ARETTA

ARETTA
PERJODOHAN


__ADS_3

Jangan lupa jejak like, komen, rate, dan vote ya. . .!


Favoritin juga, biar kalian bisa langsung tau kalau author Up!


Happy reading 😍😍😍😍


💖💖💖💖💖💖💖


Aretta masih tergeletak lemas disebuah tempat yang tak jauh dari pemakaman. Disana sudah berada ayah, Karin, dan juga Ken.


"Lebih baik kita bawa Aretta pulang aja, yah. Kasian dia!" Karin mencoba memberi saran.


"Iya, nanti setelah proses pemakaman selesai. Ayah kesana dulu ya? Ayah nitip Aretta!"


"Aku juga ikut yah!" Karin segera mengikuti ayah yang hendak berdiri dari duduknya.


"Terus Aretta gimana?" Ucap ayah lagi.


"Kan, ada Ken. Kamu nggak pa-pa kan, buat nemenin Aretta dulu?" Karin bertanya pada Ken.


"Iya, tante. Aku nggak pa-pa, kok."Ken menjawab ramah.


"Ya udah, om nitip Aretta dulu ya, bentar?"


"Iya, om!" Jawab Ken yang menemani Aretta dengan keadaan yang sudah sadar, namun masih sangat lemah.


Diletakannya kepala Aretta pada pangkuan Ken, oleh Ken sendiri.


"Lo nggak pa-pa, Aretta?" Ken mencoba mencairkan suasana.


"Kepala gue pusing banget!" Aretta masih memegangi kepalanya yang merasa sangat berat.


"Lo sabar dulu ya, ayah lo lagi ikut prosesi pemakaman dulu, setelah ini kita pulang!"


Seketika mendengar ucapan Ken tersebut, Aretta kembali menggenangi pipinya dengan bulir bening yang keluar dari sudut matanya.


"Hiks!" Aretta kembali menangis.


"Hei, lo kenapa? Apa gue salah ngomong?" Ken merasa panik melihat Aretta menangis.


"Gue bener-bener cucu yang nggak berguna!" Aretta menhapus air matanya secara kasar.


"Lo nggak usah mikir macem-macem dulu, ya?" Ken mencoba menenangkan Aretta.


Sementara itu, tidak berapa jauh dari tempat Aretta, terdapat dua pasang mata yang sesekali mengawasi.


"Ayo kita pulang!" Ajak ayah hendak menggendong Aretta, ketika telah selesai mengikuti prosesi pemakaman.


"Biar naik mobil saya aja, om! Kasian Aretta kalau harus naik motor dalam keadaan lemas seperti ini!" Ken mencoba memberi saran.


"Iya, yah naik mobil Ken aja. Bener tuh yang dibilang Ken!" Karin ikut menimpali.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu! Ayah gendong ya?" Ayah bertanya pada Aretta.


"Nggak usah, yah! Are bisa jalan kok!" Aretta mencoba bangun dari pembaringannya.


"Ya udah, ayo ayah bantu!"


Merekapun pulang dengan menggunakan mobil Ken. Tidak banyak obrolan yang terjadi selama diperjalanan. Kecuali Karin yang terus memuji Ken.


"Ken itu hebat lho, Aretta! Dia masih muda, tapi udah punya usaha sendiri. Bahkan, rumah sama mobilnya juga, dibeli pake uangnya sendiri, lho!" Karin memuji Ken.


Aretta sama sekali tidak menghiraukan ucapan Karin yang selalu membanggakan Ken dihadapannya, seolah hal itu sengaja Karin lakukan.


Mata Aretta tertuju pada luar jendela mobil, dengan pandangan kosong. Hatinya masih tidak menyangka, kalau hal seperti ini akan terjadi begitu cepat.


"Oh ya, Ken nanti malem jadi kan mau ke rumah?" Karin bertanya pada Ken.


"Jadi, tante!"


Mobil yang dikendarai oleh Ken pun berhenti setelah sampai didepan rumah ayah. Dengan sigap, Ken turun lebih dulu dan hendak membantu Aretta untuk berjalan masuk kedalam rumah.


"Gue bisa sendiri!" Ucap Aretta menepis lengan Ken yang hendak menggandeng tangannya.


"Ken langsung pamit pulang yah, om, tante? Masih ada urusan soalnya." Ken berpamitan pada Karin dan ayah. Karena Aretta sudah lebih dulu berlalu meninggalkannya.


"Iya, makasih ya Ken." Ayah menjawab sopan.


"Jangan lupa nanti malem!" Karin kembali mengingatkan.


"Iya, tante!"


Sementara itu, Karin memberi isyarat pada ayah dengan mengedipkan matanya.


Ayahpun menangkap maksud Karin, dan mulai membuka pembicaraan.


"Aretta, ayah mau ngomong serius. Boleh?!" Ucap ayah lembut.


"Mau ngomong apa, yaaah?" Aretta masih tidak bersemangat.


