
JANGAN LUPA JEJAK LIKE, KOMEN, RATE, DAN VOTE SEBELUM MEMBACA. BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT UP.πππ
SELAMAT MEMBACAπ€π€π€
πππππ
Meski ragu akan pikirannya, tapi Aretta mencoba sebisa mungkin untuk menghilangkannya jauh-jauh. Bagaimana tidak, ancaman Leo yang akan mendobrak pintu kamarnya, terlihat tidak main-main. Ia pun akhirnya meyakinkan dirinya untuk menuruti kemauan Leo.
Aretta keluar kamarnya, tepat setelah waktu lima menit yang diberikan Leo.
Dengan memakai celan jeans coklat, kaos biru muda yang menutupi hingga leher dan jaket coklat yang diberikan Leo waktu itu, membuat aura kecantikannya semakin terpancar. Rambut panjangnya ia biarkan terurai. Semakin membuat pria manapun yang memandangnya bagai tersihir. Tak terkecuali Leo. Ia sampai terkejut melihat paras cantik Aretta yang membuat hatinya semakin tidak karuan.
Sebenarnya Aretta ragu untuk memakai jaket kulit yang diberikan Leo kala itu. Tapi karena ia tidak punya jaket lagi, maka dengan sangat terpaksa ia kenakan juga.
"Kenapa lo ?" Ucap Aretta saat menghampiri Leo yang tak henti memandangnya.
"Lo cantik. Cantik banget ! Rasanya, gue nggak mau nglepasin pandangan gue dari wajah lo !" Leo masih memandangi Aretta.
"Kalo lo liatin gue terus, kapan berangkatnya? Liat tuh, temen-temen lo udah pada nggak ada!!" Aretta menyadarkan Leo dari lamunannya.
"Biarin aja, kita bisa nyusul ! Ayo !" Ucap Leo bergegas menyalakan mesin motornya.
Aretta pun mengikuti Leo dan duduk dibelakangnya.
Motor yang dikendarai Leo pun melaju dengan kecepatan maksimal, berusaha mencari rombongan yang telah meninggalkannya. Namun hal itu membuat Aretta ketakutan sehingga membuatnya memeluk pinggang Leo dengan sangat erat. Dan menenggelamkan wajahnya pada punggung Leo.
Leo yang menyadari hal itu hanya tersenyum dan semakin menambah laju motornya. Hingga kecepatannya mulai melambat saat ia berhasil menemukan rombongan teman-temannya, dan hal itu tidak disadari Aretta.
"Udah lengket aja tuh pasangan baru !" Ucap Bony yang menyadari kalau motor Leo sudah berada disampingnya.
"Akhirnya, ada juga yang bisa meluluhkan gunung es !" Ucap Della yang membonceng pada Bony.
Leo hanya tersenyum mengetahui tingkah temannya itu. Dan mengisyaratkan agar mereka tidak terlalu berisik. Ia tidak mau sampai Aretta melepaskan tangan dari pinggangnya.
Motor Leo dan motor Bony serta teman yang lainnya melaju bersama. Melewati malam yang semakin gelap, menembus angin yang bertiup semakin kencang. Serta melawan hawa kantuk yang mulai menghampiri. Hingga akhirnya, motor merekapun berhenti disebuah tempat dengan lapangan luas dengan pemandangan gunung langsung dibelakangnya dan beberapa tenda yang berjejer. Yang siap menampung para tamu yang datang.
Aretta yang menyadari kalau motor yang dikendarai Leo sudah berhenti, bergegas turun.
"Kita dimana ini ?" Tanya Aretta penasaran.
"Di tempat camping !" Ucap Leo sembari melepas helm dikepalanya. Tak lupa ia membenarkan tatanan rambutnya.
"Della mana ?" Tanya Aretta lagi.
"Tuh Della sama Bony! Jangan ganggu lo, mereka lagi pacaran!" Ucap Leo.
__ADS_1
"Awas aja lo kalo sampe cari-cari kesempatan!" Aretta mengancam.
"Ya elaaah, gue bukan cowok nakal kali!! Gue juga nggak mau bikin cewek yang gue sayang kotor! Lo tenang aja!" Leo mencoba meyakinkan Aretta.
"Awas lo!"
"Udah tenang aja, kita cari minum dulu, ayo!" Leo tanpa ragu menggandeng tangan Aretta menuju warung yang ada di sekitar tenda.
"Lo mau minumnya disini atau di deket tenda aja ?"
