
Karin merasa sangat kesal setengah mati, karena yang selama ini dibayangkannya tidak menjadi kenyataan. Rencananya yang sudah disusun rapi, gagal berantakan.
"Ini semua gara-gara ayah!" Karin berkata pada ayah ketika Ken dan keluarganya sudah pulang.
"Kok ayah?" Tanya ayah yang merasa tidak mengerti.
"Kalau saja ayah tidak terlalu memanjakannya, pasti anak ayah itu tidak akan bersikap seperti ini! Gagal semua rencanaku!!!" Karin berkata kesal.
"Ayah nggak bisa maksain Aretta. Apalagi ini menyangkut masa depannya. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan saja. Selebihnya, kembali lagi pada Aretta!" Ayah masih membela Aretta.
"Kalau saja dari awal ayah bisa membujuk Aretta, pasti semuanya nggak akan seperti ini!"
"Sudahlah, nggak usah terlalu terobsesi. Nanti bisa gila, kamu!" Nada bicara ayah mulai meninggi.
"Aaaargh!!! Gagal, gagal, gagal!!!!" Karin masih merasa kesal hingga memukulkan tangannya pada kursi.
"Cukup! Jangan melampiaskan kemarahanmu pada ayah!!!" Aretta yang dari tadi mengurung diri di kamar, akhirnya keluar menemui Karin yang sedang melampiaskan kekesalannya pada ayah.
"Keluar juga akhirnya kamu, Aretta sayang !" Ucapan Karin berubah lembut.
Aretta merasa heran, karena Karin bisa berubah sikap dengan sangat cepat.
"Duduklah disini!" Karin merangkul bahu Aretta dan membawanya duduk disebuah kursi.
Aretta semakin heran dibuatnya.
"Tolong jangan salahkan ayah!" Aretta masih membela ayahnya.
"Tidak ada yang menyalahkan ayah! Kamu tau, Aretta? Ayah kamu sebentar lagi akan pensiun dari pekerjaannya. Apa kamu mau, kalau ayah harus kembali lagi menjadi kuli serabutan dimasa tuanya?" Karin mencoba memprovokasi.
"Apa maksudmu?" Aretta tidak mengerti dengan arah pembicaraan Karin.
"Coba bayangkan, kalau seandainya kamu menikah dengan Ken! Kamu bisa punya rumah sendiri, punya penghasilan sendiri, dan yang pasti, itu bisa kamu dapatkan tanpa harus lelah bekerja. Karena ada Ken!"
"Apapun yang terjadi, aku nggak akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai!" Aretta kembali meninggi.
"Kamu itu benar-benar keras kepala! Apa yang bisa kamu dapatkan dari cinta? Cuma buang-buang waktu saja!" Karin kembali tersulut emosi.
"Sudahlah, Karin! Jangan terlalu menekan Aretta! Biarkan dia mengambil keputusannya sendiri!!" Ayah ikut angkat bicara.
"Kalian berdua memang sama saja! Aku muak dengan kalian semua!!!" Karin menuju kamarnya dan masih memendam kemarahan pada Aretta.
"Maafkan Are, yah!" Ucap Aretta pada ayahnya.
"Jangan terlalu dipikirkan!" Ayah tidak ambil pusing dengan keputusan Aretta.
"Sepertinya, Are akan tidur di rumah ibu aja malam ini! Biar besok pagi-pagi langsung berangkat."
__ADS_1
"Ayah anter, ya? Ini sudah malam, ayah takut terjadi sesuatu kalau anak gadis ayah ini pergi sendirian malam-malam."
"Iya, yah!" Aretta pun menyetujui saran ayah.
Ayah pun bergegas mengambil kunci motor dan memutar gas motornya untuk mengantarkan Aretta ke rumah ibu. Tidak banyak percakapan yang terjadi selama perjalanan. Keduanya masih memikirkan banyak hal yang sudah terjadi pada hari ini.
Mulai dari meninggalnya nenek, Aretta pingsan, hingga lamaran Ken yang sudah ditolak mentah-mentah oleh Aretta.
"Ayah mau masuk dulu?" Ucap Aretta ketika motor yang ditumpanginya berhenti tepat di rumah ibu.
"Nggak usah, ini udah malem. Ayah takut nanti ada yang salah sangka sama ayah. Are masuk aja, ayah langsung pulang."
"Iya, yah. Sekalian Are pamitan ya, besok nggak ke rumah ayah lagi!"
