ARETTA

ARETTA
SIKAP ANEH DION


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Aretta bersiap untuk berangkat ke kantor tempatnya bekerja. Mulai dari mandi, berdandan, hingga membereskan kosan kecilnya. Hal itu sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi. Makanya tidak heran, kalau kosan tempat tinggal Aretta terlihat selau rapi setiap harinya.


Tint, tiint


Suara klakson motor berhenti tepat didepan kamarnya. Arettapun bergegas keluar ingin mengetahui, siapa yang pagi-pagi gini sudah bertamu ke kosannya.


"Katanya mau berangkat ke kota C ? Tapi malah kesini. Dasar Leo !" Aretta bergumam sendiri sambil tersenyum membayangkan kejadian malam tadi bersama Leo. Karena tidak bisa dipungkiri, kalau Leo adalah orang pertama yang berani mencium pipinya. Dan itu akan selalu diingatnya. Tapi seketika senyumnya terhenti saat mengetahui kalau yang datang bukanlah orang yang dibayangkannya.


"Hai !" Sapa orang yang kini tengah memarkirkan motornya tepat didepan kamar kosan Aretta.


"Dion, kenapa dia berani sekali kesini ?" Ucap Aretta dalam hati.


"Gue bawain bubur ayam nih, ambil mangkok gih ! Kita sarapan dulu !" Ucap Dion sambil membawa dua plastik yang berisikan bubur ayam.


Aretta belum bergeming dari tempatnya berdiri, ia masih mengerutkan keningnya melihat tingkah Dion yang menurutnya aneh itu.


"Hai, halloo !" Dion melambaikan tangannya tepat didepan wajah Aretta.


Aretta yang dari tadi melamun, akhirnya tersadar. Namun masih tidak bergeming.


"Lama lo ah, gue laper !" Dion yang tanpa disuruh, masuk ke kamar Aretta lalu mengambil dua buah mangkok dan sendok kemudian duduk diteras kosan Aretta.


"Apa-apaan ini ? Bahkan dia berani masuk ke kosan gue tanpa ijin ? Memangnya ini kosan dia apa ?" Aretta masih bergumam dalam hatinya.


"Sini duduk !" Dion menarik tangan Aretta hingga Aretta terduduk dilantai.


Dikosan Aretta memang tidak ada kursi, jadi pantas saja kalau segala aktivitas dilakukan secara lesehan.


"Apaan sih lo !" Aretta merasa kesal dengan tingkah Dion.


"Ya lagian lo diem terus !" Dion memindahkan bubur dari plastik yang dibawanya pada mangkok milik Aretta.


Aretta masih diam melihat tingkah aneh Dion yang tidak seperti biasanya.


"Buruan nih makan ! Abis ini kita langsung berangkat !" Dion segera melahap bubur dihadapannya.


Aretta masih diam tanpa menyentuh bubur yang dibawakan Dion.


"Kenapa liatin gue kaya gitu ? Udah makan, apa mau gue suapin ?" Ucap Dion yang sudah menyendokkan bubur dan bersiap menyuapi Aretta.


"Apaan sih lo ?" Aretta mengalihkan wajahnya agar tidak menerima suapan dari Dion.

__ADS_1


"Ya udah makan !" Ucap Dion memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.


Akhirnya Aretta makan bubur yang dibawakan Dion. Meski dipikirannya terlintas begitu banyak pertanyaan.


"Nih orang kesurupan apa ya ? Tingkahnya aneh banget hari ini. Pake kesini pagi-pagi bawain bubur segala lagi !" Aretta bergumam dalam hatinya.


"Enak. Ini enak banget. Rasanya seperti bubur yang suka dibeliin ibu dulu !" Aretta masih bergumam dalam hati ketika memakan bubur dari Dion.


"Udah makannya ?" Ucap Dion ketika melihat mangkok bubur milik Aretta sudah tak bersisa.


Aretta mengangguk pelan.


Dion langsung membereskan kembali mangkok bekas makan mereka dan segera mencucinya didapur kosan Aretta.


"Kenapa ini ? Kenapa justru dia yang lebih mengetahui kosan gue? Pake nyuci piring segala lagi. Berasa kosannya aja kali ya ?" Aretta masih berkata dalam hati.


"Udah gue cuciin mangkoknya. Ayo berangkat ! Ntar kesiangan lagi !" Dion bersiap.


"Gue berangkatnya bareng yang lain aja !" Aretta akhirnya bicara.


