ARETTA

ARETTA
KEDATANGAN POLISI


__ADS_3

Aretta menuju ruang keluarga untuk menonton televisi, setelah selesai menyantap sarapannya. Ini adalah hari pertamanya sebagai seorang ibu rumah tangga seutuhnya. Karena Leo sudah melarangnya untuk melakukan aktivitas diluar rumah tanpa didampinginya.


Aretta yang notabene adalah gadis rumahan, tentu saja tidak menolak keinginan suaminya itu. Terlebih lagi, ia tidak harus memikirkan untuk mencari rupiah lagi. Karena kini sudah ada yang bertanggung jawab penuh atasnya.


Aretta mencari-cari tayangan televisi yang menurutnya menarik. Dipilihlah satu tayangan FTV keluarga.


"Terus, hajar aja! Jangan mau lagi sama laki-laki kaya gitu!"


Aretta mendengar suara berisik dari belakangnya. Diliriknya Bi Surti yang juga ikut menonton sambil membersihkan meja makan.


"Sini Bi! Kita nonton bareng!" Ucap Aretta pada Bi Surti.


"Eh, nggak usah mbak. Saya belum selesai beresin mejanya!" Jawab Bi Surti.


"Udah nanti aja! Sini nonton dulu, temenin!" Aretta masih memaksa.


Akhirnya Bi Surti pun menuruti ucapan Aretta dan duduk dilantai tidak jauh dari kursi tempat Aretta duduk.


"Eh, duduknya disini Bi! Jangan dibawah!" Ucap Aretta menepuk kursi disebelahnya.


"Nggak pa-pa, Mbak! Saya disini aja!" Tolak Bi Surti.


"Biii!" Ucap Aretta dengan sedikit penekanan nada suaranya.


"Baik, Mbak!" Ucap Bi Surti yang akhirnya menuruti keinginan Aretta.


Akhirnya mereka berduapun menonton acara televisi. Bahkan saking serunya, Bi Surti kadang memaki pemeran antagonis dalam serial tersebut.


Aretta hanya tersenyum melihat tingkah asisten rumah tangganya tersebut.


"Bi, aku ke kamar dulu ya?" Ucap Aretta setelah cukup lama menonton televisi. Matanya mulai merasa lelah.


"Iya, Mbak. Bibi juga mau beres-beres lagi dan masak buat makan siang. Mbak Aretta mau makan apa?" Tanya Bi Surti.


"Terserah bibi aja! Aku keatas dulu ya, bi." Ucap Aretta bergegas menuju kamarnya.


***


Sementara itu dikantor, Leo begitu bersemangat mengerjakan pekerjaannya hari itu. Bahkan semuanya bisa diselesaikan tepat pada waktunya, tanpa lembur.


"Akhirnya selesai juga. Bisa cepet pulang deh. Kangen juga sama Aretta!" Ucap Leo senyum-senyum sendiri.


Leo pun akhirnya keluar dari kantornya tepat pukul enam sore. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Meski ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri, namun ia tidak terburu-buru saat mengendarai mobilnya.


Tiiiint


Klakson pun dibunyikan tepat saat mobil sudah berada didepan rumah. Bi Surti selaku asisten rumah tangga, bergegas membukakan gerbang untuk majikannya.


Leo pun memarkirkan mobilnya di garasi dan segera masuk kedalam rumah. Dilihatnya sekeliling, namun matanya tidak menangkap sosok yang dicarinya.


"Aretta dimana, Bi?" Tanya Leo pada Bi Surti.


"Ada dikamar, Mas!" Jawab Bi Surti.

__ADS_1


Leo pun segera menuju kamar dan membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ditangkapnya sosok istri yanh dicarinya, tengah duduk dihadapan meja rias.


Ia pun melempar sembarang tas yang dibawanya dan mengendorkan dasi yang mengikat kemejanya.


"Hai, sayang! Kau tidak ingin menyambut suamimu?" Tanya Leo memeluk leher Aretta dari belakang.


"Aku baru saja akan turun menyambutmu, setelah selesai berhias!" Jawab Aretta.


"Tapi sekarang aku sudah disini!"


"Maafkan aku, sayang!" Ucap Aretta mengusap lembut pipi Leo.


"Apakah itu cukup?" Tanya Leo yang dengan sigap memutar tubuh Aretta, hingga posisi mereka kini saling berhadapan.


"Mandilah dulu, setelah itu kita turun kebawah!" Jawab Aretta.


Cup


Leo mencium singkat bibir Aretta. Ia seakan tidak peduli dengan ucapan istrinya itu.


Aretta pun hanya bisa diam dengan tingkah suaminya.


Leo kembali mencium bibir Aretta yang sudah dipoles dengan pelembab beraroma strawberry. Kali ini semakin kasar, bahkan gairahnya kembali terpancing.


