ARETTA

ARETTA
MOTOR BARU AYAH


__ADS_3

Tepat pukul dua belas malam pintu rumah Aretta diketuk.


"Assalamu'alaikum." Ucap pria dari luar rumah .


Aretta yang waktu itu masih belum tidur, mencoba meyakinkan lagi suara yang telah didengarnya. Suara seseorang yang tidak asing lagi baginya.


Aretta memang sangat terpukul mendengar kejadian beberapa jam yang lalu. Dua orang yang sangat ia sayangi, harus berselisih paham dengan sangat hebatnya.


"Assalamu'alaikum." Ucap pria diluar rumah lagi.


Aretta memberanikan diri mendekat pada pintu depan rumah.


"Ayah ?" Ucap Aretta dari dalam rumah yang masih belum membukakan pintu.


"Are, ini ayah sayaang. Tolong bukain pintunya." Ucap ayah meyakinkan.


Cekleek, . .


Tanpa berpikir panjang, Aretta membuka pintu. Ia langsung memeluk ayahnya sangat erat. Semenjak perselisihan tadi, Aretta memang tidak bisa tidur. Hatinya hancur memikirkan tentang kedua orang tuanya.


"Kenapa sayaaang ? Kok belum tidur jam segini ?" Ucap ayah membelai rambut anaknya.


"Are nungguin ayah pulang. . ." Ucap Aretta tersedu.


" Lho, kok nangis anak cantik ayah ? Nanti cantiknya ilang lho?" Ucap ayah mencoba menghibur.


Sebenarnya ayah sangat mengerti perasaan Aretta, namun ayah tidak mau menunjukkan kekhawatirannya. Ayah tidak mau putrinya sampai punya pikiran macam-macam terhadapnya.


"Are kangen ayah." Ucap Aretta masih memeluk ayahnya.


"Kan sekarang ayah udah disini, lebih baik sekarang kita tidur yu ? Nanti ayah ceritain tentang siput yang bisa menang lomba lari dari kancil." Ucap ayah lagi.


"Bener yah ?" Aretta mulai bersemangat.


"Iya, yuk kita ke kamar Are !" Ucap ayah mengajak putrinya.


Sementara didalam kamar yang lain


"Apa sebenarnya salahku ? Sampai kamu tega berbuat begini. Semua sudah kulakukan demi keluarga kita."


Ibu membatin sembari sesekali mengusap air yang jatuh dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Ibu masih memikirkan tentang nasib rumah tangganya, bagaimana mungkin suami yang ia banggakan, bisa menghianatinya.


Keesokan harinya.


"Bu, ayah berangkat dulu yaa. Assalamu'alaikum." Ucap ayah terburu-buru.


"Ga dianterin Aretta yah ? Kok pagi-pagi bener ?" Tanya ibu penasaran.


"Nggak usah bu, kasian Aretta kecapean. Lagian ayah ada apel hari ini. Jadi harus berangkat lebih pagi." Ucap ayah yang langsung bergegas pergi tanpa menunggu ibu menjawab salam.


"Nggak biasanya ayah berangkat jam segini, aneh. Apa ini hanya perasaanku saja ?"


Benak ibu yang mulai merasa aneh dengan tingkah suaminya. Tapi ibu berusaha tidak menaruh curiga. Ibu berharap, kejadian malam tadi benar-benar sebuah kesalah pahaman. Ibu mencoba memahami penjelasan dari suaminya.


"Bu, ayah mana ? Kok sudah nggak ada ?" Ucap Aretta yang sudah berseragam lengkap.


"Tadi ayah udah berangkat, Ree. Katanya mau ada apel, jadi harus berangkat pagi-pagi." Ucap ibu yang seperti biasa selalu sibuk dipagi hari, karena harus menyiapkan keperluan Aretta dan juga menata barang dagangannya.


"Kok ayah nggak bilang Are sih, kan Are bisa anterin. . . " Ucap Aretta mulai merajuk.


"Kata ayah, kasian sama anak cantiknya ini. Takut nanti kecapean." Ucap ibu sambil mengikat rambut Aretta.


"Ayah jahat ah, nggak bilang dulu ke Are." Ucap Aretta kesal.


Aretta tidak berkata apa-apa lagi, ia langsung melahap bubur ayam kesukaannya. Meski didalam hatinya ia sangat merasa kesal terhadap ayahnya.


"Awas aja ayah, kalau nanti ketemu. Mau Are cabutin kumisnya."


Aretta membatin.


