
Ibu masih bersembunyi dibalik kamar Aretta, mencoba mengganti ekspresi wajahnya yang sayu dengan senyuman hangat yang biasa anaknya lihat. Tapi itu membutuhkan waktu yang tidak mudah, berkali-kali ibu mencoba, tapi berkali-kali juga ibu gagal. Tangisnya benar-benar tidak bisa lagi dibendung.
"Demi Aretta !" Pikirnya menyemangati dirinya sendiri. Ibupun memberanikan diri memasuki kamar Aretta. Yang menandakan bahwa, ia akan berhadapan lagi dengan pria yang membuat hatinya luluh lantak.
"Ini ibu bawakan teh manis, biar Are tambah semangat." Ucap ibu yang membawakan segelas teh manis dan meletakannya di dekat Aretta.
"Makasih bu." Ucap Aretta yang masih disuapi ayahnya.
"Ayah mau dibikinin teh manis juga nggak ?" Tanya Aretta pada ayahnya.
Anak itu memang benar-benar tidak mengetahui yang terjadi pada kedua orang tuanya.
"Bu, ayah dibikinin juga teh manis dong, buu. Kasian cape baru pulang kerja." Ucap Aretta yang mengira kalau ayahnya baru pulang kerja.
"Yang benar saja jam segini baru pulang kerja ?" Ibu menggerutu dalam hati.
Jam menunjukkan pukul satu siang. Itu tandanya, sangat tidak mungkin kalau ayahnya baru pulang kerja. Sedangkan ayah bekerja sampai pukul tujuh pagi jika mendapat kerja bagian malam. Dan tentu saja, ibu sudah tau alasannya. Apalagi kalau bukan istri barunya.
"Nggak usah, tadi ayah udah banyak minum di tempat kerja. Jadi masih kenyang, nanti kalau ayah mau juga ambil sendiri." Ucap Ayah yang masih menyuapi Aretta.
"Tumben ayah mau bikin minum sendiri ? Kan biasanya juga apa-apa dibikinin sama ibu." Ucap Aretta penasaran dengan perbedaan sifat ayahnya.
"Iya, emang nggak boleh ayah bikin sendiri ? Lagian, ayah masih ada urusan ditempat kerja. Abis Are abisin makannya, ayah berangkat lagi ya. . ." Ucap ayah mencoba meminta izin pada anaknya.
"Kok gitu yah ? Kan ayah baru nyampe, masa harus berangkat lagi ?" Tanya Aretta.
"Ada urusan." Jawab ayah singkat.
"Oh iya, seingat Are, tadi selama Are nunggu didepan rumah, ayah nggak ada. Itu artinya, ayah belum pulang kerja. Sekarang pas Are bangun, ayah sudah ada. Berarti ayah udah pulang kerja. Tapi kenapa pakaian ayah kaya orang mau main ? Rapi ! Ayah juga wangi !" Tanya Aretta semakin penasaran.
Suasana hening sejenak.
Aretta memang anak yang pintar, ia mampu menganalisa sesuatu yang ada dihadapannya, hingga membuat kedua orang tuanya itu harus ekstra memutar otak untuk menjawabnya. Karena jika salah sedikit saja, hal yang selama ini mereka tutupi akan terbongkar sia-sia.
"Sayaang, Ayah memang baru pulang. Tapi pas tadi Are pingsan, ayah sempet ganti baju dulu. Terus nggak berapa lama, atasan ayah telfon. Minta ayah segera datang ke tempat kerja. Ada perlu katanya." Ucap ibu mencoba memberikan jawaban yang memuaskan.
__ADS_1
"Sekarang, Are istirahat ya ? Ayah tungguin disini sampai Are tidur." Ucap ayah akhirnya.
"Bener ya, yah ?" Ucap Are mengacungkan telunjukanya ke arah ayah, pertanda memberi ancaman.
"Iya bener. Ayah berangkatnya nanti aja, setelah Are tidur." Ucap ayah mencoba meyakinkan.
"Ya udah, Are tidur dulu ya, yah ?" Ucap Aretta mencoba memejamkan matanya.
Sementara itu ayah membelai rambut Aretta dengan lembut. Hingga setelah dirasanya Aretta sudah terlelap, ayah perlahan-lahan meninggalkan kamar Aretta.
Ayah kemudian duduk di ruang serbaguna. Kenapa serbaguna ? Karena bisa menjadi ruang makan, ruang tamu, juga ruang keluarga.
Ayah diam dalam waktu yang cukup lama, matanya menerawang jauh tanpa tujuan. Entah apa yang dipikirkannya.
