
Acara lamaran antara Aretta dan Leo berjalan lancar, meski awalnya ditentang Karin karena alasan materi. Namun karena pembuktian Leo, akhirnya Karin mengalah dan mau merestui hubungan mereka.
Leo sudah kembali bekerja di kota C, sedangkan Aretta juga sudah beraktifitas seperti biasanya di kota B.
"Del, kok kantor sepi sih?" Ucap Aretta yang melihat keadaan kantor yang lengang pada Della.
Namun tidak ada jawaban dari Della. Sang manajer hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan anak buahnya itu.
Aretta pun tidak mempedulikan bungkamnya Della. Ia mengambil posisi duduk menghadap komputer dimeja kerjanya.
Namun tiba-tiba...
Duar, duar. . .
Suara gaduh yang berasal dari rekan kerja Aretta yang berusaha memberinya kejutan. Dengan kue bolu dan terompet kecil, berhasil memecah keheningan di ruang kerja divisi mereka. Untunglah, waktu kerja belum dimulai. Jadi tidak akan ada teguran.
"Ini apa?" Aretta mulai kebingungan melihat tingkah teman-temannya.
"Selamat ya, Aretta! Tiup dulu lilinnya!" Ucap salah seorang teman yang membawa kue bolu.
Aretta yang belum menemukan jawaban dari kebingungannya itu, hanya menurut saja untuk meniup lilin.
"Tapi ini semua untuk apa? Bahkan hari ini gue nggak lagi ulang tahun?" Tanya Aretta setelah selesai meniup lilin.
"Kita semua bikin kaya gini, buat ngasih selamat sama lo. Karena sudah resmi dilamar!" Teman yang lain ikut menjelaskan.
Sementara itu sorak sorai kembali terdengar memenuhi ruangan kerja mereka.
Aretta hanya memandang Della penuh selidik.
"Pasti ini kelakuan Della!" Benaknya.
Bel tanda mulai kerja pun sudah dibunyikan. Para karyawan sudah harus bersiap di posisinya masing-masing, begitupun pada divisi Della. Semuanya sudah kalang kabut ketika mendengar bel dibunyikan.
"Eh, Del. Kok, gue nggak liat Dion ya? Apa dia telat?" Tanya Aretta setengah berbisik pada Della.
"Dion sakit, tadi dia udah ijin ke gue!" Jawab Della tanpa bergeming dari layar komputernya.
"Ooh!" Aretta kembali bekerja.
Tring
Bunyi pesan masuk pada ponsel Aretta.
Dion
__ADS_1
Nama yang tertera pada layar depan.
Gue minta maaf kalau selama ini nggak bisa bikin lo bahagia. Tapi lo harus tau satu hal, apapun yang terjadi, gue akan selalu sayang sama lo. Sampai kapanpun! Bahkan kalau gue sudah tidak lagi hidup, cinta gue nggak akan berubah buat lo. Gue kecewa banget saat tau tentang lamaran lo. Dan gue benar-benar nggak bisa hidup tanpa lo.
Bunyi pesan dari Dion yang membuat Aretta terkejut sekaligus bingung.
"Del, lo liat pesan dari Dion. Maksudnya apa, coba?" Aretta menyodorkan ponselnya pada Della.
Della mengambil ponsel Aretta dan membacanya, ia terlihat serius.
"Ya Tuhan, jangan sampai pemikiran kita sama?" Della menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Lo jangan nakutin gue, Del!!" Aretta juga semakin gelisah.
"Sekarang lebih baik lo telfon Dion!" Ucap Della menyodorkan ponsel Aretta yang masih dipegangnya.
Aretta pun segera mengambil ponselnya dan menelfon Dion tanpa pikir panjang.
"Hallo, Aretta!" Suara Dion terdengar lemah dari seberang telefon.
"Yon, lo dimana?" Aretta sangat khawatir dengan nada suara Dion.
"Gue sayang banget sama lo!" Dion tidak menjawab pertanyaan Aretta.
"Jawab pertanyaan gue, Dion! Lo dimana?"
"Lo nggak harus tau gue dimana? Yang penting, cinta dan sayang gue akan selalu ada buat lo! Gue sayang banget sama lo! Semoga lo selalu bahagia!" Dion menutup sambungan telefon secara sepihak.
"Hallo, hallo!" Aretta setengah berteriak hingga membuat rekan-rekannya menatap kearahnya.
"Ini gimana, Del? Gue takut terjadi apa-apa sama Dion!" Aretta semakin gelisah.
