ARETTA

ARETTA
BUNUH DIRI


__ADS_3

Hari ini seperti biasa, ibu pergi ke pasar pagi-pagi sekali. Kali ini ibu memarkirkan sepedanya dan berbelanja sayuran.


"Eh, ada bu Wati." Ucap Susi, penjual sayuran.


"Iya, bu. Mau belanja sayuran, biasa bu." Ucap ibu yang sudah berlangganan pada Susi.


"Saya siapkan dulu ya, bu." Ucap Susi yang menyiapkan belanjaan ibu.


"Eh, bu Wati. Tau nggak, kalau di kampung tetangga ada yang melakukan percobaan bunuh diri ?" Ucap Susi.


"Ah, masa sih, bu ? Hari gini masih ada yang bunuh diri. Bukannya dijaman seperti ini sudah modern ?" Ucap ibu sambil memilih sayuran yang bagus.


"Ih, bener bu. Malah katanya ya, itu perempuan nekat mau minum racun tikus segala." Ucap Susi mulai menggosip.


"Masa sih, bu ? Sampe nekat gitu ?"


"Iya. Saya denger-denger ya, katanya ngebet pengen dinikahin sama security yang kerja di kampung bu Wati lho."


"Security ?" Ucap ibu mulai penasaran.


"Iya, bu." Jawab Susi semakin membuat ibu penasaran.


Deg !


Hati ibu mulai berdebar mendengar gosip yang dibicarakan Susi. Meski entah itu benar atau tidak. Tapi tiap kali mendengar security, jantung ibu berdetak kencang.


"Memangnya, siapa nama securitynya bu ? Kali aja saya kenal." Ucap ibu mencoba memancing Susi.


"Kalau nggak salah, namanya Kasim. Iya bener bu, namanya Kasim. Terus nama perempuan yang melakukan percobaan bunuh diri, namanya Karin." Ucap Susi yang semakin membuat ibu tidak karuan.


"Oh gitu ya, bu. Berapa semuanya, bu ?" Ucap ibu yang segera mengakhiri percakapannya dengan Susi.


"Seratus ribu, bu."


Ibupun segera membayar dan pergi meninggalkan Susi. Selama ini, ibu tidak pernah menceritakan tentang keluarganya kepada Susi. Jadi wajar saja, kalau Susi tidak mengetahui tentang seluk beluk ibu.


Ibu segera mengayuh sepedanya menuju pulang. Pikiran ibu tidak karuan mendengar ucapan Susi sewaktu dipasar tadi.


Sesampainya di rumah, ibu segera merapikan barang dagangannya dan bergegas membangunkan Aretta.


"Aretta !" Ibu memanggil dari dalam rumah.


"Iya, bu." Ucap Aretta yang sudah berpakaian seragam lengkap.


"Are jadi berangkat sekolah ?" Tanya ibu.


"Iya, bu. Are udah kangen buat ketemu temen-temen." Ucap Aretta.


Ayah yang tertidur di kursi, sontak saja bangun mendengar obrolan Aretta dan ibu.

__ADS_1


Ayah memang sengaja menginap di rumah Aretta, takut terjadi sesuatu lagi pada anaknya itu.


"Ayah anterin aja, ya ?" Ucap Ayah.


"Emang, ayah nggak kerja ?" Tanya Aretta.


"Ayah libur, nanti malem baru kerja lagi." Ucap ayah.


"Ya udah deh, Are dianterin ayah aja ya, bu." Ucap Aretta meminta izin pada ibu.


"Iya, terserah kamu aja." Ucap ibu datar.


Aretta pun pergi ke sekolah dengan diantar ayah, tidak lupa dengan Tati juga.


Ayah kembali lagi ke rumah ibu, untuk sekedar minum kopi.


"Bu, tolong buatkan ayah kopi !" Ucap ayah setelah duduk di kursi.


Ibupun tidak banyak bicara dan membuatkan ayah kopi.


Setelah pembeli mulai sepi, ibu mencoba berbicara pada ayah.


"Ibu mau nanya sesuatu, boleh ?" Ucap ibu yang sudah duduk disebelah ayah.


"Nanya aja, bu." Ucap ayah sambil menyeruput kopinya.


Uhuk. . . uhuk. . .


Ayah sampai tersedak mendengar pertanyaan yang dilontarkan ibu.


"Maksudnya ?" Ayah kembali bertanya.


"Jawab saja, siapa Karin ?" Ibu mengulangi pertanyaannya.


"Ayah nggak ngerti maksud ibu, tiba-tiba nanya orang yang nggak ayah kenal." Ucap ayah masih tidak mempedulikan pertanyaan ibu.


"Apa yang membuat Karin sampai mau bunuh diri demi ayah ? Apa yang ayah janjikan padanya ?" Ibu masih menyelidik.


