ARETTA

ARETTA
KOTA B


__ADS_3

Flashback off


Aretta kembali ke kota B dengan menggunakan kendaraan umum. Setelah berpamitan dengan ibu pagi-pagi tadi, ia bergegas pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Meski dengan sangat berat, namun itu harus dijalaninya. Demi ibu yang selalu berusaha tegar dihadapannya.


Ingatannya akan perlakuan Karin yang hampir saja menjodohkannya, kembali terlintas. "Andai saja gue lebih lama disini, pasti Karin akan makin semangat untuk menjodohkan dengan cowok pilihannya itu" Aretta bergumam sendiri.


Begitu seterusnya sepanjang perjalanan menuju kota B. Mulai dari kenangan masa kecilnya, hingga kehidupan remajanya, semuanya satu per satu terlintas dibenak Aretta. Hingga ia telah sampai di kota B, tempatnya bekerja.


Aretta turun dari mobil yang membawanya dari kota A, ia berdiri dipinggiran ruko dan hendak mencari ojek agar bisa mengantarnya sampai kosan. Karena jarak tempatnya turun dari mobil yang ditumpanginya tadi dengan kosan, lumayan jauh. Sekitar tiga puluh menit menggunakan sepeda motor.


Tapi seketika ia mematung terkejut, saat melihat sebuah motor dengan orang yang tidak asing sudah berada tepat dihadapannya.


"Leo???!!!" Aretta bertanya dengan wajah penuh kebingungan.


"Kenapa liatin gue sampe melotot gitu? Ganteng ya, gue?" Dengan senyum liciknya Leo bicara.


"Cih, penyakit narsisnya masih belum ilang juga nih orang!" Aretta mengumpat kesal.


"Darimana lo tau gue disini?" Aretta bertanya dan masih kebingungan.


Beberapa saat sebelumnya


Del, gue OTW sekarang. Paling nyampe tiga jam lagi. Besok baru bisa kerja.


Bunyi pesan Aretta yang dikirimkan pada manajer sekaligus sahabatnya itu.


Della yang mengetahui hal itu segera memberitahu Leo yang sangat mencemaskan Aretta. Bagaimana tidak, bahkan saat mengetahui nenek Aretta meninggal, Leo hampir tiap jam meneror Della lewat telfon dan pesan singkat. Kalau saja waktu itu Della memberikan alamat lengkap rumah Aretta di kota A, tentu Leo akan segera menyusulnya. Namun apalah daya Della yang tidak mengetahuinya.


"Dimana lo?" Ucap Della begitu orang diseberang sudah mengangkat telfonnya.


"Di rumah. Ada kabar dari Aretta?" Leo menjawab telfon dengan penuh antusias.


"Sekarang dia lagi jalan kesini, tiga jam lagi nyampe. Lo jemput di pemberhentian bus ya?"


Tanpa menunggu Della selesai dengan ucapannya, Leo bergegas mematikan telefonnya dan berangkat menuju tempat yang disebutkan Della.


Ditempat pemberhentian bus

__ADS_1


"Nggak usah banyak nanya! Buruan naik!" Leo berkata tanpa menjawab pertanyaan Aretta.


"Dasar cowok aneh! Selalu saja seperti ini!" Aretta bergumam kesal.


"Gue naik ojek aja!" Ucap Aretta yang masih pada pendiriannya.


Leo pun turun dari motornya, ia mendekatkan dirinya pada Aretta hingga membuat Aretta mundur dan akhirnya tersudut diujung dinding ruko tersebut. Untungnya ruko tersebut tutup, jadi tidak ada yang melihat kejadian itu.


Leo meletakan kedua tangannya pada dinding hingga membuat jarak mereka semakin dekat. Aretta hanya menatap wajah Leo yang tak henti memandangnya.


"Mau naik sendiri ke motor gue, atau gue paksa?!" Ucap Leo yang saat itu jarak antara wajah mereka hanya beberapa senti saja. Bahkan, Aretta sampai bisa mencium aroma tubuhnya.


"Gue naik!" Ucap Aretta yang mengambil celah diantara lengan leo, dan bergegas mendekati motor Leo.


Leo yang melihat kekonyolan itu, hanya bisa tersenyum getir. Ia pun segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Apalagi, kalau ingin mendapat pelukan dari Aretta.


Aretta hanya bisa memeluk Leo tanpa banyak bertanya. Karena ia tau, nantinya juga Leo akan menyuruhnya untuk memeluk pinggangnya.


