ARETTA

ARETTA
SHOCK


__ADS_3

Like, komen dan vote dulu dong.


Biar nggak lupa😍😍😍


Favoritin juga, biar selalu updateπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Selamat membaca❣


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Aretta sudah berada di dalam kamar kosannya, masih meratapi kematian Dion yang sangat disayangkannya. Bagaimana tidak, bahkan sampai ada seseorang yang rela mengakhiri hidupnya hanya karena cintanya ditolak.


Perasaannya campur aduk, mulai dari menyesal, marah, hingga kecewa. Semuanya bersatu padu membuat tangis Aretta kian pecah.


Della yang saat itu menemani Aretta, tidak bisa berbuat banyak, selain mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Lo harus kuat. Selalu ingat, semuanya bukan salah lo! Ini sudah menjadi garis kehidupan Dion yang harus berakhir seperti ini." Ucap Della dengan memeluk Aretta.


"Gue nggak nyangka, Del. Dion akan berakhir seperti ini? Padahal dia baik banget sama gue. Kalau aja gue bisa nerima cinta dia, pasti semuanya nggak akan seperti ini!" Aretta dengan tatapan kosong bicara.


"Cinta nggak bisa dipaksakan, Re! Lo harus ingat itu. Lagian, nggak ada yang tau akan terjadi seperti ini!"


Aretta hanya diam, tanpa menjawab ucapan Della. Pikirannya kembali teringat dengan kenangan bersama Dion.


"Bagaimanapun juga, lo adalah teman yang baik, Dion! Terimakasih sudah mencintai gue selama ini!" Aretta membenamkan wajahnya diantara tempurung lutut yang didekapnya. Isaknya kembali terdengar, meski tidak sekeras tadi.


Tiba-tiba tangisnya terhenti, pikirannya kembali teringat pada secarik kertas yang ia bawa dari kamar Dion. Aretta membukanya pelan-pelan, mencoba membaca disela tangisnya yang ia usahakan agar mereda.


***Teruntuk Aretta, kesayangan gue.


Mungkin saat lo baca surat ini, gue udah pergi dari kehidupan lo.


Maaf, kalau gue selalu mengganggu lo


Maaf, kalau gue terlalu cinta sama lo


Maaf, karena gue sudah dengan lancang menyatakan cinta sama lo.


Gue tau ini terlalu cepat, tapi demi Tuhan.


Membayangkan lo bersanding dengan pria lain saja, sudah membuat gue frustasi.


Gue nggak kuat, Aretta .


Gue pengen jadi pria itu!


Tapi gue sadar, lo nggak pernah punya tempat untuk gue.


Jadi gue harap, lo bahagia dengan pria pilihan lo.

__ADS_1


Gue pikir, ini pilihan terbaik yang gue punya.


Pergi dari hidup lo untuk selamanya.


Karena sekali lagi, gue nggak akan kuat


melihat lo bersanding dengan orang lain***.


***I LOVE YOU


I LOVE YOU


I LOVE YOU, ARETTA


DION, yang selalu mencintaimu***


Bunyi surat dari Dion.


Tangis Aretta kembali pecah. Meski ia tak pernah sedikitpun mencintai Dion, namun hatinya masih berpikir, kalau Dion adalah teman yang sangat baik. Bahkan, Dion selalu ada kapanpun Aretta membutuhkannya.


Della yang menyadari hal itu semakin kebingungan. Ia bahkan sampai mondar-mandir memikirkan cara agar Aretta bisa tenang tanpa rasa bersalahnya.


"Leo! Gue kirim pesan aja kali ya?" Gumam Della.


Ia pun pergi ke kamarnya dan mengetik pesan singkat untuk Leo. Della tidak mau sampai Leo sangat khawatir dengan keadaan calon istrinya itu.


Bunyi pesan Della untuk Leo.


***


Di kota C, Leo yang jabatannya sebagai manajer accounting di sebuah perusahaan, terlihat sibuk. Karena dalam beberapa hari lagi, kantornya akan kedatangan audit tahunan yang akan memeriksa semua keadaan kantor, termasuk masalah keuangan.


Leo langsung membuka ponselnya saat mendengar nada pesan masuk berbunyi.


Della


Segera ia baca pesan dari Della. Namun alangkah terkejutnya Leo saat mengetahui isi pesan yang mengatakan tentang Aretta.