"Ibu ngomong apa sih ? Kok tambah ngawur aja ngomongnya !" Ucap ayah mulai meninggi.


"Ayah tinggal jawab aja ! Kok, susah banget."


"Ya, karena, . . karena ayah nggak ngerti arah pembicaraah ibu." Ayah mulai terbata-bata.


"Apa harus, ibu mencari tau sendiri ?" Ibu mulai mengancam.


"Terserah ibu saja lah. Ayah bener-bener nggak ngerti sama ibu. Ibu kenapa sih, bu ?" Ayah masih mencoba mengelak.


"Ibu dengar, Karin melakukan percobaan bunuh diri. Dan semua itu karena ayah." Ibu mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Siapa yang bilang kaya gitu ke ibu ? Sebut namanya ? Biar ayah datengin rumahnya." Ucap ayah mulai meninggi.


"Jujur aja yah, nggak usah ngelak terus. Kalau itu semua memang bener, ya tinggal bilang aja."


"Ibu juga harus bilang dulu ke ayah, siapa yang ngomong gitu ?"


"Astaga, ngomong sama ayah susah banget. Jawab aja yah, jawab !" Ibu mulai kesal karena merasa ayah mempermainkannya.


"Ayah harus jawab apa, bu ?" Ayah mencoba meyakinkan.


Akhirnya setelah berdebat cukup lama, ayah mulai berbicara.


"Karin itu adalah perempuan yang bekerja di tempat hiburan malam. Ayah pernah sekali bertemu dengannya. Tapi lama-lama, dia mulai mencari tau tentang ayah. Dia juga mulai datang ke tempat kerja ayah, hampir setiap ayah kerja malam. Bahkan, saat ayah masih berstatus sebagai suami Rani. Karin rela menunggu ayah. Hingga ayah memutuskan untuk menceraikan Rani. Karin sangat senang mengetahui hal itu. Tapi ketika ia tau, ayah lebih memilih rujuk dengan ibu, Karin marah dan sangat kecewa. Hingga ia melakukan percobaan bunuh diri." Ayah mencoba menjelaskan kepada ibu.


"Jadi, itu semua bener ?" Ucap ibu yang mulai berkaca-kaca mendengar pengakuan ayah.


"Demi Tuhan, bu. Ayah nggak janjiin apa-apa sama Karin. Dia sendiri yang ngejar ayah." Ayah membujuk ibu.


"Lalu ?" Ibu berharap ayah melanjutkan ceritanya.


"Ayah sudah mencoba bicara dengan Karin, tapi Karin tidak mau mendengar. Bahkan, dia bersedia untuk dimadu. Jika ayah masih tetap ingin rujuk sama ibu."


"Tidak ada wanita yang ingin dimadu. Apalagi aku ?" Ucap ibu yang sudah berlinang air matanya.


"Apa yang harus ayah lakukan, bu ?" Ayah bersandar pada kursi.


Suasana hening sejenak. Terlihat ayah dan ibu yang saling berpikir tentang masa depan mereka.


"Menikahlah dengan Karin, dan lupakan kita !" Ucap ibu akhirnya.


"Maksud ibu ?" Tanya ayah tidak mengerti.


"Jangan pernah datang lagi kesini untuk memelas agar kita bisa rujuk ? Lupakan hal itu ! Pergilah, Karin lebih membutuhkanmu !" Ucap ibu tanpa memandang ayah.


"Tapi ayah sangat ingin agar kita bersama-sama kaya dulu !" Ayah masih membujuk.


"Jangan pernah bicarakan hal itu lagi ! Karena itu tidak akan terjadi."


"Tapi, bu. . ."


"Sudahlah, jangan ganggu kami lagi. Biarkan aku dan Aretta hidup tenang. Tanpa harus ada kamu diantara kita." Ucap ibu menahan amarahnya.


"Tapi, izinkan ayah untuk ketemu Aretta, bu."


"Aku tidak pernah melarangmu untuk bertemu Aretta, karena bagaimanapun, dia adalah darah dagingmu. Dan jangan pernah lupakan itu !"


"Ayah janji, nggak akan menelantarkan Aretta. Ayah pamit sekarang, bu. Jaga diri kalian baik-baik. Ini diluar kehendak ayah ! Sekali lagi, ayah minta maaf !" Ucap ayah berlalu meninggalkan ibu yang menangis sejadi-jadinya.


Rumah tangga yang dibayangkannya akan bahagia, tidak bisa terwujud. Keteledoran ayah, keteguhan hati ibu, dan keegoisan Karin, sudah menghancurkan impiannya untuk memiliki keluarga yang utuh.

__ADS_1


__ADS_2