
Ibu memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumahnya, ia lebih memilih untuk mendatangi rumah ibu mertuanya yang tak lain adalah ibu dari ayah. Pikirannya kalut dengan hal yang telah menimpa dirinya. Ia tidak bisa membayangkan reaksi yang akan diterima Aretta, si gadis kecil kesayangannya.
Tok, tok, tok. . .
"Assalamu'alaikum." Ucap ibu setelah mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab perempuan tua yang baru membuka pintu rumahnya.
Ibu langsung merangkul nenek dan menangis sejadinya, ia sudah tidak bisa berpura-pura lagi tentang rasa sakit hatinya.
Nenek yang tidak mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, hanya membalas
pelukan ibu sembari sesekali mengusap kepala menantunya itu.
"Masuklah dulu, ibu buatkan minum dulu ya sebentar." Ucap nenek yang masih merangkul ibu.
Ibupun perlahan melepaskan pelukannya dan menurut apa kata nenek.
" Minumlah dulu." Ucap nenek sembari menyodorkan segelas air putih.
Ibupun menuruti nenek dan meminum air pemberian nenek. Meski masih dalam keadaan terisak.
"Pelan-pelan saja minumnya." Ucap nenek yang menyadari isak ibu.
"Sekarang tarik nafas perlahan, lalu hembuskan!" Ucap nenek seraya mempraktekan gerakannya.
"Kalau sudah mulai tenang, ceritalah ! Apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya nenek mencoba tenang.
"Saya minta maaf, bu. Selama ini saya tidak bisa menjadi menantu yang baik." Ucap ibu bersimpuh dikaki nenek sambil menangis sejadinya.
"Bangunlah, duduklah disini !" Ucap nenek menepuk tempat kosong yang ada disebelahnya, seolah memberi isyarat.
Ibupun mengerti dan duduk disebelah nenek.
"Apa yang terjadi ?" Tanya nenek mulai tegas.
"Anak ibu. . ." Ibu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa Kasim ?" Tanya nenek mulai meninggi.
"Anak ibu telah memiliki istri lain." Jawab ibu kembali pecah tangisannya.
__ADS_1
Nenek meraih bahu ibu dan menyandarkan pada bahunya. Nenek mencoba menenangkan menantunya itu sembari mengusap kepalanya.
"Aretta sudah tau ?" Tanya nenek setelah beberapa saat membiarkan ibu menangis.
Ibu hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Huuh !" Nenek menghela napas.
"Saya nggak bisa membayangkan dengan reaksi Aretta. Apa jadinya jika ayah yang selama ini menjadi kebanggaannya, tiba-tiba menghianatinya ?" Ucap ibu masih menyenderkan bahunya pada bahu nenek.
"Saya mengerti perasaan kamu, Wati. Itu sudah menjadi tugas kita untuk menjelaskan pada Aretta." Ucap nenek mencoba berpikir.
"Bagaimana kamu mengetahui tentang istri baru Kasim ?" Tanya nenek penasaran.
"Saya mengikutinya kemaren bu, itu alasan saya menitipkan Aretta pada ibu." Ucap ibu mencoba menjelaskan.
"Saya benar-benar kecewa pada Kasim !" Ucap nenek menahan amarahnya.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu pulang. Mungkin Aretta sudah pulang sekarang. Nanti ibu yang akan bicara pada Kasim. Apa sebenernya maunya dia ? Tega-teganya berbuat seperti itu ?" Ucap nenek kian meninggi.
"Saya sudah menitipkan Aretta pada tetangga, bu. Mungkin sekarang Aretta sedang bermain di rumah tetangga." Ucap ibu menjelaskan.
"Tidak baik meninggalkan anak terlalu lama, pulanglah ! Jangan terlalu dipikirkan ayahnya Aretta itu !" Ucap nenek.
"Ya ! Kondisikan dulu wajahmu itu, jangan sampai Aretta berpikiran macam-macam." Ucap nenek yang melihat ibu masih dengan wajah sendunya.
Ibupun menyeka wajahnya, dan mencoba menghiasi wajahnya dengan senyuman. Ini semua dilakukannya demi Aretta. Ia tidak ingin anaknya sampai mengetahui luka yang tergores berkat ayahnya.
"Saya pulang dulu ya, bu. Assalamu'alaikum." Ucap Ibu setelah memastikan wajahnya sudah berhiaskan senyum.