Ayah Aretta memang sosok pria berkulit coklat, bertubuh tegap cenderung agak gemuk. Rambutnya yang sedikit keriting, serta berkumis tipis. Membuatnya cocok menggeluti pekerjaannya. Apalagi kalau bukan security. Meski ayah hanya memiliki ijazah sekolah dasar, namun pembawaannya yang tegas berani, membuat seorang komandan merekrutnya tanpa syarat.


Banyak memang para tetangga yang bertanya tentang bagaimana caranya bisa jadi security. Tapi ayah selalu menjawab, "Mungkin ini sudah menjadi rejekinya anak saya."


Waktu berlalu begitu cepat, pagi yang selalu sibuk bagi ibu, kini telah menjadi petang yang seharusnya bisa dinikmati untuk anggota keluarga, agar bisa bercengkrama.


Tapi tidak dengan Aretta dan ibunya yang hanya duduk di teras rumah, memandangi jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan.


Rumah Aretta memang terletak dipinggir jalan raya, makanya tidak heran jika dagangan ibu selalu ramai. Selain karena letaknya yang strategis, ibu juga membandrol dagangannya tidak terlalu mahal.


"Yang penting masih ada buat makan." Ucap ibu setiap kali ditanya tetangga tentang dagangannya yang selalu murah.

__ADS_1


Tint. . Tiiiiiinnnnt. . .


Suara klakson motor menyadarkan ibu dan Aretta dari lamunannya. Mereka terkejut ketika mengetahui orang yang mengendarai motor tersebut adalah orang yang sangat tidak asing. Tidak lain dan tidak bukan, itu adalah. . .


"Ayaaaahh. . ." Ucap Aretta setengah berlari menuju ayahnya.


""Hallo anak cantik ayah, kok belum tidur sih ?" Ucap ayah yang langsung menggendong Aretta.


"Belum laah, kan nungguin ayah." Jawab Aretta riang.


"Ini motor siapa yah ?" Tanya ibu penasaran.


"Motor kita lah, bu. . ." Jawab ayah lembut.


"Emang ayah punya uang ? Kok bisa beli motor ?" Tanya ibu menyelidik.


"Ayah dikasih inventaris sama komandan bu. Katanya, biar ayah nggak kecapean kalau harus berjalan kaki terus." Jawab ayah sambil menurunkan Aretta dari gendongannya dan duduk disebelah ibu.


"Are, tolong ambilkan minum. Ayah haus." Ucap Ayah sambil melepas sepatunya.


"Siap bos !" Ucap Aretta bersemangat.


"Bener yah, itu motor inventaris ?" Tanya ibu lagi setelah Aretta berlalu.


"Iya bu, nggak percayaan banget sih !" Jawab ayah.


"Kok ayah pulangnya telat ? Ini sudah lebih dua jam dari waktu kerja ayah ?" Tanya ibu semakin menyelidik.


"Kan ayah dipanggil dulu sama komandan bu. Ayah ditanyain, diajak ngobrol dulu. Sampai akhirnya ayah dikasih kepercayaan buat pake motor inventaris. Udah dong bu, jangan curigaan terus. Lagian ayah nggak mungkin macam-macam kok, terlebih lagi kita sudah punya Aretta. Bagi ayah, itu sudah lebih dari cukup." Ucap Ayah mencoba menjelaskan.


Ibu menghela napas. Ia mencoba meyakinkan dirinya dengan pernyataan suaminya. Meski sebenarnya, ibu masih sangat ragu. Namun demi Aretta, ibu mengesampingkan semua rasa curiganya itu.


"Air minum sudah dataaang." Ucap Aretta dengan membawa segelas air minum dan memberikannya pada ayah.


"Terimakasih, sayaaang." Ucap ayah meraih segelas air yang diberikan anaknya.


Tidak menunggu lama, ayah langsung meneguk air tersebut.


Glek, glek


Bahkan sampai terdengar ditelinga ibu dan Aretta. Itu Artinya, kalau seorang tersebut benar-benar mengalami kehausan.

__ADS_1


Malam semakin larut, sementara Aretta dan kedua orang tuanya masih bercengkrama di depan rumah. Banyak yang mereka obrolkan, mulai dari pekerjaan ayah, hasil berdagang ibu, sampai sekolahnya Aretta. Hingga Aretta tak terasa terlelap di pangkuan ayah.


Aretta memang terbiasa tidur dipangkuan ayah, alasannya tentu saja agar ayah menggendongnya menuju tempat tidur.


__ADS_2