Sementara ibu sudah tidak ingin berdekatan dengan ayah. Hanya didepan Aretta saja, ibu masih bersedia pura-pura tidak ada masalah dengan ayah. Namun diluar itu, bahkan untuk melirik ayah saja, ibu tidak sudi.
"Bu, ayah mau bicara !" Ucap ayah yang melihat keberadaan ibu yang kala itu sedang sibuk di dapur.
"Bicara apa ? Memangnya ada yang ingin kamu bicarakan dengan saya ? Bukannya sudah ada perempuan yang lebih nyaman kamu ajak bicara ?" Ucap ibu yang sudah hilang rasa hormatnya terhadap ayah.
"Ayolah bu, jangan seperti anak kecil ! Kita ini sudah harus bertindak sebagai seorang tua yang memiliki satu orang anak !" Ucap ayah masih dengan nada rendah.
"Orang tua yang bagaimana yang kamu maksud ? Orang tua yang membohongi keluarganya demi menutupi kesalahan ? Atau orang tua yang membela orang lain daripada keluarganya ? Atau bahkan, orangtua yang sudah tidak peduli dengan keadaan keluarganya ?" Ibu mulai emosi.
"Lebih baik kita bicara baik-baik didepan, bu !" Ucap ayah yang masih bersifat sabar.
"Saya sudah nggak peduli dengan keinginan kamu. Kamupun sudah tidak peduli dengan keluarga kita kan ?" Ucap ibu semakin emosi.
Praaaannk
Ayah menjatukan piring yang ada di sampingnya.
"Cukup bu, cukup ! Saya sudah sangat sabar dengan sifat kamu. Kita mulai ini semua secara baik-baik, kita juga harus akhiri ini secara baik-baik !" Ucap ayah yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
Deg !
__ADS_1
Jantung ibu berdegup kencang.
"Akhiri secara baik-baik ? Apa maksudnya ?" Ucap ibu yang sepertinya paham, kemana arah pembicaraannya itu.
"Saya tunggu didepan." Ucap ayah berlalu menuju ruang serbaguna.
Ibu mulai menarik nafas dalam-dalam, dan bergegas mengikuti ayah dari belakang.
"Duduklah !" Ucap ayah mempersilahkan ibu untuk duduk.
Kali ini ibu menurut tanpa bertanya
"Bicaralah, jangan banyak basa-basi !" Ucap ibu.
Seraya ayah mengeluarkan selembar amplop coklat yang berisikan secarik kertas dan mengulurkannya pada ibu.
Tanpa berkata apapun, ibu mengambil amplop pemberian ayah. Dibukanya amplop tersebut, dikeluarkannya secarik kertas, dan perlahan dibacanya kata demi kata yang menjadi beberapa kalimat. Sampai ibu mengetahui maksud dari isi surat tersebut.
"Kamu lebih memilih perempuan itu ?" Jawab ibu yang mulai berkaca-kaca setelah selesai membaca surat dari ayah.
"Maafkan aku bu ! Aku lebih nyaman dengannya, meski usianya lebih tua dariku." Ucap ayah.
"Kamu tega ninggalin Aretta demi perempuan yang baru kamu kenal ? Apa karena dia lebih kaya, sehingga kamu tega meninggalkan kenangan yang selama ini kita lalui ?" Tanya ibu semakin tidak bisa membendung air matanya.
"Sekali lagi maafkan aku, bu. Aku sangat berterima kasih dengan pengorbanan dan kesetiaan ibu selama ini. Dan aku juga berjanji, tidak akan menelantarkan Aretta."
Ucap ayah tanpa memandang ibu sedikitpun.
"Pergilah, kalau dia yang lebih bisa membuat kamu bahagia. Hanya ingat saja, kamu punya Aretta yang harus kamu bahagiakan. Meski tak bisa dipungkiri, kalau ini semua pasti akan membuatnya kecewa." Ucap ibu memalingkan wajahnya dari ayah.
"Aku janji bu, nggak akan menelantarkan Aretta !" Ucap ayah lirih.
"Hanya kamu yang bisa menepati janjimu sendiri !" Ucap ibu yang masih tidak mau melihat ayah.
"Ayah pamit, bu. Jaga diri kalian baik-baik." Ucap ayah berlalu pergi meninggalkan ibu yang masih duduk mematung dengan bergelimang air mata.
__ADS_1
"Bagaimana caranya aku menjelaskam pada Aretta ? Apa yang harus aku katankan padanya ?" Ibu membatin.
Sementara didalam kamar, anak gadis menenggelamkan wajahnya pada bantal. Meredam keras-keras tangisnya. Mencoba menutupi rasa sakitnya, SENDIRIAN.