Seketika pikirannya akan meninggalnya nenek dan perlakuan Karin yang ingin menjodohkannya, kembali terlintas. Tak kuasa ia membendung air mata yang sedari tadi sudah sebisa mungkin untuk ditahannya. Aretta pun membenamkan kepalanya pada punggung Leo, membiarkan bulir bening yang jatuh dari pelupuk matanya membasahi jaket yang dikenakan Leo. Ia juga semakin mengeratkan tangannya yang melingkar pada pinggang Leo. Seolah memang butuh bahu untuk bersandar.


Ia juga sesekali mengusap lembut punggung tangan Aretta yang melingkar erat dipinggangnya.


Motor yang dikendarai Leo sudah terhenti tepat didepan kamar kosan Aretta. Namun Aretta belum juga melepaskan tangannya dari Leo. Sedangkan Leo hanya membiarkan hal itu. Suasana di kosan saat itu sepi, karena penghuninya bekerja semua. Hanya ada Aretta dan Leo saja yang baru datang.


"Diterusin di dalam aja meluk gue nya!" Leo berkata dengan tersenyum licik.


Aretta yang menyadari ucapan Leo segera tersadar dari lamunannya, ia melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkar di pinggang Leo. Ia pun bergegas turun dari motor Leo.


"Makasih Leo!" Aretta berucap sambil berharap Leo segera pergi dari kosannya.


"Sama-sama!" Ucap Leo tanpa berpindah sedikitpun dari posisinya.


"Eh, tunggu dulu! Lo nangis? Mata lo sembab gitu!" Leo turun dari motornya, ia berdiri dihadapan Aretta sambil mengangkat wajah Aretta dengan kedua tangannya.


"Gue nggak pa-pa." Ucap Aretta hendak berjalaan dari tempatnya.


"Lo bohong!"

__ADS_1


"Gue nggak pa-pa!" Aretta mulai meninggikan suaranya.


Namun Leo dengan sigap memeluk Aretta.


"Gue nggak pa-pa Leo, gue nggak pa-pa!" Ucapnya berulang-ulang dengan memukul ringan dada Leo yang bidang itu.


Tangisnya kembali pecah, bahkan tenaganya untuk memukul Leo sudah habis. Ia membiarkan dirinya menangis dipelukan Leo.


"Lo boleh nangis sepuasnya, Are!" Leo mengusap lembut kepala Aretta dipelukannya.


Aretta semakin menjadi, emosi yang sedari tadi ditahannya, kini meluap sudah.


Akhirnya setelah dirasa emosinya sudah tersalurkan, Aretta melepaskan pelukan Leo.


"Gue masuk dulu, lo mau gue buatin kopi?" Aretta mengusap kasar matanya yang masih berdiri dihadapan Leo.


"Ya, gue nggak mungkin ninggalin lo dalam keadaan seperti ini!"


Aretta pun bergegas membukakan pintu kamarnya dan membuatkan secangkir kopi hitam sesuai permintaan Leo.


Leo pun duduk di teras kosan Aretta dengan secangkir kopi dihadapannya. Sementara Aretta duduk disamping Leo. Mereka sama-sama menghadap rumah utama. Tak ada percakapan untuk beberapa saat.


"Apa ada hal yang seharusnya gue tau, selain kepergian nenek lo?" Leo berkata dengan membenarkan posisi duduknya. Kini mereka berubah menjadi duduk saling berhadapan.


Awalnya Aretta ragu untuk menceritakan tentang perjodohannya dengan Ken. Tapi tidak dengan hati kecilnya yang terus memberontak.


"Lo boleh jadiin gue apa aja! Gue akan selalu siap buat lo." Leo mencoba meyakinkan dengan menggenggam tangan Aretta.


Jantung Aretta dibuat dag dig dug oleh perlakuan Leo yang selalu membuatnya terkejut. Bahkan kali ini, Aretta tidak sanggup untuk sekedar menatap mata Leo.


"Gue mau tau hal yang menjadi beban Lo!!! Dan gue akan berusaha meringankannya sebisa yang gue mampu!" Leo mengangkat dagu Aretta dan menatap tajam mata gadisnya itu.


Selalu tinggalkan jejaknya, kakaa. . .😍😍😍


Like, komen, rateβ˜†5, dan vote juga yaaπŸ˜„


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2