"Mandilah dulu! Nanti dilanjut malem aja!" Ucap Aretta mencoba menghentikan tingkah suaminya.


"Bener ya?" Tanya Leo.


"Iya, udah sana mandi! Bau." Ucap Aretta menutup hidungnya. Padahal ia berbohong mengatakannya.


Leo pun menuruti istrinya dan bergegas mandi. Sementara Aretta segera menuju lantai bawah untuk membantu Bi Surti menyiapkan makan malam. Sebenarnya, terlebih karena ia takut Leo berubah pikiran dan kembali melancarkan aksinya.


"Kok sudah siap, Bi?" Tanya Aretta saat melihat meja makan sudah terpenuhi oleh hidangan.


"Iya, Mbak. Kebetulan masaknya gampang. Jadi cepet selesainya." Jawab Bi Surti.


"Oh, gitu ya. Makasih ya, Bi!" Ucap Aretta menempati kursinya dan menunggu Leo untuk makan malam bersama.


Tak berapa lama, Leo pun turun dari kamarnya dan menghampiri Aretta yang sudah menunggunya di meja makan.


"Waaah, kayaknya enak! Jadi laper, nih!" Ucap Leo.


Aretta pun dengan sigap mengambilkan makanan untuk Leo. Sepertinya, ia sudah mulai terbiasa dengan kegiatannya.


Merekapun makan dengan lahapnya tanpa ada suara.


Ting tong


Bel rumah berbunyi.


Bi Surti yang mendengarnya, segera membukakan pintu untuk mengetahui siapa gerangan yang bertamu.


"Mas, mbak. Di depan ada tamu!" Ucap Bi Surti dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Siapa Bi?" Tanya Leo yang sudah selesai menyantap makan malamnya.


"Polisi, Mas!" Jawab Bi Surti.


"Uhuk, uhuk!" Aretta sampai tersedak mendengarnya.


"Polisi? Ada perlu apa kesini malem-malem?" Tanya Aretta.


"Nggak tau, Mbak. Katanya mau ketemu sama Mas Leo!" Jawab Bi Surti setengah gemetar.


"Ya udah, aku temuin dulu ya? Kamu selesaikan aja dulu makannya!" Pinta Leo.


"Aku ikut!" Jawab Aretta yang sudah berdiri dari duduknya.


"Baiklah, ayo!" Ucap Leo mengulurkan tangannya pada Aretta agar mereka bisa bergandengan.


Merekapun akhirnya menemui tamunya yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Leo setelah menyalami tiga polisi yang menjadi tamunya.


"Selamat malam! Kedatangan kami kesini untuk mencari saudara Leo. Apakah anda yang bernama saudara Leo?!" Ucap salah satu polisi tersebut.


"Iya benar, itu saya sendiri!" Jawab Leo yang sudah duduk dikursi.


"Bapak kami tahan atas dugaan penggelapan dana perusahan di tempat kerja bapak. Ini surat penangkapannya!" Ucap polisi tersebut menyerahkan surat kepada Leo.


Leo pun membaca dengan seksama isi dari surat tersebut.


Sementara Aretta sudah dag dig dug tak karuan saat mendengar ucapan polisi tersebut. Ia bahkan sampai mengeratkan tangannya pada tangan Leo.


"Tapi apa salah saya, Pak?" Tanya Leo.


"Untuk lebih jelasnya, bapak bisa jelaskan ini di kantor!" Ucao polisi tersebut.


"Baik, tapi ijinkan saya berpamitan dulu dengan istri saya!" Ucap Leo.


"Silahkan!"


Leo pun menarik tangan Aretta menjauh dari para polisi. Diraihnya pipi Aretta yang sudah berlinang air mata.


"Sayang, dengerin gue! Setelah ini, segera hubungi Bony dan ceritakan semua yang terjadi. Dan percayalah, semua akan baik-baik saja!" Ucap Leo mencoba menenangkan Aretta.


"Tapi aku takut, Leo! Aku nggak mau sampai kamu kenapa-kenapa!" Ucap Aretta yang tangisnya semakin pecah.


"Semuanya akan baik-baik saja, percayalah!" Leo masih meyakinkan Aretta.


"Silahkan, Pak!" Ucap salah satu polisi.


Akhirnya dengan terpaksa, Aretta merelakan Leo untuk mengikuti polisi yang menjemputnya.


Dadanya sesak, tangisnya semakin pecah, kakinya terasa lemas. Hingga Aretta jatuh tersungkur didepan pintu rumah, menyaksikan suami yang disayanginya harus pergi dengan polisi. Tanpa ada kejelasan kesalahan yang sudah diperbuatnya.


Pasti kepo nih, . .🤣🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya😍😍😍


I love you all 🤗🤗🤗


__ADS_2