"Bon, sepertinya gue harus pulang ke kota B. Ada urusan mendadak." Ucap Leo pada Bony yang sama-sama memegang jabatan manajer.


"Aretta?" Bony sepertinya sudah tau urusan sahabatnya itu.


"Iya, Bon. Gue ijin pulang cepet ya?"


"Ya, lo santai aja." Ucap Bony yang masih duduk menghadap layar komputernya.


"Thank's, Bon!" Ucap Leo yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bony.


Leo pun akhirnya mengerjakan laporannya dengan cepat, dan bergegas pulang ke kota B tanpa membalas pesan dari Della.

__ADS_1


***


"Lo makan dulu ya? Gue udah beliin makanan buat lo!" Della membujuk Aretta yang tengah duduk termenung dengan memeluk kedua kakinya.


"Gue nggak laper, Del." Ucap Aretta tanpa melihat Della. Pandangannya masih kosong.


"Lo harus makan! Ini demi kebaikan lo. Lo nggak mau kan, pernikahan lo yang udah didepan mata berantakan?" Della masih mencoba mengingatkan.


"Tapi gue nggak laper, Del!" Aretta sedikit menaikkan nada bicaranya.


Della pun akhirnya berhenti membujuk Aretta. Ia tau, kalau Aretta adalah tipe orang yang tidak bisa dipaksa. Ia akhirnya menunggui Aretta dengan duduk didepan kamar kosannya.


"Aretta kenapa, Del?" Leo yang baru datang bertanya penuh kekhawatiran pada Della.


"Dia belum mau makan dari pagi!" Della akhirnya menjelaskan semua kejadian hari ini pada Leo. Mulai dari A sampai Z, tak ada yang dilewatkannya.


"Mending lo masuk sekarang!" Della mempersilahkan Leo masuk.


"Sayang!" Leo memeluk Aretta dengan mesra.


Aretta langsung membalas memeluk Leo dengan erat. Ia menumpahkan semua perasaannya hari ini pada Leo. Tangisnya yang mulai mereda kini kembali pecah.


"Lo boleh nangis sepuasnya!" Sembari mengusap kepala Aretta dengan Lembut.


"Semua salah gue, Leo. Salah gue!" Ucap Aretta ditengah tangisnya.


"Hei, nggak ada yang salah dalam hal ini! Semua sudah takdirNYA. Kita hanya bisa mengikuti skenarioNYA. Jadi gue mohon, berhenti nyalahin diri lo sendiri! Ada gue disini. Lo tenang ya?" Ucap Leo memegangi kedua pipi Aretta dan mengusap air mata yang masih berlinang dipipinya.


Entah karena kekuatan darimana, Aretta kembali tenang mendengar ucapan Leo. Perasaan yang tak ia dapat dari teman-teman lain yang mencoba menenangkannya, termasuk Della.


"Makasih, Leo!" Ucap Aretta setelah meyakinkan dirinya benar-benar tenang.


"Gue nggak suka liat air mata ini!" Ucap Leo yang masih menyeka pipi Aretta dengan lembut.


Aretta pun memaksakan diri untuk tersenyum. Sepertinya ia tau, yang diinginkan Leo ditengah ucapannya.


"Sekarang, lo makan ya? Gue nggak mau, lo terlihat kurus diacara pernikahan kita yang tinggal satu minggu lagi." Ucap Leo mengambil makanan yang berada tidak jauh dari tempat Aretta duduk.


Aretta hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Leo. Ia tau, betapapun ia menolak, Leo pasti akan memaksanya untuk makan.


Leo pun dengan telaten menyuapi Aretta. Suapan demi suapan nasi diarahkannya ke mulut Aretta.


"Setelah ini, gue nggak mau liat air mata menetes diwajah lo. Atau, lo mau berhenti kerja aja dan ikut gue ke kota C sekarang? Gue akan urus semuanya." Leo antusias.


"Nggak harus sekarang, Leo!" Aretta masih berucap Lemah.


"Tapi nanti juga lo bakal ikut gue!" Ucap Leo lagi.


Aretta hanya tersenyum mendengar ucapan Leo. Entah bagaimana, tapi Leo selalu bisa membuat senyum Aretta mengembang dengan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2