"Wa'alaikumsalam." Ucap nenek setelah bersalaman dengan menantunya itu.
Ibu memang dekat dengan nenek. Itu karena ibu sudah tidak memiliki orang tua sejak dirinya memutuskan dengan ayah. Pantas saja, jika ibu sangat dekat dengan nenek.
Sesampainya dirumah, ibu mendapati Aretta yang duduk termenung diteras rumahnya dengan masih berseragam lengkap.
Ibu segera berlari mendekati Aretta.
"Aretta ! Kenapa kamu diem disini, sayaang ? Kemana bu Ria ? Tadi ibu sudah memintanya untuk menemani kamu jika kamu sudah pulang sekolah." Tanya ibu khawatir.
"Are yang meminta bu Ria pulang, bu." Ucap Aretta lemas.
__ADS_1
"Aretta ! Aretta banguun ! Aretta !" Ibu mencoba membangunkan Aretta yang sudah terkulai tak berdaya.
Air mata ibupun tak bisa dibendung lagi melihat anaknya tak sadarkan diri. Rupanya Aretta menungguinya sedari tadi, dengan menahan lapar dan dahaga.
Ibupun panik, segera ia meminta tetangganya untuk menelpon ayah Aretta. Karena ia benar-benar tidak tau lagi kepada siapa ia harus mengadu.
Sebuah motor sudah berhenti didepan rumah tak lama setelah ibu meminta tetangga untuk menelpon.
Ya, ayah Aretta datang dengan tergesa-gesa begitu mendengar jika anaknya tak sadarkan diri. Ia segera menemui Aretta yang saat itu kondisinya masih terpejam.
"Are, ini ayah, sayang. Ayah bawain ayam bakar kesukaan kamu." Ucap ayah berbisik pada telinga anaknya.
Tak ada respon dari yang empunya badan.
"Are, bangun. Ini ayah sudah disini !" Ucap ayah lagi.
Pelan-pelan mata kecil yang sedari tadi terpejam, kini sudah terbuka. Aretta merasa kepalanya pusing, dan matanya berkunang-kunang. Ia mencoba untuk bangun dari tidurnya, tapi gagal. Tubuhnya lemah, bahkan untuk sekedar duduk
"Are pusing, ayaah. Badannya lemes. . ." Ucap Aretta, suaranya masih terdengar lirih.
"Nanti ayah telpon Pak mantri ya, biar Are langsung diperiksa." Ucap ayah mengeluarkan telepon genggam dari dalam saku celananya.
"Jangan ayah, Are nggak mau Pak mantri. Are maunya ayah yang ada disini !" Ucap Aretta mencoba menggapai lengan ayahnya yang saat itu hendak beranjak menelpon.
"Tapi kan Are harus diperiksa dulu, biar tau Are kenapa bisa pingsan gini ?" Ucap Ayah membujuk.
"Nggak ayah, Are nggak papa kok." Ucap Aretta.
Sementara itu ayah hanya bisa mengalah dan menuruti kemauan anaknya.
Begitulah ayah, tidak bisa mengelak pada kemauan anaknya.
"Ya sudah, kalau gitu sekarang Are makan dulu ya ? Ayah bawain ayam bakar kesukaan Are." Ucap ayah sembari mengangkat anaknya pada posisi duduk.
Sementara itu, ibu menyiapkan makanan untuk Aretta dari yang dibawakan oleh ayahnya.
"Are buka mulutnya, aaaa !" Ucap ayah membuka mulutnya memberi instruksi.
Aretta menurut dan memakan dari tangan ayahnya. Sementara itu, ibu yang melihat pemandangan dihadapannya bergegas keluar dari kamar Aretta. Ia sangat tidak tega melihat keadaan anaknya yang harus menanggung kesalahan kedua orang tuanya.
Ibu tidak bisa membayangkan, jika anaknya yang selama ini lebih dekat dengan sang ayah, harus berjauhan dalam waktu yang lama. Dan mungkin nantinya, hanya akan sesekali saja kebersamaan itu terjadi. Karena ibu sangat tidak menginginkan, jika dirinya yang justru harus berjauhan dengan Aretta.
__ADS_1
"Maafka ibu Aretta, maafkan ibu yang tidak bisa menjaga keutuhan keluarga kita. Hingga menyebabkan ayah harus berpindah hati ke perempuan lain." Ibu membatin dan merasa bersalah pada dirinya sendiri.