"Apa kita susulin aja ke kosannya sekarang?" Della memberi saran.
"Gue setuju, Del. Ayo!"
"Ayo, mumpung gue lagi nggak ada kerjaan!"
Della pun akhirnya mengurus surat ijin keluar kantor dengan Aretta dan bergegas menuju kontrakan Dion yang letaknya sekitar dua puluh menit dari kantor. Della sengaja meminjam motor rekan kerjanya yang lain agar mempercepat perjalanannya.
"Gimana ini, Del? Gue khawatir banget sama Dion." Aretta berucap ditengah perjalanan.
"Gue juga sama. Lo berdoa aja, semoga nggak terjadi apa-apa sama Dion." Della menenangkan Aretta sambil terus fokus menyetir.
Tak berapa lama kemudian, motor yang ditumpangi Della dan Aretta berhenti disebuah kontrakan. Disana sudah terlihat banyak orang yang sudah berkerumun tepat didepan kontrakan Dion.
__ADS_1
"Del?!" Aretta memegang lengan Della dengan raut sedikit ketakutan.
"Kita tanya dulu sama warga! Lo tenang ya!" Della sebisa mungkin menenangkan Aretta. Meski sebenarnya, ia juga takut tentang pikirannya.
"Permisi bu, ini ada apa ya?" Della memberanikan diri bertanya pada warga yang sedang berkerumun.
"Oh, ini mba, ada pemuda yang bunuh diri. Serem banget deh, mba. Dia sampai gantung diri dikamar kontrakannya. Katanya, gara-gara cintanya ditolak. Tega banget tuh cewek!" Ucap ibu tersebut.
"Oh, makasih ya bu." Della berlalu meninggalkan ibu tadi dan memberanikan diri mendekati kontrakan Dion.
Sementara Aretta semakin ketakutan mendengar jawaban dari ibu tadi. Pikirannya menebak-nebak dengan kenyataan yang ia lihat dihadapannya.
"Lo tenang ya!" Della menepuk tangan Aretta yang belum lepas memegang tangannya.
"Maaf pa, boleh saya masuk! Saya rekan kerjanya Dion!" Della memberanikan diri masuk ke kontrakan Dion setelah meminta ijin pada pemilik kontrakan yang sudah berada didepan pintu.
"Iya, silahkan!" Bapak itupun mempersilahkan Della dan Aretta masuk.
"Aaaaaarrrggghh!!!" Aretta berteriak saat melihat pemandangan dihadapannya.
Kakinya bahkan tidak sanggup lagi bertumpu, Aretta ambruk. Ia menangis sejadinya melihat Dion yang sudah tergeletak tak bernyawa ditempat tidur.
Tubuhnya kaku membiru, dengan mata yang masih terbuka dan mulut yang menganga. Dion telah meregang nyawa.
Della mengambil selembar kertas yang letaknya tidak jauh dari tempat Dion. Dengan foto Aretta yang bertebaran disemua sudut kamar Dion.
"Gue nemuin ini! Lo yang kuat ya?" Della menyodorkan selembar kertas pada Aretta sambil memeluk erat sahabatnya itu yang terus menangis meratapi kepergian Dion.
"Maafin gue, Yon. Maafin gue! Harusnya lo bisa bahagia tanpa gue! Bukannya malah seperti ini!" Aretta berkata disela tangisnya. Tangannya memeluk selembar kertas yang ditinggalkam Dion untuknya.
"Lo yang sabar! Mungkin ini sudah menjadi takdir Dion." Della masih mencoba menenangkan Aretta yang menangis histeris.
"Ini semua salah gue, Del! Salah gue!" Aretta masih terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Lo nggak boleh salahin diri lo terus menerus. Ini semua sudah jalanNYA. Mungkin Dion memang harus pergi dengan cara seperti ini. Lo harus kuat!"
"Maafin gue, Yon. Bahkan sampai akhir hidup lo, gue nggak bisa cinta sama lo. Maafin gue!" Aretta terus menyalahkan dirinya sendiri. Tangisnya semakin histeris melihat kondisi Dion yang sudah tidak bernyawa.
Selamat jalan, Dion. Terimakasih sudah mencintai Aretta hingga akhir hayatmu.
Terimakasih banyak sudah memberikan dukungannya sampai saat ini.
Lanjutkan jejaknya ya🤗
Like, komen, rate5, dan vote.
__ADS_1
Favoritin juga ya😍😍😍