
Setelah semua tamu kunjungan dari kantor pusat sudah dipastikan meninggalkan divisinya, Aretta kembali duduk dikursinya. Hatinya begitu kesal terhadap sikap Leo yang memperlakukannya seenaknya di depan rekan kerjanya.
"Hari ini gue bener-bener apes. Apes se apes-apesnya !" Ucap Aretta dalam hati merasa kesal dan mengepalkan tangannya. Tapi seketika kepalan tangannya terhenti saat menyadari ada yang mengganjal diantara jemarinya.
"Ah, kertas ini !" Aretta hampir saja membuangnya, tapi segera ia urungkan niatnya dan mulai membuka lipatan demi lipatan kecil kertas tersebut.
Gue tunggu didepan gerbang pulang kerja. Kalo lo ngehindar lagi, gue bakal dateng tiap hari ke kosan lo !
Isi surat kecil dari Leo tersebut membuat Aretta kembali menghela nafasnya dalam-dalam.
"Ini manusia paling menyusahkan yang pernah gue temui." Aretta kembali membatin.
Bel tanda pulang kerjapun sudah dibunyikan. Itu artinya, semua karyawan bersiap untuk pulang ke kediaman masing-masing.
"Yuk pulang !" Ucap Della pada Aretta yang masih mematung didepan komputernya.
"Lo duluan aja, tanggung nih bentar lagi beres." Ucap Aretta yang masih sibuk mengetik.
"Ya udah, gue duluan ya !" Della pergi meninggalkan Aretta yang masih sibuk dengan aktivitasnya.
Aretta memang sengaja mengerjakan pekerjaannya di akhir jam kerja, tujuannya agar ia bisa pulang paling akhir. Tentu saja agar ia bisa memenuhi isi surat kecil dari Leo tanpa harus diketahui karyawan lain.
"Apa-apaan ini, gue harus pulang paling akhir ? Demi nurutin orang yang nggak gue kenal lagi. Tapi kalau nggak diturutin, bisa mati diteror gue sama dia ! Menyebalkan !" Aretta membatin sepanjang jalan dari divisinya menuju gerbang utama.
"Hai !" Sapa Leo yang mendapati orang yang ditungguinya sedari tadi, akhirnya muncul.
"Mau apa lo ?" Tanya Aretta ketus.
"Nih pake !" Ucap Leo menyodorkan helm pada Aretta.
"Ngapain harus pake helm ?" Tanya Aretta lagi.
"Udah nurut aja kenapa ? Apa lo mau gue dateng ke kosan lo tiap hari ?" Leo mengancam.
"Rese banget nih orang ! Kalopun dia mau nganterin gue pulang, jarak antara kosan dan kantor kan deket. Masa harus pake helm segala ?"
"Rese lo !" Ucap Aretta yang akhirnya menerima helm yang disodorkan Leo.
Aretta merasa kesulitan memasangkan pengait pada helmnya.
__ADS_1
"Sini gue pasangin !" Ucap Leo yang segera membantu Aretta tanpa diminta.
Aretta hanya diam saja dirinya diperlakukan seperti anak kecil oleh Leo.
"Naik !" Ucap Leo lagi.
Aretta menuruti perintah Leo. Ia duduk dibelakang Leo.
Leo kali ini membawa motor klasik gedenya.
motor tersebut memang benar-benar pas hanya dinaiki oleh dua orang saja.
Bagaimana tidak, jok motor yang berukuran tidak terlalu besar, membuat Aretta tidak nyaman karena harus duduk hampir tidak berjarak dengan Leo.
"Mau pegangan sendiri, atau gue paksa lo biar peluk gue ?" Leo mengancam sebelum memutar gasnya.
"Bawel lo ya ? Lo mau jalan sekarang atau gue bakal turun lagi ?" Aretta mengancam balik.
"Silahkan aja, kalau lo mau gue tiap hari kekosan lo. Apa jangan-jangan, lo emang mau gue samperin tiap hari ?" Jawab Leo yang belum juga memutar gasnya.
"Ya Tuhan, apa salah gue ? Sampai harus ketemu orang kaya gini ?" Aretta membatin.
"Dasar cowok gila !" Ucap Aretta kesal.
Leo yang menyadari hal itu tersenyum puas dan segera memutar gas pada motornya.