"Kenapa emangnya ? Apa karena motor gue tidak lebih bagus dari motor Leo ?" Ucap Dion tiba-tiba yang membuat Aretta terkejut.


"Darimana dia tau tentang Leo ?" Aretta bertanya pada dirinya sendiri.


"Kemaren gue ngikutin lo. Gue merasa ada yang aneh, saat lo pulang paling akhir. Gue takut lo kenapa-kenapa ! Jadi gue putuskan buat nungguin lo di pojokan gerbang. Tapi ternyata gue liat lo pergi sama Leo." Dion menjelaskan.


"Lo ngikutin gue ? Berani banget lo ?" Ucap Aretta mulai meninggi.


"Sorry kalau gue lancang ! Gue nggak mau terjadi sesuatu sama lo ! Apalagi, lo perginya sama orang yang nggak gue kenal."


"Gue mau pergi sama siapa aja, bukan urusan lo !"


"Tapi gue nggak bisa tenang kalo lo pergi sama cowok lain !" Dion mencoba membela diri.


"Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo !"


"Ya udah, sekarang kita berangkat aja yuk ! Kita cuma punya waktu lima menit lagi sebelum bel tanda masuk dibunyikan." Ucap Dion berubah sangat lembut.


Aretta akhirnya menyadari kalau dikosannya sudah sepi. Teman-teman yang biasanya selalu mengajaknya berangkat kerja bareng, kini sudah pergi meninggalkannya.


"Shit ! Gue ditinggalin ! Ini udah siang banget lagi !" Ucap Aretta saat melihat jam yang melingkar ditangannya.

__ADS_1


Segera Aretta mengambil tas kecil yang biasa ia bawa saat bekerja, dan mengunci pintu kosannya. Setelah diyakininya semua aman, Aretta berangkat.


"Udah, ayo naik !" Ucap Dion yang sudah menghidupkan motornya dan bersiap berangkat.


"Gue jalan kaki aja !" Ucap Aretta yang hendak melangkahkan kakinya.


Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti ketika tangan dion menarik tangannya.


"Udah nggak usah gengsi sama gue ! Kalo lo jalan, pasti sebelum lo nyampe kantor, gerbang udah ditutup. Dan gue pastiin, lo nggak bakal bisa masuk."


Akhirnya Aretta menurut dan segera naik pada motor Dion.


"Sudah siap ?" Tanya Dion setelah menyadari kalau Aretta sudah duduk dibelakangnya.


"Udah nggak usah bawel, buruan berangkat !" Ucap Aretta yang tidak terlepas dari nada ketusnya.


Tanpa menunggu waktu lama, Dionpun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Berusaha mengejar waktu agar sampai di kantor sebelum bel tanda masuk berbunyi.


Benar saja, tepat saat motor yang dikendarai Dion melewati gerbang utama, bel pun berbunyi.


Dion segera memarkirkan motornya ditempat biasa. Aretta yang menyadari motor Dion telah berhenti, bergegas turun dan berlari menuju tempat kerjanya.


"Tumben lu telat !" Ucap Della yang sudah duduk dikursi kerjanya.


"Nah, lo kenapa ninggalin gue ?" Aretta balik bertanya.


"Ya kali, lo udah dijemput sama Dion. Masa gue harus nungguin lo juga ? Jadi nyamuk dong gue !" Ucap Della yang hampir bisa didengar oleh karyawan lain di divisinya.


Della adalah manager yang sangat akrab dengan bawahannya, ia bahkan tidak mewajibkan bawahannya untuk memanggilnya ibu, seperti manager lain yang terkesan ingin dihormati. Karena menurutnya, "Kerjasama yang baik, bukan berawal dari sebutan."


Aretta menaik turunkan alisnya memberi kode pada Della, agar menurunkan volume suaranya. Namun, Della berlagak tidak mengerti.


"Kenapa lo ?" Tanya Della yang melihat tingkah aneh Aretta.


"Pelanin suara lo !" Aretta menekan suaranya.


"Tuh, orangnya yang udah bikin lo telat ! Sama-sama telat tepatnya !" Ucap Della yang membuat karyawan lain menatapnya dan Dion secara bergantian.


"Apa perlu gue hukum lo berdua ?" Ucap Della lagi.


"Ya elah, Del. Telatnya juga ga sampe lima menit ! Kejam banget sih, lo !" Ucap Dion mencoba membela diri.

__ADS_1


"Hahaha. Gue nggak sekejam itu, kali. Ya udah lo pada kerja gih !" Ucap Della akhirnya yang membuat Aretta dan Dion menghela napas lega.


__ADS_2