"Dideket tenda aja, gue nggak kuat dingin!" Ucap Aretta menggosokkan telapak tangannya.
"Okey."
Merekapun bergegas menuju tenda yang sudah dipesan sebelumnya, meski lebih memilih tidak terlalu dekat dengan teman-teman yang lain.
"Kita disini aja ya?" Ucap Leo memposisikan duduk didekat salah satu tenda yang berada tak jauh dari warung yang ia datangi tadi.
Aretta hanya menurut sambil tetap menggenggam segelas minuman jahe yang masih panas ditangannya.
"Lo suka tempatnya ?" Tanya Leo ketika mereka sudah sama-sama duduk didepan tenda.
"Biasa aja !" Aretta masih menjawab singkat meski tidak terlalu ketus.
"Setidaknya, kalau sama lo, tempat manapun yang dikunjungi akan selalu indah. Meski hanya sebuah warung penjual minuman jahe!" Ucap Leo memandang Aretta.
"Ketawa lo cantik! Baru kali ini gue liat lo ketawa." Ucap Leo yang tak henti memandangi Aretta.
Aretta yang menyadari dirinya dipandangi begitu dalam oleh Leo, seketika langsung menghentikan tawanya.
"Bahkan gue rela jadi badut kalau itu bisa bikin lo ketawa!" Leo menambahkan.
Aretta meneguk minumannya. Tak bisa dipungkiri, saat ini ia begitu grogi berhadapan dengan Leo.
"Ngomong-ngomong, makasih ya." Leo berusaha mencairkan suasana.
"Makasih buat apa ?" Tanya Aretta yang nada bicaranya berubah lembut.
"Makasih karena lo mau gue ajak kesini, makasih juga karena lo mau jagain jaket gue. Makasih juga karena mau jaga hati lo!"
Aretta tertegun sejenak mendengar ucapan Leo. Saat ini jantungnya benar-benar berdegup kencang.
"Sama-sama!"
"Jujur ya, semenjak gue di kota C, gue nggak berhenti mikirin lo. Gue kangen banget sama lo, Re!"
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa bisa-bisanya Leo bicara seperti itu? Mengucapkan kalimat yang sama persis seperti Nino?" Aretta berpikir sejenak.
"Gue sangat berharap kalo lo mau jadi calon istri gue!" Leo akhirnya memberanikan diri juga untuk mengucapkannya.
"Ya Tuhaan, apa yang harus gue katakan pada Leo?" Aretta bertanya pada dirinya sendiri.
"Lo mau kan, jadi calon istri gue ?" Ucap Leo memegang tangan Aretta.
Aretta yang mengetahui hal itu, memandang Leo penuh arti. Bahkan ia tidak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Leo.
"Gue belum bisa jawab sekarang !" Ucap Aretta yang masih tidak melepaskan tangannya.
"Gue bersedia nunggu!" Leo mencoba meyakinkan.
"Dari dulu gue selalu berprinsip, jika ada yang menginginkan gue, maka dia harus bisa mendapatkan restu dulu dari orang tua gue!" Aretta akhirnya mengutarakan isi hatinya yang selama ini membuatnya menolak setiap pria yang ingin dekat dengannya.
"Gue akan yakinin orang tua lo! Gue janji!!" Ucap Leo mengecup punggung tangan Aretta.
"Gue nggak butuh janji, gue cuma butuh bukti!" Aretta menekan kata terakhirnya.
"Gue akan buktiin, tapi gue minta waktu. Gue harus mempersiapkan semuanya dulu, agar bisa menemui kedua orang tua lo."
"Silahkan, gue nggak maksa lo!" Ucap Aretta sembari meneguk minuman jahenya.
"Gue akan buktiin omongan gue. Dan gue mau, selama gue belum datang kepada orang tua lo, lo harus jaga hati lo. Jangan biarkan pria lain datang ke rumah lo lebih dulu dari gue!" Ucap Leo yang belum juga melepaskan tangan Aretta dari genggamannya.
"Kalau itu, gue nggak janji. Tapi lo jangan khawatir, lo cowok pertama yang gue kasih tau tentang ini." Aretta memberanikan diri memandang Leo.
Mata mereka beradu untuk beberapa saat. Jantung keduanyapun berdegup sama keras. Leo mengecup kening Aretta.
"Makasih sayang, lo udah percaya sama gue. Gue janji akan segera menemui orang tua lo!"
# Semangatin Author biar makin kenceng
Up nya.
Dengan cara :
like
komen
rate β5
dan vote.
__ADS_1
Terimakasih readersππππ