"Sabar, Aretta ! Ini hanya lima menit." Aretta kembali membatin.
Aretta mulai tersenyum penuh kemenangan saat mengetahui motor yang dikendarai Leo hampir sampai pada gang tempat kosannya. Tapi matanya kembali membulat ketika menyadari Leo tidak juga menghentikan laju motornya. Justru kali ini semakin menambah kecepatannya.
"Lo mau bawa gue kemana, cowok gila ? Mau culik gue, lo ?" Tanya Aretta Setengah berteriak. Suaranya hampir tidak terdengar karena suara knalpot motor Leo.
"Lo tenang aja, gue nggak akan macem-macem sama lo ! Lo pegangan aja yang kuat, gue mau ngebut." Ucap Leo yang tidak menghiraukan ucapan Aretta.
Aretta tidak sempat menjawab, karena Leo melajukan motornya dengan sangat cepat. Dan itu membuat Aretta ketakutan. Tanpa berpikir panjang, ia pun menguatkan pegangannya pada pinggang Leo. Bahkan ia menenggelamkan wajahnya pada punggung Leo.
Leo yang mengetahui hal itu tersenyum puas, karena rencananya berjalan mulus.
"Kita sudah sampai !" Ucap Leo saat motornya sudah terhenti disebuah cafe yang letaknya di daerah pegunungan.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari ARETTA, ia masih tidak mengubah posisinya.
Leo yang mengetahui hal itu, mengusap tangan Aretta yang sedari tadi melingkari pinggangnya.
"Aretta, kita sudah sampai." Ucap Leo sembari mengusap tangan Aretta lembut.
Aretta yang menyadari tangannya disentuh, terkejut. Ia segera melepaskan tangannya dari pinggang Leo.
"Ngapain lo pegang-pegang tangan gue ? Cari kesempatan lo, ya ?" Aretta segera turun dari motor Leo.
"Lagian, lo nggak nyahut-nyahut dari tadi." Ucap Leo membela diri.
"Dimana ini, lo mau macem-macem sama gue ?" Ucap Aretta yang menyadari dirinya berada ditempat yang sangat asing baginya.
"Lo suudzon terus sama gue ya ? Gue cuma mau ngajak lo makan. Belum makan kan lo ?" Ucap Leo melepas helmnya dan membenahi rambutnya yang acak-acakan.
"Awas aja lo." Ucap Aretta mencoba membuka pengait pada helmnya, namun tidak bisa.
"Sini gue bukain !" Leo segera membuka pengait helm Aretta.
"Mulai sekarang, lo harus terbiasa ngomong kalau lo merasa nggak bisa ngelakuin suatu hal." Ucap Leo yang masih membuka pengait helm Aretta.
"Ayo masuk !" Leo menggandeng tangan Aretta tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Aretta kali ini tidak melawan, ia hanya diam saja mendapat perlakuan dari Leo.
Aretta begitu terkejut mengetahui suasana di cafe tersebut.
"Indah banget !" Ucap Aretta dalam hati.
Bagaimana tidak, suasana cafe tersebut sangat romantis. Dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang, alunan musik slow yang dinyanyikan, serta pemandangan lampu kota yang menghiasi malam. Rasanya, semua kota B bisa terlihat dari cafe tersebut.
Leo memilih tempat duduk di ujung cafe bagian luar, yang posisinya bisa melihat pemandangan langsung. Meski cuacanya lebih dingin.
"Lo mau makan apa ?" Tanya Leo saat melihat menu makanan yang ada di cafe tersebut.
"Terserah lo aja !" Ucapan Aretta yang biasanya ketus, kini berubah menjadi sedikit lembut.
Perasaan kesalnya karena sedari tadi dibuat takut oleh Leo, kini berubah menjadi tenang. Bahkan sangat tenang, karena melihat pemandangan yang disuguhkan cafe tersebut. Kalau saja tidak gengsi, mungkin saat itu, Aretta akan berterimakasih pada Leo.
__ADS_1
"Gue perhatiin, lo ngelamun terus dari semenjak nyampe sini. Kesambet lo ya ?"
Ucapa Leo seketika menyadarkan Aretta dari lamunannya. Ia sadar, kalau dirinya telah berada di tempat asing dengan orang asing pula.