"Iya, hati-hati ya besok!"
"Iya yah!"
Motor ayahpun berlalu. Aretta segera mengetuk pintu rumah ibu. Namun sebelum pintu diketuk, ibu sudah membuka pintu.
"Ibu belum tidur?" Tanya Aretta kaget melihat ibu.
"Iya, ibu nungguin Are."
"Maaf ya bu!" Ucap Aretta yang langsung masuk dan duduk di kursi.
"Nggak pa-pa bu, Are ngerti kok!" Ucap Aretta masih terlihat lemah.
"Ya udah, Are istirahat dulu ya? Besok mau dibawain apa buat di kosan?"
"Nggak usah bu! Are nggak mau apa-apa. Are mau cerita bu!"
"Cerita apa emangnya, kayanya serius?"
Akhirnya Aretta menceritakan semua pada ibu mulai dari A sampai Z, dan tak ada yang terlewatkan sedikitpun. Bahkan kini air matanya tak bisa dibendung lagi.
"Kurang ajar si Karin! Tega-teganya ia mau menjodohkan kamu dengan orang asing!" Ibu merasa kesal dengan Karin.
"Tapi ibu janji ya, ibu nggak usah ngelabrak Karin!" Aretta menangis dalam pelukan ibu.
"Ya, ibu janji!"
Ibu melepaskan pelukan Aretta dan beralih menatap mata anak gadisnya seraya memegangi kedua pipi Aretta.
"Dengarkan ibu! Are harus bahagia dengan orang yang Are cintai. Tidak peduli bagaimanapun keadaanya. Selama orang itu bisa bikin Are bahagia dan bisa menerima keluarga kita, ibu akan dukung!"
"Makasih ya, bu!" Aretta kembali memeluk erat ibu.
__ADS_1
"Rasanya sangat nyaman berada dalam pelukan ibu. Andai saja ini bisa kudapati setiap hari?" Batin Aretta.
"Are menolak lamaran Ken, bukan karena nggak suka sama Ken, kan?" Ibu mencoba menyelidik.
"Maksud ibu?" Aretta melepaskan pelukan ibu, dan menatap penuh makna pada ibu.
"Apa, kamu sudah punya pilihan yaa. . .?" Ibu menggoda Aretta.
Pipi Aretta langsung merah mendengar ucapan ibu tersebut.
"Apaan sih, bu! Orang anaknya lagi sedih juga, masih aja digodain." Aretta mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ibu itu orang yang melahirkan kamu, merawat kamu dari kecil, jadi ibu tau tentang perasaan kamu yang sebenarnya."
"Ibu ini, kaya peramal aja!" Aretta semakin mengalihkan pembicaraan.
"Coba cerita sama ibu, siapa pria itu?"
"Apaan sih, bu?" Aretta semakin salah tingkah dengan pertanyaan ibu.
"Pria yang udah bikin kamu nolak lamaran Ken?"
"Nggak ada, buuu. . . Are benar-benar tidak ingin menikahi Ken. Karena usia Are yang masih sangat muda!" Aretta masih membela diri.
"Coba ibu tebak! Apa, di kota B sudah ada pria yang berani mendekatimu? Atau, . . anak laki-laki yang dulu pernah membawa susu coklat kesini?" Ibu mencoba menebak-nebak.
"Sudahlah, Are ngantuk. Besok harus berangkat pagi-pagi!" Ucap Aretta yang hendak beranjak dari duduknya.
"Dengerin ibu dulu!"
Ucapan ibu tersebut membuat Aretta mengurungkan niatnya untuk beranjak.
"Apa, bu?"
"Siapapun pria yang jadi pilihanmu, dia harus bisa menjaga nama baik keluarga!"
"Karena nama baik dan buruknya orang tua kita, ada ditangan kita. Iya kan, bu?" Aretta meneruskan ucapan ibu.
"Itu pinter!" Ibu mengusap rambut Aretta.
"Are nggak akan pernah lupa kok, bu! Karena dari dulu, ayah dan ibu selalu ngomongin hal itu berulang-ulang. Makanya, Are sampai sekarang masih hafal." Ucap Aretta kembali mengenang nasihat-nasihat orang tuanya kala mereka masih bersama.
*Selalu budayakan untuk meninggalkan jejak like, komen, rate dan vote sebelum/sesudah membaca. Karena itu sedikitnya bisa menyemangati Author agar terus berkarya.
Terimakasih readers 😍😍😍😍
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1