ARETTA

ARETTA
SATU HARI PENUH


__ADS_3

Aretta masih terdiam dengan pertanyaan Leo. Ia juga berusaha memikirkan hal yang sekiranya pantas untuk diceritakannya kepada Leo.


"Lo masih nggak percaya sama gue?" Ucap Leo yang masih memegangi tangan Aretta seraya menatap Aretta penuh selidik.


"Gue nggak tau harus mulai darimana!" Aretta berucap dengan wajah tertunduk.


"Gue nggak akan kemana-mana. Gue akan siap dengerin cerita lo, meskipun itu seharian penuh." Leo berusaha meyakinkan.


Akhirnya Aretta menceritakan semuanya kepada Leo. Mulai dari meninggalnya nenek, perjodohannya dengan Ken yang sudah direncanakan Karin, hingga masalah yang lain. Entah kenapa Aretta merasa tenang saat bercerita pada Leo.


Leo menarik kepala Aretta dan meletakan didadanya, mencoba menenangkan gadisnya yang kembali berurai air mata.


"Lo boleh nangis sepuasnya sekarang!" Ucap Leo mengusap kepala Aretta.


Sementara itu, Aretta kembali menangis untuk meluapkan semua kekesalannya yang telah lama terpendam.


Leo melepaskan pelukannya setelah dirasanya Aretta sudah semakin tenang. Ia juga memegang wajah Aretta dengan kedua tangannya, dihapusnya air mata Aretta yang masih menghiasi pipi putihnya itu.


"Katakan kepada orang tua lo, minggu depan gue mau ke rumah lo!" Ucap Leo menatap tajam mata Aretta.


"Maksud lo?" Aretta melepaskan tangan Leo yang masih menempel di wajahnya.


"Gue mau ketemu sama orang tua lo!"


"Mau ngapain?" Aretta masih kebingungan dengan ucapan Leo.


"Katakan saja pada mereka, kalau saat ini anaknya sudah ada yang benar-benar mencintainya, dan berniat untuk menjalin hubungan yang serius dengannya." Ucap Leo yang berhasil membuat jantung Aretta hampir mau meloncat keluar.


"Lo nggak laper gitu?" Tanya Leo tiba-tiba.


"Kenapa emangnya?"


"Gue laper, dari pagi belum makan."


"Suruh siapa nggak makan?"


"Gue cemas sama Lo! Kangen juga!" Leo kembali menatap Aretta dan mendekatkan wajahnya ke Aretta.


"Kalau gitu, gue cari makan dulu ya!" Aretta beranjak dari duduknya menghindari hal yang akan terjadi jika ia terus membiarkan Leo mendekatkan wajahnya.


"Gue maunya lo yang masak!" Ucap Leo yang menarik tangan Aretta.

__ADS_1


"Apa?!" Aretta sampai terkejut mendengar ucapan Leo tersebut.


"Gue maunya dimasakin sama lo!" Leo masuk ke kamar kos Aretta dan merebahkan diri di tempat tidur Aretta.


"Tunggu, tunggu! Lo mau ngapain?" Aretta semakin dibuat heran dengan tingkah Leo.


"Gue mau tidur dulu, ntar kalau lo udah selesai masak, bangunin gue!" Leo memejamkan matanya tanpa meminta persetujuan Aretta terlebih dulu.


"Kambuh lagi kan penyakitnya! Penyakit semaunya sendiri yang merepotkan orang lain."


"Eh tunggu dulu, kalo ada bapak kos gimana? Mau jawab apa gue kalau ditanyain, kenapa lo ada disini?!" Aretta masih mencecar Leo dengan berbagai pertanyaan.


"Jawab aja, gue calon suami lo!" Leo menjawab tanpa beban dengan mata yang sudah terpejam meski belum tertidur.


"Huuh, benar-benar merepotkan!" Aretta pergi meninggalkan Leo dan bergegas menuju warung sayuran yang berada tidak jauh dari tempat kosnya.


Aretta membeli beberapa keperluan untuk memasak, mulai dari lauk pauk, sayuran, hingga beberapa bumbu dapur yang akan diperlukannya. Setelah dirasa cukup, ia pun kembali ke kosannya. Mencoba memasak sebisanya menu makanan untuk Leo. Cowok yang memintanya memasak.


