masing. Kecuali Aretta dan Leo yang masih asik mengobrol.
Aretta mengusapkan telapak tangan pada lengannya, ia merasa udara malam itu begitu menusuk.
"Lo kedinginan, Are ?" Leo bertanya ketika melihat orang yang dicintainya menunjukkan rasa tidak nyamannya.
"Iya, gue rasa begitu !" Jawab Aretta mulai menggigil.
Leo yang mengetahui hal itu segera membuka jaket yang dikenakannya, dan memakaikannya pada Aretta.
"Nggak usah, Leo. Gue kan udah pake jaket lo, masa harus pakai yang ini juga?" Aretta merasa tidak enak karena memakai dua jaket punya Leo sekaligus.
"Nggak pa-pa, gue bisa tahan dingin kok. Udah biasa kali, di kota C justru lebih dingin dari ini udaranya."
"Makasih Leo." Suara Aretta mulai bergetar karena menggigil.
"Lo bener-bener kedinginan, Are! Gue anter lo ke tenda ya? Ntar lo bareng Della."
Karena memang saat itu perempuan yang ikut rombongan mereka hanya Aretta dan Della, jadi mereka berdua menempati tenda yang sama, meski ukurannya cukup besar jika hanya digunakan berdua saja.
Leo bergegas membawa Aretta menuju tenda yang sudah berada Della didalamnya, yang sudah terlelap tidur.
Tapi Leo sangat tidak tega meninggalkan Aretta dalam kondisi kedinginan hebat tersebut. Meski sudah memakai jaket dua lapis, namun tubuh Aretta masih terlihat menggigil, dengan bibir yang mulai membiru.
Ia kemudian berlari menuju warung minuman terdekat dan membeli beberapa botol air panas agar bisa digunakan untuk menghangatkan tubuh Aretta. Ia juga mencari selimut, meski harus disewanya dengan harga yang tidak murah.
Segera ia memakaikan selimut pada Aretta dan mendekatkan botol air panas pada sekitar tubuh Aretta. Namun belum juga ada perkembangan yang menandakan kalau hipotermia Aretta akan membaik.
"Lo masih dingin, Are ?" Tanya Leo yang melihat Aretta masih menggigil hebat hingga terdengar suara giginya yang beradu.
Tidak ada jawaban dari Aretta
__ADS_1
"Ijinkan gue buat meluk lo!" Leo akhirnya memberanikan diri.
Masih tidak ada jawaban dari Aretta.
Akhirnya Leo mendekatkan dirinya, meletakan kepala Aretta pada bahu kekarnya, dan memeluk erat gadisnya yang kedinginan hebat.
Jarak antara keduanya saat itu sudah tidak berbatas, bahkan Leo bisa mencium aroma tubuh Aretta yang sangat wangi.
Aretta yang menyadari dirinya berada dipelukan Leo, hanya bisa pasrah. Hipotermia yang menghinggapinya, membuatnya benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Yang ia tau saat itu hanya dingin, dan apapun akan dilakukannya demi menghangatkan tubuhnya. Hingga akhirnya keduanyapun terlelap dalam pelukan.
Pagi harinya
"Hoaaaammm!" Della yang kala itu berada satu tenda dengan Aretta baru membuka matanya setelah nyenyak tidur semalaman. Ia tidak mengetahui kejadian yang terjadi tadi malam.
"Astaga!!! Apa gue nggak salah liat???" Della mengusap matanya berkali-kali memastikan kalau pemandangan didepannya itu bukan ilusi.
"Gue nggak mimpi kan???" Della masih tidak percaya dengan penglihatannya, sampai ia menampar pipinya sendiri.
Ucapan Della yang cukup mengganggu itu, membuat Aretta membuka matanya. Namun ia segera bangkit saat mengetahui dirinya tertidur dalam pelukan Leo.
"Aaaaaaarrrggghh!!!" Aretta menjerit sangat keras hingga membuat rombongan yang ikut bersama mereka mendatangi asal suara tersebut. Begitu juga dengan Leo yang segera tersadar dari tidur nyenyaknya.
"Jelasin sama gue, kenapa gue bisa tidur dipelukan lo???" Aretta menahan emosinya.
"Gue kira apaan, gue masih ngantuk ah!" Leo merasa matanya masih berat dan hendak membaringkan tubuhnya kembali.
