ARETTA

ARETTA
BUJUK RAYU AYAH


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat. Kini Aretta dan ibu sudah terbiasa hidup tanpa sosok ayah. Bahkan, saat ini sudah jauh merasa lebih baik lagi hatinya. Tentu saja semenjak dirinya mengiyakan permintaan Nino.


Sampai pada suatu ketika. . .


"Bu," Aretta membuka pembicaraan.


"Kenapa, Are ?" Tanya sang ibu ketika keduanya berbaring hendak tidur, karena hari sudah menjelang malam.


"Kalau ada yang suka sama Are, gimana ?" Tanya Aretta dengan polosnya.


"Bagus, dong." Jawab ibu singkat.


"Kalau ada laki-laki yang suka Are juga bagus, bu ?"


"Lho, kok ?" Ibu balik bertanya.


"Ya, Are cuma nanya aja bu."


"Semua orang yang suka sama kita, itu baik. Selama cara mereka menyukai kita, tidak macam-macam. Tapi ingat, ibu nggak mau sampai Are pacaran. Are masih kecil, nggak boleh pacar-pacaran !" Ucap ibu menegaskan.


"Kalau pacaran buat nyemangatin kita gimana bu ? Biar sekolahnya semangat gitu." Ucap Aretta tidak mau kalah.


"Apapun alasannya, ibu nggak setuju Are pacaran, titik !" Ibu memberi penekanan pada kata terakhir.


"Lebih baik sekarang tidur, jangan mikirin macam-macam." Ucap ibu lagi yang masih berada dikamar anaknya.


Aretta memejamkan matanya, mencoba menghilangkan perasaan pahit yang diterimanya, saat harus mengetahui kalau kisahnya tidak akan berjalan mulus.


Tok, tok, tok


Terdengar suara pintu yang diketuk.


Ibu yang telah menyadari Aretta tertidur lelap, segera meninggalkannya dan bergegas membuka pintu depan.


"Siapa disana ?" Ucap ibu sebelum membuka pintu, memastikan.


"Ini ayah, bu !" Ucap pria di luar pintu.


"Ngapain ayah malam-malam datang kesini ?" Pikir ibu.


Ibu pun membuka pintu, dengan segera ayah pun masuk.


Ayah mengambil posisi duduk, yang disusul oleh ibu.

__ADS_1


"Mau bikin kopi ?" Tanya ibu.


Karena meskipun ayah lebih memilih tinggal bersama perempuan lain, tapi tak bisa dipungkiri kalau diantara mereka masih terikat status pernikahan.


"Iya, bu. Bikin kopi item kaya biasa aja." Ucap ayah.


Ibupun membuatkan ayah kopi dengan takaran yang biasa ia buatkan sebelumnya, ketika mereka masih tinggal bersama.


Kini ibu sudah tidak marah lagi dengan sikap ayah yang telah menduakannya. Ia sudah bisa legowo dan lebih memilih bersikap masa bodoh.


"Ini kopinya." Ucap ibu sembari menyodorkan secangkir kopi kepada ayah.


"Terimakasih, bu." Ucap ayah meraih secangkir kopi dari tangan ibu.


Suasana hening sejenak. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hingga akhirnya ibu memberanikan diri bertanya.


"Ada apa malam-malam kesini ? Nanti istrimu marah." Ucap ibu membuka pembicaraan.


"Aku sudah mulai muak dengan sikap Rani, bu." Jawab ayah.


"Maksudnya ?" Ibu tidak mengerti, kemana arah pembicaraan ayah.


"Akhir-akhir ini, Rani mulai bersifat semena-mena terhadapku, bu." Jawab ayah yang matanya masih menerawang jauh.


"Kan itu pilihanmu sendiri." Jawab ibu datar.


"Iya, bu. Tapi sejujurnya, ayah sangat menyesal telah meninggalkan ibu dan Aretta." Ucap ayah seketika menundukkan kepalanya.


Suasana hening sejenak.


"Maafin ayah, bu. Sepertinya ayah sudah salah memilih." Ucap ayah yang masih menundukkan wajahnya.


"Apa yang terjadi sebenarnya ?" Tanya ibu. Karena bagaimanapun, hati kecilnya tak bisa dipungkiri. Kalau kebersamaan yang dilalui belasan tahun, membuatnya tidak mudah untuk menghapus kenangan yang dibangun bersama ayah.