"Untung saja dulu gue sering bantuin ibu masak, jadi nggak canggung deh kalau ada yang minta dimasakin!" Aretta senyum-senyum sendiri saat mengingat keinginan Leo yang ingin makan masakannya.


Aretta pun hendak membangunkan Leo dari tidurnya, setelah ia selesai dengan tugas memasaknya. Tapi niatnya menciut, saat melihat wajah polos Leo yang tertidur pulas.


Lengannya sudah berada diatas wajah Leo, hendak memegangi wajah Leo yang masih terlihat tampan meski masih terlelap. Tapi seketika Leo membuka matanya dan memgangi tangan Aretta yang sudah berada diatas wajahnya.


Aretta terkejut sekaligus salah tingkah dengan perbuatannya sendiri.


"Lo mau ngapain?" Leo masih memegang tangan Aretta.


"Eng...enggak kok. Gue cuma mau bangunin lo. Gue udah selesai masak!" Sampai terbata Aretta mengucapkannya.


"Bilang aja kalau lo mau cium gue!" Leo beranjak dari tidurnya dan mengambil posisi duduk dengan tangan Aretta yang masih digemggamnya. Ditatapnya mata Aretta lekat, didekatkannya tubuhnya pada tubuh Aretta yang semakin mepet di dinding.


"A..apan sih lo! Gue siapin makanan lo dulu!" Aretta beranjak menuju dapur kecilnya meninggalkan Leo yang senyum-senyum sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ah, Aretta! Kamu membuatku semakin jatuh cinta!" Gumam Leo. Ia pun beranjak dari duduknya menuju kamar mandi, diliriknya Aretta yang tengah menyiapkan makan untuknya.


"Sibuk banget calon istriku ini? Mau dibantuin nggak?" Leo melipat tangannya dan menyandar pada dinding menghadap Aretta.


"Calon istri? Bahkan gue belum jadi pacarnya!" Aretta bergumam dalam hatinya.


"Lo mau kan, jadi istri gue?" Leo masih pada posisinya.

__ADS_1


"Lo ngigau ya?" Tanpa menatap wajah Leo.


"Gue serius!" Jawab Leo dengan senyum khasnya.


"Mending sekarang lo pergi ke kamar mandi, cuci muka. Biar lo sadar dari mimpi Lo!" Aretta mendorong tubuh Leo menuju kamar mandi.


"Tapi gue serius dengan ucapan gue!" Leo meyakinkan Aretta meski tengah didorong.


"Serius lo nggak tepat waktu!" Aretta menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar mandi.


"Harusnya kapan dong waktunya?" Leo masih menggoda Aretta.


"Nanti kalau bokap gue udah setuju!" Aretta meninggalkan Leo dan kembali menuju dapur.


Lagi-lagi Leo hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah Aretta.


Akhirnya waktu makan sudah tiba. Leo dan Aretta sudah duduk menghadapi hidangan yang dimasak oleh Aretta sendiri. Disana sudah tersedia ayam goreng dan sayur sop, tak lupa nasi hangat, yang membuat Leo semakin merasa lapar.


"Kayaknya enak nih!" Leo mengusap kedua telapak tangannya, ia menyodorkan piring kepada Aretta. Bermaksud ingin diambilkan makanan, bak suami yang ingin dilayani istrinya.


Sementara itu, sepertinya Aretta sudah paham maksud Leo. Ia pun mengambilkan nasi, ayam, serta sayur dipiring yang disodorkan Leo dan memberikannya kembali pada Leo.


"Makasih calon istriku!" Dengan tampang imut yang sengaja dibuat-buat.


"Udah makan, nggak usah banyak bicara!" Sambil mengisi piringnya sendiri dengan makanan.


Leopun bak anak kecil yang habis dimarahi ibunya. Ia hanya menuruti ucapan Aretta dan makan tanpa bersuara dengan lahapnya.


"Sumpah ya, ini masakan terenak yang pernah gue makan!" Leo mengucapkannya setelah ia selesai dengan makanannya.


"Itu sih lo aja yang laper!" Ucap Aretta yang membereskan bekas makannya.


Leo pun ikut membantu Aretta membereskan, ia sampai rela membantu Aretta untuk mencuci piring. Bahkan, Aretta dimintanya hanya untuk menemaninya saja tanpa harus mengerjakan apa-apa lagi.


Selalu jejaknya ya readersπŸ€—


Like, komen, rateβ˜†5 dan vote juga.


Terimakasih sudah setia.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2