ARETTA

ARETTA
KABAR DARI IBU


__ADS_3

Like, komen dan vote yang banyak yaaa.


😍😍😍😍


Happy readingπŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Kali ini Aretta pulang langsung ke kosannya. Tidak lagi pulang ke rumah ibu mertuanya. Ia lebih memilih tinggal dikamar kecil dengan segala kenyamanannya. Daripada harus tinggal di rumah besar, tapi tidak ada ketentraman sedikitpun.


Aretta sudah merebahkan dirinya di tempat tidur, setelah membereskan beberapa pekerjaan kosan yang menumpuk karena ditinggal menginap kemaren.


Kriiiing. . .


Ibu, nama yang tertulis pada layar depan.


"Hallo, bu!" Sapa Aretta setelah menekan tombol hijau pada ponselnya.


"Uhuk, uhuk. Halo Aretta!" Sapa ibu dari seberang telefon.


"Ibu kenapa? Ibu sakit?" Tanya Aretta dengan nada cemas.


"Iya, Are. . . Udah tiga hari ibu sakit! Kamu bisa pulang dulu nggak? Ibu kangen sama kamu."


"Iya, bu. Besok Are pulang, ya?"


"Ibu tunggu ya?"


"Iya, bu." Aretta menutup sambungan telefonnya, setelah ibu terlebih dulu melakukannya.


Aretta pun segera meminta ijin pada Della untuk tidak bekerja selama satu hari. Karena hanya tinggal menghitung hari saja yang tersisa untuk bekerja. Jadi Aretta tidak bisa meminta ijin terlalu lama.


Aretta juga tidak lupa meminta ijin suaminya, untuk menemui ibu di kampung halaman. Seperti biasa, Leo tidak keberatan dengan permintaan Aretta.


***


Aretta sudah sampai di kediaman ibu setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam dengan menggunakan kendaraan umum. Ia bergegas memasuki rumah ibu yang tidak terkunci. Disana ia mendapati ibu yang tengah duduk di ruang serbaguna.


"Bu!" Aretta langsung memeluk ibu tanpa memberi celah ibu untuk berkata apapun.


Sejenak, Aretta merasakan pelukan hangat ibu yang sudah lama tak ia rasakan.


"Maafin Are, bu!" Aretta mulai terisak didalam pelukan ibu.


"Maaf buat apa?" Ibu melepaskan pelukan Aretta.


"Are nggak bisa jadi anak yang baik. Bahkan, disaat ibu sakit, Are baru bisa nengokin sekarang."


"Husst, kamu nggak usah minta maaf! Ini semua bukan salah kamu!" Ibu mengusap lembut pipi anaknya yang mulai berlinang air mata.


"Tapi Are ngerasa bersalah, bu! Are benar-benar anak yang tidak berguna!"


"Sudah, jangan dibahas lagi ya? Ibu cuma mau Are disini sebentar saja. Ibu kangen!"

__ADS_1


"Ibu udah makan belum? Are bikinin bubur ya?" Aretta antusias.


"Iya, boleh. Udah lama ibu nggak dimasakin kamu!"


"Ibu tunggu disini! Nanti Are bikinin dulu!"


Aretta pun bergegas menuju dapur untuk membuatkan ibu bubur. Banyak hal yang berubah pada rumah ibu. Rumah yang dulunya hanya beralaskan tanah, kini sudah berubah menjadi lantai keramik, meskipun tidak terlalu mewah seperti rumah orang kebanyakan.


Beberapa interiorpun sedikit berubah. Barang-barang yang sudah tidak layak pakai sudah tidak terlihat lagi. Yang ada hanya barang-barang kekinian yang menempel pada dapur kekinian ibu. Itu semua tentu saja berkat kerja keras Aretta selama bekerja di kota B.


Tekadnya untuk memperbaiki kondisi rumah ibu, sudah terbayar lunas. Oleh karena itu, ibu sangat mengijinkan Aretta saat akan dilamar Leo.


***


"Bu, ada yang ingin Are bicarakan!" Ucap Aretta beberapa saat sebelum Leo untuk pertama kalinya akan mengunjungi rumah ayah, melalui sambungan telepon.


"Mau bicara apa emangnya? Kayaknya serius nih!" Tanya ibu saat mendengar ucapan anaknya yang tengah bicara serius.


"Kalau ada laki-laki yang berniat serius sama Are, gimana bu? Ibu setuju nggak?" Ucap Aretta setengah ragu.