"Nanti malem Ken mau kesini dengan orang tuanya."


"Lalu?"


"Ken berniat untuk melamar kamu."


Ucapan ayah tersebut berhasil membuat Aretta terkejut. Tubuhnya yang dari tadi bersandar lemah pada kursi, kini berubah sigap.


"Maksud ayah apa? Bahkan Are tidak mengetahui hal ini sebelumnya!" Suara Aretta mulai meninggi.


"Kami sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari sebelumnya. Menurut kami, Ken pantas menjadi suamimu. Secara, dia sudah mapan dan dewasa." Karin ikut menimpali.


"Tapi aku tidak peduli! Bahkan umurku masih dua puluh tahun! Aku masih ingin menikmati masa mudaku!" Aretta semakin emosi mendengar ucapan Karin.

__ADS_1


"Semua keputusan ada ditangan Are!" Ayah mencoba menengahi.


"Tapi coba kamu pikirkan lagi! Dijaman sekarang, mana ada laki-laki yang sudah mapan dan memiliki semuanya seperti Ken? Kamu akan sangat bodoh kalau sampai menolak lamaran! Bahkan ayah kamu sudah menyetujui perjodohan ini!" Karin masih mencoba membujuk Aretta.


"Are mau pulang ke rumah ibu sekarang juga!" Aretta bergegas masuk ke kamarnya.


Ia merasa sangat kesal dengan sikap ibu tirinya yang hanya memikirkan duniawi semata. Tanpa memikirkan hatinya.


Aretta masih membereskan pakaiannya yang akan dibawa ke rumah ibu. Tapi seketika aktivitasnya terhenti saat mengetahui kalau sudah ada ayah yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ayah mohon, Are jangan pergi!" Ayah mencoba membujuk Aretta.


"Tapi Are belum mau menikah, yah!" Aretta menegaskan.


"Ayah ngerti! Tapi setidaknya, temui dulu Ken dan orang tuanya nanti malem. Setelah itu, ayah nggak akan maksa lagi!" Ucap ayah lembut.


"Ayah mohon, jangan buat ayah malu!" Ucap ayah lagi.


"Tapi setelah ini, nggak akan ada lagi perjodohan! Are nggak mau menikah dengan orang yang nggak Are cintai!"


"Iya, ayah janji! Ayah nggak akan maksa Are buat menerima lamaran Ken!"


"Oke, Are akan menuruti keinginan ayah untuk menemui Ken dan orang tuanya. Tapi besok, Are akan langsung berangkat lagi ke kota B. Are cuma dikasih ijin dua hari." Aretta akhirnya mengalah dan menuruti permintaan ayah.


Malam harinya


Sebuah mobil sedan berhenti tepat dihalaman rumah ayah. Dari sana keluarlah sepasang orang tua dan anak laki-laki yang membawa beberapa buah tangan. Ya, Ken datang bersama kedua orang tuanya.


Karin yang sudah menyambut di teras rumah, segera mempersilahkan tamunya untuk masuk. Ia pun mengajak ngobrol tamunya dengan sangat ramah.


"Arettanya mana, Om?" Tanya Ken yang tidak melihat Aretta.


"Nanti Om panggilkan dulu!" Ayah bergegas memanggil Aretta yang masih berada dikamarnya.


Aretta pun akhirnya keluar menemui tamu yang sudah menunggunya. Ia terlihat begitu anggun dengan memakai gaun berwarna merah muda, dengan rambut yang ia biarkan terurai.


"Wah, cantiknya Aretta, pantas saja Ken tidak sabaran buat ngajak kami kesini!" Ibu Ken memuji Aretta.


"Apaan sih, bu!" Ken menahan malu karena ucapan ibunya itu.


"Ya sudah, karena Aretta sudah berada disini, kita mulai saja acaranya!" Ayah Ken mulai serius.


"Silahkan!" Karin menjawab.


"Maksud kedatangan kami kemari adalah berniat untuk melamar Aretta. Sebagai bukti keseriusan kami, Ken telah mempersiapkan ini!" Ucap ayah Ken menunjukkan beberapa kotak yang berisikan perhiasan emas dan pakaian.


"Waaah, sampai repot-repot! Aretta pasti mau nerima Ken, iya kan?" Karin yang memang terbilang matre itu langsung berbicara setelah melihat kotak dihadapannya itu terbuka.


"Jawaban sepenuhnya, saya serahkan sama Aretta. Karena bagaimanapun, Aretta yang akan menjalani nantinya." Ucap ayah yang membuat Aretta sedikit lega.


"Ayo dong Aretta, bilang iya!" Karin masih membujuk.

__ADS_1


"Tapi maaf om, tante, saya tidak bisa menerima lamaran ini!" Ucap Aretta yang bergegas menuju kamarnya.


Hal itu membuat semua orang yang ada disitu, merasa kecewa. Kecuali ayah tentunya yang tidak mau memaksakan kehendak anaknya.


__ADS_2