"Jawab dulu pertanyaan gue, Leo!!!" Aretta mencubit perut sikspek Leo.
"Au, sakit tau!" Leo akhirnya benar-benar tersadar.
"Semalem itu lo hipotermia, gue udah pakein jaket gue ke lo, udah selimutin lo, udah deketin air panas deket tubuh lo, tapi lo tetep menggigil. Makanya gue peluk. Bukannya terimakasih, malah marah-marah!" Leo menjelaskan.
Teman-teman Leo yang menyaksikan hal itu, mulai membubarkan diri kecuali Bony yang masih berada di dalam tenda bersama Della.
"Kirain ada apaan ?" Celetuk salah seorang teman.
"Itu cuma alasan lo aja kan biar bisa meluk gue?" Aretta masih tidak percaya.
__ADS_1
"Terserah lo mau ngomong apa? Nggak tau terimakasih!" Leo kembali membaringkan tubuhnya dan tidak mempedulikan Aretta yang masih mengomel kesal.
"Eh yank, kita kalah start sama pasangan baru ini!" Bony berbisik pada Della.
"Emang kenapa, yank?" Della tidak mengerti maksud pembicaraan Bony.
"Kita udah pacaran lebih dari satu taun, tapi belum pernah tidur bareng. Sedangkan mereka yang statusnya belum jelas, udah tidur bareng!" Bony berbisik pada Della.
"Hihihi!" Della tertawa ringan dengan kalimat yang diucapkan Bony.
"Brisik lo pada!!!" Aretta yang mendengar obrolan temannya itu merasa kesal, dan berlari keluar dari tenda.
Ia duduk dibebatuan yang terletak dipinggir sungai yang ada diarea camping tersebut.
"Dasar b*doh, nggak berguna, bisa-bisanya gue kemakan rayuan Leo! Cowok yang nggak jelas asal-usulnya. Ini semua salah gue, mau aja diajak sama dia! Bahkan ketempat yang gue nggak tau!" Aretta mengumpat kesal pada dirinya sendiri sambil sesekali melempar kerikil ke sungai. Ia bahkan tidak menyadari kalau sudah ada seseorang tepat dibelakangnya.
"Gue minta maaf ya!" Leo yang saat itu sudah berada dibelakang Aretta memberanikan diri untuk duduk disampingnya.
Aretta masih belum menjawab karena masih merasa kesal terhadap Leo.
"Gue nggak punya pilihan lain semalem. Yang gue tau, cewek yang gue sayang menggigil hebat. Dan semua sudah gue lakukan agar bisa menghangatkan lo tanpa menyentuh lo sedikitpun. Tapi semua usaha gue gagal. Dan gue memberanikan diri gue buat meluk lo. Ternyata cara itu berhasil, hingga membuat lo tertidur nyenyak." Leo mencoba meyakinkan.
"Ah, apa iya? Tapi nggak tau kenapa, gue juga nyaman banget tidur dipelukan lo. Tapi, . . Tidak, tidak. Gue nggak boleh terpengaruh!" Aretta berkata dalam hatinya.
"Jadi, gue mohon maafin gue ya?" Leo masih membujuk Aretta.
Aretta masih tidak menjawab, wajahnya masih terlihat kesal.
"Apa, lo mau gue peluk lagi?" Leo menggoda Aretta dengan cara melingkarkankan tangannya pada bahu Aretta.
"Apaan sih lo?!" Aretta melepaskan tangan Leo dari bahunya.
"Hahaha. . .!" Leo tertawa lepas melihat tingkah gadisnya itu.
"Nggak ada yang lucu!!" Aretta masih bersikap jutek.
"Gue suka liat lo kalo lagi marah. Tetap cantik!" Leo mendekatkan wajahnya memandangi Aretta, hingga membuat gadisnya itu salah tingkah.
__ADS_1
"Udahlah lupain aja! Gue laper!!!" Aretta bangun dari duduknya yang diikuti Leo.
Aretta dengan segala pesonanya, telah membutakan cinta Leo. Seorang mantan playboy yang kini sudah benar-benar dibuatnya tergila-gila. Meski status mereka belum jelas, tapi mereka saling menyimpan rasa satu sama lain.