"Waaah, anak ibu sudah mau menikah rupanya!" Ibu malah menggoda Aretta.


"Are serius, bu! Are takut nanti nggak bisa bahagiain ibu!"


"Ehm, dengerin ibu. Kamu sudah banyak berkorban untuk ibu. Bahkan, ibu sangat berterimakasih sama kamu. Rumah ibu sekarang sudah bagus berkat kamu. Kalau sekarang ada yang mau melamarmu, ibu tidak keberatan. Justru ibu senang, karena anak ibu sudah ada yang mau tanggung jawab. Jadi, ibu nggak perlu khawatir lagi!" Ibu menjelaskan.


"Terimakasih banyak, bu! Rasanya, sekarang Are pengen peluk ibu!"


Begitulah sedikit perbincangan antara anak perempuan yang meminta ijin kepada ibunya. Saat ada laki-laki yang akan meminangnya.


***


"Are suapin ya, bu?" Aretta menyendokkan bubur dan mengarahkannya pada mulut ibu.


Ibupun hanya mengangguk pelan menjawab tawaran anak perempuannya itu.


Dengan telaten, Aretta menyuapi ibu sedikit demi sedikit.


"Oh ya, gimana kabar Leo?" Tanya ibu ditengah mengunyah makanannya.


"Baik, bu! Hampir tiap jam dia nelfonin terus!"


"Namanya juga pengantin baru! Pasti pengennya deketan terus. Oh, ya. Kamu nggak ada rencana buat ikut sama Leo gitu? Kasian dia, nggak ada yang ngurusin!"


"Sebenarnya, Are mau resign kerja bu. Leo yang minta! Ibu nggak pa-pa, kan?"


"Ya, nggak pa-pa lah. Masa mau dibawa suaminya, ibu larang. Sekarang, proritas kamu itu adalah suami, jadi apapun yang diinginkannya, usahakan kamu turutin ya? Selama itu tidak melanggar syari'at agama."


"Makasih ya, bu!" Aretta memeluk ibu.


"Nggak usah kepikiran ibu terus! Ibu masih bisa jualan kok! Kamu fokus aja urusin suami kamu!" Ibu tersenyum mengatakannya.

__ADS_1


"Iya, bu. Nanti juga rencananya, Leo mau jemput kesini!"


"Oh, ya? Ibu mesti siapin makanan kalau gitu. Leo sukanya apa?"


"Nggak usah repot-repot bu! Leo cuma pengen jenguk ibu aja, kok! Lagian, ibu kan lagi sakit."


"Ibu sakit biasa aja kok. Ibu cuma kangen kamu."


***


Beberapa saat sebelum Aretta memutuskan untuk pulang ke kota kelahirannya.


"Leo, gue mau ngomong serius!" Ucap Aretta melalui sambungan telefon.


"Kayaknya serius banget nih, mau ngomong apaan?" Leo penasaran dengan pernyataan istrinya itu.


"Ibu sakit, gue harus pulang."


"Terus?"


"Gue mau minta ijin sama lo! Boleh nggak, kalau gue pulang ke kota B besok pagi?"


"Udah jadi istri solekhah nih?" Leo malah menggoda Aretta.


"Maksud lo?" Aretta tidak mengerti maksud ucapan Leo.


"Ya iya, istri solekhah kan selalu minta ijin sama suaminya dulu kalau mau kemana-mana."


"Gue serius, Leo!"


"Gue juga serius, sayaaang!"


"Jadi, lo ijinin gue nggak?"


"Iya, gue ijinin. Tapi besok sore gue jemput ya?"


"Jemput kemana?"


"Ya jemput ke rumah ibu lah. Gue juga kan, mau jadi menantu yang baik!"


"Oh, gitu. Ya udah, gue tunggu dirumah ibu besok sore ya?"


"Oke, sayang!" Leo mematikan sambungan telefonnya.


***


Tok, tok, tok


Pintu rumah ibu diketuk.


"Biar Are yang bukain, bu!" Aretta beranjak dari duduknya. Membukakan pintu depan rumah ibu yang diketuk oleh seseorang.

__ADS_1


"Eh, ada Aretta!" Ucap orang yang mengetuk pintu tersebut saat mengetahui kalau Aretta yang membukakan pintu.


"I. . . iya. Ada apa bu?" Tanya Aretta gugup saat melihat tamu yang datang. Seorang perempuan yang tidak asing lagi baginya. Bahkan, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya saat melihat sosok perempuan yang saat ini ada dihadapannya.


__ADS_2