"Rani memperlakukanku seperti sapi perah, bu. Bahkan, semua pekerjaan rumahpun aku yang harus melakukannya." Ucap ayah sesekali meneteskan air matanya.


Jiwanya sebagai lelaki merasa direndahkan oleh istri barunya itu.


Ibu tersenyum sinis, meski hatinya menangis. Kalau suami yang selama ini dihormatinya, harus menjadi babu di tempat perempuan lain.


"Bahkan, saat ayah meminta sedikit uang untuk biaya Aretta, Rani malah mencaci maki ayah."


"Yang sabar, itu sudah menjadi pilihan ayah. Ibu nggak bisa bantu." Jawab ibu yang masih duduk berjauhan dengan ayah.

__ADS_1


"Ayah minta maaf bu, atas semua kekhilafan ayah. Ibu mau kan maafin ayah ? Demi Aretta !" Ucap ayah memelas.


"Maksud ayah apa ?" Tanya ibu tidak mengerti.


Ayah mendekakan posisi duduknya kepada ibu.


"Ayah mau kita kaya dulu lagi, bu. Kita mulai semuanya dari awal." Ucap ayah sembari menggenggam tangan ibu.


Saat itu ibu belum memberikan jawabannya. Sakit hati dan perasaan ibanya bercampur aduk menjadi satu. Karena bagaimanapun, ayah telah menemani hari-harinya selama belasan tahun. Dan sangat tidak mudah untuk melupakan itu semua, terlebih lagi telah ada buah hati mereka, Aretta.


"Ibu belum tau, yah !" Jawab ibu melepaskan tangan ayah dari genggamannya.


"Ayah ngerti kalau ibu masih ragu sama ayah. Kesalahan ayah memang pantas jika tidak bisa dimaafkan."


"Ibu hanya takut, kalau suatu saat nanti ayah akan melakukan hal yang sama kepada ibu." Ucap ibu.


"Ayah janji bu, nggak akan buat ibu kecewa. Apalagi melakukan kesalahan yang sama. Ayah hanya ingin melewati masa tua dengan orang yang ayah sayangi. Ayah juga nggak ingin, kalau suatu saat nanti sampai Aretta membenci ayah." Ayah masih mencoba membujuk.


"Entahlah, yah ! Kalau ayah memang serius dengan ucapan ayah, buktikan saja. Ibu nggak butuh janji !" Ucap ibu.


"Apa kalau ayah kembali kesini, ayah mau menceraikan Rani ?" Ucap ibu lagi.


"Tentu saja, bu. Ayah akan menceraikan Rani. Ayah sudah muak tinggal dengan Rani. Ayah merasa harga diri ayah sebagai seorang laki-laki, diinjak-injak oleh Rani." Ucap ayah masih merasa kesal terhadap perlakuan Rani.


"Lalu, kenapa ayah diam saja ? Bukannya kalau sama ibu, ayah berani membentak ibu ?" Tanya ibu mulai meninggi.


"Ayah juga nggak ngerti, bu. Kenapa ayah tidak bisa melawan, kalau di suruh Rani. Ayah tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Selalu menurut disuruh-suruh, bahkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah sekalipun." Jawab ayah kembali mengingat.


"Mungkin, karena ayah terlalu mencintai Rani ?" Tanya ibu.


"Rasanya nggak juga, bu." Jawab ayah.


"Apapun itu alasannya, ibu nggak mau tau. Nggak penting juga buat ibu !" Ucap ibu kembali sinis.


"Ayah janji, akan menceraikan Rani secepatnya. Agar kita bisa kembali sama-sama kaya dulu." Ucap ayah masih mencoba meyakinkan ibu.


"Nggak usah banyak omong, buktikan saja !" Ucap ibu ketus.


Meski bagaimanapun, dilubuk hati ibu yang paling dalam, masih ada sedikit rasa cinta yang disimpan untuk ayah.


"Ayah akan buktikan, bu. Tapi tolong, setelah itu, ibu jangan menolak ayah ! Ayah pergi dulu, bu." Ucap ayah berlalu meninggalkan ibu yang masih terdiam dikursi tempatnya duduk.


Pikiran ibu masih kacau dengan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana tidak, seseorang yang beberapa bulan lalu telah menghancurkan perasaannya, kini datang kembali dengan memelas. Meminta agar diterima kembali bersatu dengan ibu.

__ADS_1


__ADS_2